oleh

Pendulang Intan Cempaka; Seminggu Dapat Rp 50 Ribu (I)

DENGAN lamban seorang lelaki berumur itu menghidupkan sepeda motornya untuk berangkat ke lokasi pendulangan intan, di Kampung KB, Kawasan Wisata Intan, Pumpung, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Sandy, Banjarbaru

Lelaki tua itu berangkat menuju lokasi pendulangan Intan yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Saya pun mengikutinya perlahan di belakang.

“Mang Aman” ucap seorang warga yang kami lewati di jalan. Lelaki tua paruh baya itu bernama Aman atau Mang Aman, begitu warga setempat sering menyapanya.

Tidak lama kemudian, kami pun sampai di lokasi pendulangan Intan yang kerap saya lihat di beberapa sosial media sebelumnya.

Di sana saya menemui, tumpukan batu-batu kecil yang menggunung seperti bukit anak.”Sudah sampai ding,” kata Mang Aman kepada saya. Saya pun memarkir kendaraan saya dan di dekat motor mang Aman, yang tidak jauh dengan tumpukan batu bekas pendulangan Intan itu.

Sambil jalan dari lokasi kendaraan menuju tumpukan batu-batu itu, Aman bercerita, katanya dirinya asli warga Cempaka. Ia mengisahkan, dirinya menggeluti pekerjaan sebagai pendulang Intan ini sudah hampir 35 tahun.

“Dari umur ulun (saya) 15 tahun, sampai parak 40 ngini (hingga kurang lebih 40 tahun ini. Red”),” ujarnya mengisahkan.

Lalu ia mulai mengambil linggangan (alat untuk mendulang Intan) yang mirip seperti topi pada jaman dahulu itu. Ia pun mulai mengambil tumpukan pasir atau batu-batu kerikil yang ada di pinggiran danau bekas lubang galian tambang Intan itu, dan memasukkannya ke dalam linggangan.

Diaduknya batu kerikil yang ada dalam lnggangan itu dengan memutar linggangannya di dalam air danau yang tidak begitu dalam. Lama ia memutar linggangan itu, namun tidak jua ia temui butiran Intan permata yang ia cari.

Saya hanya melihatnya sambil berbincang dengannya . Entah pandiran (perbincangan) apa yang kami bicarakan. “Kena mun beisi bini atau laki atau anak, jangan sampai gawian mendulang Intan kaini (nanti kalau punya istri atau suami atau anak, jangan sampai kerjaannya mendulang seperti ini. Red”),” katanya mengingatkan sambil tertawa ringan. “Inggih” jawabku.

“Ini proses apa mang?” Selidikku. “Ini ngarannya (namanya) memayai (melinggang atau proses akhir),” jawabnya sambil ingin batuk. Maklum, ia sudah mulai terlihat tidak terlalu sehat, mungkin karena usia atau memang pekerjaannya yang sangat berat.

Kata Aman, usaha mendulang Intan di tempatnya bekerja itu tidak bisa menjamin. Karena memang tidak bisa ditebak, ia akan dapat butiran Intan atau tidak. Hampir 3 jam, Aman memutar-mutar alat linggangan tersebut, belum juga ia temukan sebutir pun Intan yang ia cari.

Kami pun masih berbincang. “Bahanu saminggu tu dapat lima puluh rubu. Yah kada pasti pang (kadang satu minggu dapat Rp50 ribu. Yah, tidak pasti juga. Red),” ia mengisahkan pendapatannya. Jika dikalikan, Rp50 ribu dalam seminggu, berarti Aman mengantongi uang Rp200 ribu dalam sebulan. Sungguh miris hati saya mendengarnya.

Dalam perbincangan. “Nah kaini pang nah Intannya (seperti ini Intan yang dicari. Red,”) ujar lnya lagi sambil menunjukkan butiran Intan kecil kepada saya. Saya pun senang melihat mang Aman mendapatkan apa yang ia cari.

Diletakkannya di bungkusan rokoknya Intan kecil itu. “Berapa berat dan harganya mang kalau dijual?” Tanya saya. (Bersambung)

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: