Petahana Dan Sekian Penantangnya Bicara Optimisme Perebutan Kursi Wali Kota

oleh -134 views
Ilustrasi wali kota.

BANJARBARU, koranbanjar.net – Gelombang persaingan memperebutkan kursi Wali Kota dan Wakil Wali (Wawali) Kota di Banjarbaru pada Pilwali 2020 mendatang semakin terlihat. Nama-nama bakal calon kepala daerah (bacada) pun kian bermunculan, baik yang sudah mendaftarkan diri ke partai maupun yang saat ini sedang menyiapkan diri menuju partai.

Lantas apa yang membuat mereka yakin maju dalam Pilwali Banjarbaru 2020?

Nadjmi Adhani (kiri) bersama Darmawan Jaya Setiawan. (foto: yuli kusuma/koranbanjar.net)

Petahana Nadjmi Adhani mengatakan, keinginannya kembali maju pada Pilwali nanti karena dilatarbelakangi komitmen bersama Darmawan Jaya Setiawan (Wawali Kota Banjarbaru) untuk menuntaskan pencapaian kinerja mereka di periode masa jabatan yang kedua.

“Pencapaian kinerja dan target yang ingin kami capai masih belum selesai di periode saat ini. Karenanya saya tetap bersama Jaya untuk menuntaskan ini dalam dua periode,” katanya kepada koranbanjar.net, kemarin.

Nadjmi yang pada Pilwali sebelumnya terpilih sebagai Wali Kota Banjarbaru melalui jalur non partai atau independent itu, berniat akan mendatangi seluruh partai politik yang menerima pendaftaran bacada secara terbuka.

Sementara di luar partai, Nadjmi mengaku telah mendapat banyak dukungan dari keluarga dan kerabat. “Kami juga tentu harus bisa meyakinkan masyarakat agar mendukung Nadjmi dan Jaya dua periode,” ucapnya.

Namun keinginan Nadjmi-Jaya mempertahankan kursi kepemimpinan tidaklah mudah. Agar bisa mendapat dukungan dari PDIP saja, Nadjmi bersama Jaya harus bersaing dengan empat penantangnya. Salah satunya Edy Saifuddin.

Baca juga: PDIP Banjarbaru ‘Bungkus’ 6 Nama Bacada

Sekjen Parlemen Jalanan itu, usai mendaftar sebagai bacada di DPC PDIP Banjarbaru, kini terlihat makin serius mempersiapkan diri. Bahkan ia berencana kembali mendaftarkan diri ke Partai Nasdem yang saat ini tengah membuka pendaftaran bacada secara online.

Edy Saifuddin. (foto: yuli kusuma/koranbanjar.net)

“Saya paling percaya dengan dua partai (PDIP dan Nasdem) itu. Karena menurut saya partainya masih mau melihat orang kecil seperti saya. Mereka juga tidak memberlakukan syarat mahar yang harus dibayar calon,” ujar Edy.

Meski telah menaruh kepercayaan pada PDIP dan Nasdem, namun Edy tetap berniat akan mendaftar ke partai lain. “Partai lain yang membuka pendaftaran tetap akan saya coba, kecuali Golkar dan PPP. Saya kurang minat di sana,” sebutnya.

Selain di jalur partai, ternyata Edy saat ini juga tengah sibuk mengumpulkan KTP masyarakat untuk persyaratan bakal calon wali kota di jalur non partai. “Jadi apabila kita didukung partai, kita akan maju lewat partai. Tapi kalau tidak dapat dukungan partai maka kita akan maju di jalur independent,” bebernya.

Dia mengutarakan, tujuannya maju dalam Pilwali berangkat dari keadaan demokrasi yang menurutnya saat ini sedang berlangsung buruk dan harus segera diperbaiki.

“Politik praktis yang terjadi saat ini yaitu masyarakat sudah melihat politik uang. Oleh sebab itu saya turun mengikuti proses Pilkada demi memperjuangkan demokrasi dan menentang politik uang,” tuturnya.

Sebagai bacada yang menyatakan tak ingin bermain politik uang, Edy optimis bisa maju pada Pilwali nanti dengan menerapkan strategi dukungan dari sejumlah komunitas yang dinaungi Parlemen Jalanan.

Sejumlah komunitas yang langsung berada di bawah binaan Edy Saifuddin itu nantinya akan membentuk gerakan Tim Anti Politik Uang (TAPU), yang bertugas mengawasi dan mengawal langsung proses Pilwali 2020 dari kemungkinan adanya praktik politik uang. Dalam melaksanakan tugasnya, gerakan TAPU berkoordinasi dengan Bawaslu, kepolisian, kejaksaan serta pengadilan.

“Jadi mereka ditugaskan bukan untuk pencitraan saya. Kemungkinannya nanti saya akan menjadi satu-satunya paslon yang membentuk tim sebanyak lima ratus relawan dan akan saya gerakan selama dua bulan,” ungkapnya.

