Baznas

Perjuangan Pemuda Asal Mandiangin Barat Menghadapi Tumor Ganas di Dada

  • Bagikan

Seorang pemuda asal Desa Mandingain Barat, Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar, Taufik Gazali (21) sudah cukup lama menghadapi tumor ganas yang disebut dalam istilah medis tumor thoraz di bagan dada sebelah kiri. Kian hari, tumor tersebut semakin membesar. Bagaimana Taufik menjalani hari-harinya dengan tumor yang bersarang di dada, berikut laporannya.

MARTAPURA, koranbanjar.net – Ibu kandung dari Taufik Gazali, Rusmawati (45) ketika ditemui koranbanjar.net, pada Senin (19/7/2021) di Mandiangin Barat RT 01 mengaku pasrah dengan keadaaan yang dihadapi putranya. Dia hanya berharap dan berdoa kepada Allah, semoga ada pihak yang dapat membantu pengobatan anaknya.

Rusmawati menjaga Taufik dengan kasih sayang dan sabar, karena melihat anaknya tidak berdaya. Diceritakan, awalnya Taufik merasakan sakit di pundak ketika pulang bekerja.

“Dulu waktu itu, dia pulang bekerja, kemudian merasakan kesakitan di pundak, lalu minta urut (pijat), setelah itu saya urut ke esokannya ke tukang urut, tapi masih sakit. Dikira benjolan biasa, karena bengkak terus, kenapa makin membesar makin sakit diperiksa ke rumah sakit, ternyata terkena tumor thorax,” kisah Rusmawati.

Taufik hanya bisa terbaring di kasur karena tidak bisa berjalan. “Sudah 20 hari ini tidak bisa berjalan, lumpuh. Mungkin karena tumornya semakin membesar, dulu waktu tumornya masih kecil masih bisa berjalan ke sana-kemari, tapi sekarang sudah lumpuh, makan disuapi, kencing menggunakan ventilator, BAB menggunakan popok,” ucapnya

Rusmawati juga sempat mengobati ke RSUD Ulin Banjarmasin .”Kemarin di Rumah Sakit Ulin 5 bulan. Pihak Rumah Sakit Ulin tidak bisa mengoperasi, karena alatnya tidak lengkap dan disuruh ke Surabaya. Karena di sana ada lasernya, kalau di operasi di Rumah Sakit Ulin, nanti tambah besar, karena alatnya tidak lengkap. Jadi kami bawa pulang dan dirawat di rumah, kalau mau ke Surabaya kami tidak ada biaya,” ucapnya.

Dibeberkan, Taufik sering mengalami sesak napas dan harus dibantu menggunakan tabung oksigen.

“Kemarin kami membeli tabung oksigen Rp1.050.000 kalau isi ulangnya Rp105.000, kadang kalau sering mendadak sesak napas, tabung oksigen 3 hari habis. Kadang ada dari tetangga membantu memberi uang Rp5.000 dan ada juga dari donatur. Kalau makan juga paling 3 sendok terus udah, kalau kebanyakan makan dan gerak pun nanti tiba-tiba sesak napas, kalau malam juga sering sakit di pundaknya, katanya perih sakit di bagian tumor,” tuturnya.

Ayah Taufik sudah lama meninggal dunia, ketika Taufik duduk di bangku kelas 4 SD. Kala itu, Rusmawati sedang mengandung.

“Kemarin sempat sesak napas dan hanya bisa bernapas sampai di tenggorokan, namun alhamdulillah bisa dilewati dan Allah masih memberikan umur,” katanya.

Sebelum sakit, Taufik sempat belajar usaha, kita tidak tahu namanya musibah datang kapan saja kita hanya bisa pasrah saja berharap ada keajaiban. Tangannya pun tidak terlalu bisa banyak gerak, karena kalau banyak gerak juga nanti sesak napas,” ucapnya.

Rusmawati berharap mendapat bantuan agar bisa mengobati anaknya dan sembuh dari tumor dan bisa berjalan-jalan seperti semula agar anaknya tidak merasakan kesakitan lagi.(mj/36/sir)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *