Nasib Pedangang Buah di Pasar Terapung, Berhenti Jualan Karena Kebun Terendam

  • Bagikan
PEDAGANG PASAR TERAPUNG- Ghalbiah atau Acil Igay adalah satu dari sekian orang pedagang Pasar Terapung Lokbaintan yang kini tidak bisa berjualan lagi. (foto:nayan?koranbanjar.net)

Mendengar Pasar Terapung di Lokbaintan, Kecamatan Sungai Tabuk, mungkin tergambar dalam benak ramainya para pedagang berseliweran di Sungai Martapura, tengah menjajakan berbagai kebutuhan. Namun setelah banjir melanda sebagian besar wilayah tersebut, tentu dapat dibayangkan bagaimana nasib mereka sekarang? Nah, Galbiah adalah salah seorang pedagang buah yang sering berjualan di Pasar Terapung. Setelah banjir melanda wilayah tersebut, terpaksa dia berhenti jualan, karena kebun buah untuk dagangannya habis terendam banjir.

SUNGAI TABUK, Nayansyah

Ekonomi sebagian besar masyarakat Desa Lokbaintan dan desa sekitarnya di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, kini sangat memprihatinkan. Musibah yang datang bertubi-tubi, mulai dari pandemi Covid-19 hingga banjir membuat sebagian masyarakat di sana kehilangan pekerjaan.

Termasuk ekonomi pedagang yang kerap berjualan di Pasar Terapung Lokbaintan. Biasanya, tiap subuh menjelang pagi Minggu, kawasan Agro Wisata Pasar Terapung ramai dengan pedagang menggunakan perahu dan pengunjung wisatawan domestik maupun asing.

Setelah banjir melanda, Pasar Terapung agak sepi dari biasanya. Karena banyak pedagang yang tidak bisa berjualan. Alhasil, beberapa di antaranya berubah profesi agar tetap bisa bertahan hidup.

Seorang pedagang buah di Pasar Terapung, Galbiah atau biasa disebut Acil Igay asal Desa Sungai Lenge RT 03, Jumat, (26/02/2021) pukul 15.22.wita kepada koranbanjar.net menceritakan, dulu dia berjualan buah seperti pisang, jeruk dan buah lainnya. Buah-buah itu dibeli dari petani buah di desanya, kemudian dijual lagi di Pasar Terapung. Sebagian buah juga ada yang berasal dari kebun sendiri.

Menjelang subuh dengan menggunakan perahu, dia mengarungi Sungai Martapura di Pasar Terapung Lokbaintan untuk menjajakan buah-buah tersebut. Kini, setelah dilanda banjir, Pasar Terapung sepi dari pembeli.

“Apa yang dijual, modal kadada baisi, yang diputik kadada jua. Kebun sudah habis matian –apa yang dijual, modal sudah tidak punya lagi, buah yang dipetik tidak ada. Kebun buah sudah mati semua, red–,” ungkapnya.

Akibat itu, dia pun banting stir mencari peruntungan lain dengan menjadi seorang tukang pijit. “Alhamdulillah aku punya kebiasaan memijit, jadi itulah yang dikerjakan,” paparnya.

Namun demikian, upah memijit tidak menentu. “Belum tentu tiap hari ada yang minta dipijit, lagipula upah memijit tidak dipatok. Kadang ada, tapi kadang juga tidak ada, tergantung keikhlasan orang,” imbuh istri petani, Johansyah ini.(*)

NEWS STORY
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *