Motif Sebenarnya Penusukan Caleg PKS, Pelaku Dendam Dituduh Lakukan Pungutan Parkir Secara Paksa

Jumpa pers, Jumat, (23/2/2024) di Mapolresta Banjarmasin Jalan Ahmad Yani KM 3,5. (Sumber Foto: Humas Polresta Banjarmasin)

Polresta Banjarmasin mengungkap motif penganiayaan menggunakan senjata tajam kepada salah satu kader DPD Partai Keadilan Sosial (PKS) Banjarmasin, Muhammad Syafei(54) lewat gelar pers, Jumat, (23/2/2024) di Mapolresta Banjarmasin Jalan Ahmad Yani KM 3,5.

BANJARMASIN, koranbanjar.net Ternyata motif penusukan yang dilakukan oleh AZ (44) terhadap Muhammad Syafei (54) Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPRD Banjarmasin dilatarbelakangi dendam lama.

“Jadi isu-isu yang beredar kemarin soal muatan politik itu tidak benar, ” jelas Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol. Sabana Atmojo.

Hal itu kata Sabana berdasarkan hasil pemeriksaan, usai pelaku menyerahkan diri yang diantar langsung pihak keluarga dengan membawa barang bukti satu bilah senjata tajam (sajam) jenis belati.

Lanjut dijelaskannya, pelaku sudah ada rasa dendam sekitar 3 tahun terhadap korban, sejak korban menjabat sebagai Ketua RT.

“Jadi tidak ada kaitannya dengan masalah politik atau pemungutan suara saat pemilu kemarin, seperti kabar yang beredar,” terangnya.

Lebih lanjut ia memaparkan, dendam pelaku terhadap korban dikarenakan pelaku pernah dituduh melakukan pungutan paksa tarif parkir sebuah warung bakso yang ada di Jalan Tunas Baru.

Selain itu, pelaku juga tidak terima saat pelaku disuruh oleh korban untuk mengangkat barang, yang hanya diupah Rp50 Ribu.

“Korban juga dendam kepada korban, karena korban tidak terbuka dalam pertanggungjawaban keuangan bantuan dana buka puasa pada tahun 2023, saat korban menjabat sebagai Ketua RT,” papar Sabana.

“Saat AZ melakukan aksinya, pelaku juga dalam keadaan pengaruh alkohol. Sehingga pelaku nekat menusuk korban untuk memberi efek jera,” sambungnya.

Bahkan kata Kapolresta, pelaku pun mengakui kalau dirinya melakukan hal tersebut lantaran dendam, dan atas inisiatif diri sendiri bukan karena disuruh oleh orang lain.

Terlebih lagi ada kaitannya dengan isu politik atau perolehan suara yang didapatkan korban di kawasan tersebut saat pemilu seperti kabar beredar.

“Jadi ini tidak ada hubungannya dengan isu politik, melainkan tindak pidana kriminal murni, dan akan diproses sesuai dengan KUHP,” katanya.

Sementara itu, Pelaku AZ mengaku, usai melakukan aksinya dirinya sempat tidur di jalanan. Kemudian, pada malam keduanya dirinya juga sempat menginap di tempat temannya yang masih di Kota Banjarmasin.

“Pada hari ketiga, saya pulang ke Binuang, untuk berpamitan kepada orang tua saya, sebelum menyerahkan diri kepada polisi,” beber AZ.

Selanjut, pada Kamis (23/2) malam, pelaku pun menyerahkan diri ke Mapolresta Banjarmasin, dengan diantar oleh keluarganya.

Atas perbuatannya, pelaku diancam dengan pasal 351 Ayat (2) KUHP tentang penganiayaan.

“Pelaku juga mungkin bisa dikenakan pasal berlapis, karena sudah melakukan tindak penganiayaan berencana, dan juga membawa sajam tanpa izin. Tapi kita lihat lagi nanti hasil rekonstruksinya,” pungkasnya.

(yon/rth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *