Nassoha Pasrah, Kelenjar Getah Bening Menggerogoti Dirinya

Nassoha, penderita kelenjar getah bening
Nassoha, penderita kelenjar getah bening

BANJAR, koranbanjar.net – Sungguh miris kondisi yang dialami Nassoha, seorang penjual pentol bakar asal Desa Jabuk di Danau Salak seberang Rt 05 Rw 03, Kecamatan Mataraman.  Satu tahun terakhir ini dia telah dinyatakan mengidap penyakit kelenjar getah bening stadium 4, sementara ekonomi keluarga tidak memungkinkan dirinya untuk berobat. Akhirnya, dia hanya bisa pasrah menanti penyakit tersebut semakin parah.

Nassoha memiliki istri dan 2 anak. Satu sudah remaja yang masih kuliah, duduk di semester 2 sambil kerja menjaga toko, sedangkan seorang lainnya masih kecil berusia 7 tahun.

Menurut putrinya, Siti Rahmaniah, ayahnya mengidap penyakit kangker kelenjar getah bening di tenggorakan.”Ayah seorang penjual pentol bakar di Jabuk, beliau terkena penyakit ini sudah 1 tahun lebih dan mulai membesar  sejak1 bulan 15 hari yang lalu ketika diperiksa di rumah sakit Ratu Zalekha, ketika diperiksa sudah mencapai stadium empat,” ujarnya.

Untuk meringankan beban orangtuanya, dia sambil kerja menjaga toko di Mataraman, sekaligus meringankan biaya berobat ayahnya. “Beliau saat ini merasakan sakit yang parah, dan dirawat inap rumah sakit Ratu Zaleha, Martapura,” ungkapnya.

Akan tetapi, lanjutnya, biaya yang dibutuhkan sangat mahal, sedangkan menggunakan fasilitas pemerintah sudah tidak bisa. Ayahnya juga sempat dilarikan ke RSUD Ulin Banjarmasin, namun dirujuk kembali ke RS  Ratu Zalekha, karena dinilai masih belum parah dan masih bisa berdiri

Sekarang Nassoha masih merasakan sakit yang begitu luar biasa. Karena persoalan biaya, sehingga pengobatan belum bisa dilanjutkan ke tahap berkiutnya. “Sekarang beliau masih diopname di RSUD Ratu Zalekha Martapura,” paparnya.

Sementara itu, menurut Marini, Mahasiswa yang tergabung dalam FKMKB melakukan survei kekediaman Nassoha menyebutkan, kondisi rumah Nassoha terbilang kecil, dan dia berasal dari keluarga dengan ekonomi di bawah standar masyarakat pada umumnya. Penghasilannya antara Rp35-50 ribu perhari dan itu pun kurang untuk memberikan nafkah keluarganya. Dia sangat memerlukan uluran tangan dari orang sekitarnya untuk membantu dalam pengobatan. (mj-22/sir)

BeritaTerkait