Dia mengaku timnya sudah siap sejak dua bulan lalu. Saat ini jumlah mereka yang terekrut sudah mencapai 317 orang. Menariknya, apabila Edy tidak terplih sebagai bacada, timnya akan tetap berjalan mengawasi seluruh tahapan Pilwali.

“Tujuan saya bukan mencari kemenangan. Keinginan saya itu sederhana saja, saya ingin Banjarbaru bersih. Bayangkan saja jika nanti saya diamanahkan memimpin Banjarbaru, pasti musuh saya banyak, terutama DPRD dan SKPD. Sebab, saya tidak segan dengan siapapun. Jika ada yang tidak beres bekerja atau korupsi, saya akan jadi ‘Ahoknya’ Banjarbaru,” tandasnya.

Lain Edy Saifuddin, lain lagi bakal pasangan calon kepala daerah Aditya Mufti Ariffin dan AR Iwansyah. Pasangan bakal calon dari koalisi PPP dan Golkar itu saat ini tengah gencar bersosialisai dan mengenalkan diri secara langsung maupun melalui baliho, agar keikutsertaan mereka dalam Pilwali 2020 diketahui dan mendapat dukungan lebih banyak orang.

AR Iwansyah. (foto: yuli kusuma/koranbanjar.net)

“Saya bersama Aditya Mufti Ariffin optimis sekali,” ucap AR Iwansyah yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua DPRD Banjarbaru itu.

Iwansyah yang kembali terpilih sebagai anggota DPRD Banjarbaru periode 2019-2024 berharap bisa cuti sebagai anggota dewan saat tahapan Pilwali 2020 mendatang dimulai.

“Sebagaimana diketahui, anggota DPR, ASN, TNI maupun Polri, harus melepas jabatannya apabila ingin ikut Pemilu. Tapi saya berharap pemerintah bisa adil. Kemarin tahun 2010 bisa cuti, lalu aturan di 2014 harus mundur. Tahun 2019 ini mudahan bisa cuti seperti 2010,” harap Ketua DPD Golkar Banjarbaru itu.

Selain dari kalangan politisi, persaingan perebutan kursi nomor satu di Kota Banjarbaru menjadi semakin menarik karena turut juga diikuti penantang dari dunia kesehatan. Dia adalah Abdul Halim yang berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam.

Belakangan ini, pria kelahiran Barabai itu semakin diperhitungkan setelah dirinya mendaftar sebagai bacada pada Pilwali Banjarbaru 2020 di PKS dan Nasdem.

Baca juga: Dokter Abdul Halim Resmi Lamar PKS

Abdul Halim. (foto: yuli kusuma/koranbanjar.net)

Ketika diwawancarai koranbanjar.net, simpatisan Prabowo-Sandi pada Pilpres lalu itu mengatakan, keikutsertaannya sebagai bakal calon ataupun calon kepala daerah di antara kandidat lainnya dapat memberikan alternatif atau pilihan bagi masyarakat.

“Kita akan berikan alternatif lain karena sementara ini hanya ada dua pasangan kandidat yang kuat. Semoga alternatif ini dapat menjadi pemenangnya nanti,” katanya.

Meski berlatar belakang birokrat yang berprofesi sebagai dokter, Halim optimis mampu bersaing dengan calon lainnya. “Banyak masukan dari teman memicu semangat saya. Insya Allah kita mampu jadi pilihan masyarakat,” pungkasnya.

Dari catatan koranbanjar.net, sejauh ini sudah ada tujuh nama bakal calon yang telah mendaftarkan diri ke partai. Tak mudah menemui mereka. Itu sebabnya, dari tujuh nama tersebut hanya empat bakal calon yang berhasil ditemui awak redaksi untuk diwawancara.

Tujuh nama bakal calon itu adalah Aditya Mufti dan AR Iwansyah, Nadjmi Adhani dan Darmawan Jaya Setiawan. Edy Saifuddin (belum ada pasangan calon), Rizqillah Suhaili (belum ada pasangan calon).

Keenam nama tersebut mendaftarkan pencalonannya di DPC PDIP Banjarbaru pada September lalu. Sedangkan Abdul Halim yang hingga kini juga belum mempunyai pasangan calon telah mendaftar di PKS dan Nasdem.

Baca lagi: Jika Gerindra ke Nadjmi-Jaya, Apakah PDIP Dukung Aditya-Iwansyah?

Selain tujuh nama itu, sebelumnya sempat muncul nama Masyraniansyah dan Pengayom Bayu Adjie. Namun Masyraniansyah yang menjabat sebagai Sekdakab Tapin, dan Bayu Adjie yang menjabat Sekcam Landasan Ulin itu kini belum terdengar lagi kabar pencalonannya. Padahal dua nama tersebut sebelumnya sempat mengambil formulir pendaftaran bakal calon kepala daerah di PDIP Banjarbaru. (ykw/dny)

Jasa Karangan Bunga di Kalimantan Selatan