Pengamat; Banyak Elit Politik yang Takut Menyatakan Maju pada Pilgub

Ilustrasi kursi gubernur. (foto ist)
Ilustrasi kursi gubernur. (foto ist)

BANJARBARU, koranbanjar.net – Situasi politik di Banua tampaknya mulai memanas, ditambah dengan munculnya beberapa nama untuk kandidat yang akan maju dalam Pilkada 2020 mendatang.

Pengamat Politik Dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Fahriannoor mengatakan, elit politik saat ini terkesan hanya sebatas melemparkan wacana komunikasi politik saja. Elit politik sengaja membangun wacana karena tidak berani secara terbuka menyatakan akan mencalonkan diri.

“Jadi wacana itu sengaja dikonstruksi oleh elit-elit politik karena mereka tidak berani secara terbuka dan terang-terangan untuk mencalonkan diri dan mereka tidak berani (takut,red) berkonfrontasi, pola-pola demikian merupakan bentuk dari tanda kutip politik malu-malu sembari menunggu dan menunggu,” ujarnya kepada koranbanjar.net melalui via telepon whatsapp pukul 11.00 wita, Selasa (25/6/2019).

“Nah, saat mereka merasa mendapat dukungan cukup besar, akhirnya mereka akan menentukan pilihan-pilihan itu. Melihat ke belakang atau berkaca pada pilkada gubernur sebelum-sebelumnya memang selalu akan terjadi fenomena politik malu-malu. Ketika giliran ditanya oleh media, tidak ada kejelasan dari elit politik yang bersangkutan,” tandas dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat.

Disinggung mengenai sikap Rudy Resnawan yang terkesan malu-malu ditanya Pilgub mendatang, Pengamat Politik Dosen Fisip ULM Fahriannor berpendapat hal itu merupakan sikap yang abstrak.

“Jika Rudy Resnawan menyatakan dengan tegas akan mencalonkan diri, maka akan dihadapkan pada persoalan etis atau tidak, sehingga Rudy Resnawan akhirnya hanya berkomentar minta didoakan saja, kalimat  doakan saja memang terkesan bahwa beliau berharap dari rakyat. Kemungkinan-kemungkinan keinginan mencalonkan diri semacam itu ada, tetapi masih menunggu sehingga yang dimunculkan hanya bersifat abstrak. Kita sudah melihat fenomena semacam itu pada Pilkada 2015,” ungkapnya

Ia juga menjelaskan bahasa politiknya, sikap tersebut merupakan  bagian dari etika komunikasi politik dan kemungkinan besar, jika Rudy Resnawan mencalonkan diri maka akan melalui jalur independen karena kemungkinan besar akan terulang kembali  seperti pada Pilkada 2015 yakni partai-partai mendukung Sahbirin Noor sebagai calon gubernur. “Kemudian dalam hal Rudy Resnawan untuk terpilih, hal itu kecil kemungkinan terjadi, karena ia tidak terlalu membumi dan basis politiknya hanya di Banjarbaru,” pungkasnya.(ykw/sir)

BeritaTerkait