Baznas

Petani HST Budidayakan Rotan Jernang, Serbuknya Dapat Terjual Rp3 Juta per Kilogram

  • Bagikan

BARABAI – Kepala Resort Pengelolaan Hutan (KRPH) Batangalai, KKPH Hulu Sungai, Ridhani dan Kasi Perlindungan Hutan serta Bhakti Rimbawan besama Kepala BPDAS HL Barito, Dr.Zainal dan staf mendatangi petani rotan Jernang, Kosim, di Desa Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah

Tujuan kunjungan KRPH, KKPH, Bhakti Rimbawan beserta Kepala BPDAS HL Barito tersebut, yakni ingin menyaksikan secara langsung lahan pembudidayaan rotan jernang, Kosim, yang  luasnya sekitar 7 ha.

Lahan pembudidayaan rotan jernang tersebut mampu menghasilkan biji rotan yang bernilai ekonomis tinggi. Biji rotan hasil budidaya itu sudah dikirim sampai ke Riau. Tidak hanya itu, rotan yang sudah dalam bentuk serbuk memiliki nilai ekonomis lebih tinggi, dibanding dalam bentuk biji. Nilai jual serbuk rotan berkisar antara Rp1 juta – Rp3 juta per kilogram.

Tahun 2018 ini, Dinas Kehutanan Provinsi melalui anggaran APBN di BPDAS HL berencana memberikan kegiatan Kebun Bibit Rakyat (KBR) untuk pengembangan atau perluasan budidaya rotan tersebut. Rencana pengembangan atau penanaman untuk perluasan dari BPDAS HL Barito tersebut tetap berlokasi di Desa Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Sementara itu, di tempat dan waktu yang berbeda, untuk mengembangkan pohon jenis meranti sebagai jenis asli kalimantan, Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan serta BPHP Wil IX dan BPDAS HL Barito melakukan kunjungan kerja ke Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem hutan Dipterokarpa Samarinda, Kalimantan Timur, belum lama tadi.

Kunjungan ini bertujuan mengumpulkan bahan dan data tentang perilaku masing-masing jenis bibit pada setiap kategori (jenis bibit dan jenis tanah) sebelum ditanam.

Rencananya pengembangan jenis meranti ini akan d terapkan pada Miniatur Hutan Hujan Tropika di areal perkantoran Pemprov Kalsel, Taman Hutan Raya Sultan Adam dan juga akan di terapkan pada areal Pembanguanan Model Unit Manajemen Hutan Meranti (PMUHM) di Kota Baru, pasca penyerahanan lokasi areal tersebut dari Kementrian LHK oleh Pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan.

Dengan melaui penerapan dan perlakuan seperti yang sudah dilaksanakan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa Samarinda diharapkan jenis tanaman meranti di Kalimantan Selatan dapat tetap lestari.(sumber dishut provinsi kalsel)

  • Bagikan