Petani Cabai Sebagai Penggerak Roda Ekonomi Balangan

Panen cabai perdana kelompok tani Pelita Sanggam Mandiri yang menjadi percontohan menggunakan Pupuk Organik Hayati, dilaksanakan melalui program CSR PT Adaro Indonesia (foto: adaro/koranbanjar.net)

PARINGIN, KORANBANJAR.NET – Para petani cabai di Kabupaten Balangan, merupakan salah satu penggerak roda ekonomi daerah, ujar Bupati setempat, Ansharuddin.

Hal tersebut disampaikan Bupati dalam sambutannya yang dibacakan Asisten 2 Setda Balangan, Husaini, saat menghadiri Temu Lapang Kegiatan Demplot Cabe Perbandingan Pupuk Organik Hayati (POH) Byonik Starmik dengan Pupuk Anorganik NPK Mutiara, Rabu, ( 20/2 ) lalu, di Desa Lingsir.

“Cabai merupakan komoditas yang tahan terhadap gejolak krisis. Demplot ini, dengan segala tahapannya, bisa menjadi wahana belajar sekaligus tempat praktek bagi para petani maupun para penyuluh dan kedepannya, dapat diterapkan kepada kelompok tani lainnya diseluruh Balangan.” Ujarnya.

Kegiatan yang didukung Corporate Social Responsibility (CSR) PT Adaro Indonesia tersebut, merupakan percobaan penanaman cabe dengan menggunakan pupuk yang diolah menggunakan starter organik, pupuk anorganik, campuran anorganik dan murni pupuk organik.

Demplot cabai milik kelompok Pelita Sanggam Mandiri menjadi percontohan cabai yang ditanam menggunakan POH, yaitu jenis pupuk yang digunakan PT Adaro Indonesia dalam program reklamasi, bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sejak 2017 lalu, melalui program CSR, Adaro menginisiasi penggunaan POH untuk masyarakat melalui pelatihan kepada beberapa kelompok tani dan pertama kali digunakan di demplot cabai Kelompok Pelita Sanggam pada 2018 lalu.

Menurut Ketua Kelompok Pelita Sanggam Mandiri, Budi Mulya, penggunaan POH pada tanaman cabai, memang sangat terasa perbedaannya dengan penggunaan pupuk kimia.

“Lebih rentan terhadap penyakit, perawatan lebih mudah serta lebih murah. Menggunakan POH bisa mengurangi biaya hingga 40 persen dibanding pupuk kimia. Kualitas juga meningkat,” ujarnya.

Dengan pupuk kimia, dalam 1 Kg terdiri dari 50 buah. Sementara dengan POH, hanya 42 buah. Artinya, lebih besar dan gemuk.

Sementara itu, CSR Section Head PT Adaro Indonesia, Yuri Budhi Sujalmi, mengatakan, program tersebut merupakan upaya perusahaan untuk mengembangkan konsep pertanian organik kepada masyarakat disekitar wilayah operasional tambang.

“Pupuk organik lebih mudah digunakan dan tanaman menjadi lebih sehat untuk dikonsumsi,” katanya.

Untuk program tersebut, PT Adaro Indonesia telah menggelontorkan dana CSR senilai Rp150 juta, mencakup pelatihan, persiapan lahan, pupuk dan sarana pendukung pertanian. (rils/ndi)

Rusmanadi

Read Previous

SMK-PP Negeri Banjarbaru Gelar USP Siswa Kelas XII

Read Next

Adit Gantung Diri Dengan Tali Jemuran Hingga Meregang Nyawa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *