Baznas

Peringatan Puncak Hari Pangan Sedunia (HPS) Ke-38 Menuai Pro Dan Kontra Dari Para Petani

  • Bagikan

CERBON, koranbanjar.net – Rangkaian acara puncak Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 yang akan di adakan pada Oktober 2018 nanti di Desa Sungai Rasau Kecamatan Cerbon Kabupaten Barito Kuala (Batola) mendapat kendala pro dan kontra dari para masyarakat petani di Desa Sungai Rasau.

Hal itu dinyatakan langsung oleh para petani Desa Sungai Rasau saat Wakil Bupati Batola, Rahmadian Noor, bersama rombongan melakukan pertemuan dengan masyarakat petani di Desa Sungai Rasau, Rabu (28/2).

Dalam pertemuan yang membahas kesediaan petani untuk menyediakan lahan guna kebutuhan pertanian di lahan optimasi sub optimal dalam rangka acara puncak Peringatan HPS ke-38 itu, sebagian petani menyatakan bersedia menyediakan lahan apabila Pemkab Batola memberikan konvensasi saat itu juga.

Padahal selaku Wakil Bupati Batola, Rahmadi sangat mengharapkan kesediaan seluruh petani Desa Sungai Rasau mengikuti keinginan pemerintah terhadap keberadaan lahannya.

Karena menurut wabup, program yang diberikan itu justru untuk kebaikan dan kesejahteraan petani sendiri.

Rahmadi menjelaskan, banyak keuntungan yang bisa diraih petani nantinya jika program bisa diterapkan. Diantaranya dapat memperpendek jarak panen menjadi 3 kali setahun dengan sistem mekanis tanpa harus bersusah-susah menggunakan tenaga manual.

Dilanjutkan Rahmadi, dengan pola tanam menggunakan sistem optimasi sub optimal lahan rawa, pemerintah akan mengatur tata kelola airnya melalui pembangunan saluran irigasi, pintu air, pompa air dan lainnya. Sehingga waktu tanam tak lagi tergantung pada musim hujan. Selain itu, menurut Rahmadi, petani juga akan mendapatkan obat-obatan dan alat-alat pertanian mulai handtracktor, combine harvester, alat penggiling padi, alat pengering, dan lain-lain.

Bahkan, ujar Rahmadi, petani akan dikawal oleh pemerintah pusat mulai dari pengolahan tanam, menanam, sampai pasca panen. “Nanti para petani juga diajari mengatur air supaya ada keberlangsungan,” ujarnya.

Namun semua penjelasan yang disampaikan oleh wabup masih belum sepenuhnya bisa diyakini oleh para petani. Padahal selain wabup, Sekdakab Batola Supriyono dan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Zulkifli Yadi Noor juga turut memberikan penjelasan dalam pertemuan itu.

Menanggapi ketidakseragaman itu, Rahmadi meminta Kades Sungai Rasau, Bahrin, untuk mendata siapa saja yang bersedia maupun petani yang tidak bersedia agar kemudian bisa disimpulkan langkah yang akan dilakukan pemkab nantinya. (dny)

  • Bagikan