BNN

Pengalaman Unik Mantri Khitan Layani Pasien, Dapat Order Untuk Anak yang Masih di Kandungan

  • Bagikan
Mantri Keseharan, M Arsyad (berkopiah haji) saat melayani khitan untuk seorang anak di Martapura. (foto: koranbanjar.net)
Mantri Keseharan, M Arsyad (berkopiah haji) saat melayani khitan untuk seorang anak di Martapura. (foto: koranbanjar.net)

Petugas kesehatan selevel perawat yang sudah berpengalaman di Kalimantan Selatan biasa disebut mantri. Selain bekerja sebagai perawat di rumah sakit atau puskesmas, seorang mantri juga biasa didatangi atau mendatangi pasien yang mengalami sakit ringan. Termasuk juga dimintai tolong untuk mengkhitan pasien yang kebanyakan anak-anak.

MARTAPURA, koranbanjar.net – Pengalaman unik dialami seorang mantan perawat RSUD Ratu Zalekha Martapura, Kabupaten Banjar, Kalsel yang kini sudah pensiun dan disebut mantri. Tak hanya membantu orang sakit, tetapi dia juga menerima order untuk pasien yang ingin dikhitan. Bahkan dia pernah menerima order khitanan dari seorang ibu, untuk anaknya yang masih dalam kandungan.

Petugas kesehatan atau mantri ini bernama M Arsyad, tinggal di Jalan Batuah, Gang Muray, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar. Meski sudah pensiun dari dinas di RSUD Ratu Zalekha Martapura, dia masih aktif membantu permintaan khitanan.

BACA:  Sepuluh Daerah di Indonesia Berikan Keringanan Bayar Pajak Kendaraan Berrmotor, Berikut Daftarnya

“Sekarang banyak orang yang mengkhitan anaknya yang masih bayi. Bahkan ada yang baru berusia 40 hari sudah minta dikhitan. Mungkin itu lebih mudah dibanding anak yang mulai besar dan mengerti. Kalau anak yang sudah SD, hari ini mau disunat (khitan), besok bisa berubah pikiran menjadi tidak mau. Kalau bayi kan, tergantung orang tuanya aja lagi yang menjaga,” kata Arsyad.

Tidak hanya itu, pengalaman unik yang dialami Arsyad, dia pernah menerima order dari seorang ibu yang anaknya justru masih dalam kandungan. “Saya pernah diminta mengkhitankan seorang ibu, kemudian saya tanya, anaknya yang mana, ternyata anaknya masih dalam kandungan,” kenang dia.

BACA:  Jompo Sebatang Kara, BAB Harus "Merangkak" Ke Sungai Tabalong

Pengalaman lain yang pernah dialami, Arsyad sering mengkhitan orang-orang yang sudah remaja hingga dewasa. Bahkan adapula, orang dewasa yang bukan muslim, melainkan non muslim yang jutru tidak diwajibkan agamanya untuk menjalani khitan.

“Dulu, semasa Guru Sekumpul (Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani) masih hidup, saya juga sering diminta mengkhitankan orang yang sudah dewasa. Biasanya, semisal hari ini ada orang yang masuk Islam, keesokan harinya pasti saya diminta mengkhitankan,” jelas dia.

Dia juga pernah menerima order mengkhitankan orang non muslim. “Waktu itu, orang yang minta disunat (khitan) bukan muslim, cuman dia mau menikah dengan orang Islam. Karena itulah dia minta disunat,” tutupnya.(koranbanjar.net)

 

(Visited 10 times, 1 visits today)
  • Bagikan

(Visited 10 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *