DaerahFeaturesKalimantan SelatanSeni Budaya

Meratus, Kala Malam Tiba

Penulis :
Rusmanadi

ANGIN lembah menghantar dingin pada malam. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 21.00 Wita di pemukiman masyarakat adat Dayak Alai, sub etnis Dayak Meratus atau urang Bukit di Balai Panyatnyan Agung Mula Ada, Desa Hinas Kanan, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel).

Satu persatu, pengunjung satu-satunya warung yang ada di pemukiman itu beranjak pulang, seiring dimatikannya mesin genset oleh pemiliknya. Menyusuri jalan tanah berbatu seraya menyelimuti tubuh dengan sarung, menuju rumah masing-masing.

Wilayah pemukiman itu memang belum terjamah akses energi listrik dari PT PLN. Letaknya yang cukup jauh dijejeran pegunungan Meratus, sekitar 30 Km lebih dari Barabai, ibu kota HST, membuat beberapa akses pembangunan tak menyentuh wilayah pemukiman tersebut.

Setiap harinya, sejak pukul 18.00 Wita hingga pukul 21.00 Wita, beberapa warga pemukiman yang memiliki genset akan  menyalakan pembangkit listrik berbahan bakar solar atau bensin itu. Diantara rentang waktu itulah, sebagian warga bisa menikmati benderangnya cahaya buatan berbalut tabung kaca dan menyaksikan dunia luar melalui pesawat televisi, bagi yang memilikinya.

Bagi mereka yang tidak memiliki genset, masih bisa menikmati hiburan dan informasi dari televisi yang senantiasa dihidupkan oleh pemilik warung, yang letaknya sangat strategis, ditengah kawasan pemukiman.

Selepas pukul 21.00 Wita, kawasan pemukiman itu akan mendadak gelap dan sepi. Hanya cahaya damar dan lampu minyak yang meliuk-liuk diantara temaram. Ditingkahi suara jangkrik dan binatang malam yang merengek-rengek diantara desau angin lembah serta pegunungan.

Bila sudah begitu, apa lagi yang bisa dilakukan? Selain menurunkan tirai kamar dan kain kelambu. Tiada hiburan dan kegiatan, aktivitas selanjutnya adalah “memproduksi” anak untuk kemudian beristirahat menyiapkan energi untuk ke huma dan ladang esok hari.

Meskipun mungkin dibutuhkan kajian mendalam, tetapi setidaknya, gambaran “kehidupan malam” di kawasan pemukiman masyarakat adat Dayak Meratus itu, bisa jadi merupakan salah satu faktor penyebab banyaknya kasus perkawinan di bawah umur dan “produktivitas” anak yang lebih laju dibandingkan kesejahteraan, khususnya dikawasan setempat.

Bagaimana tidak. Ketika malam gelap datang diiringi angin yang menghembuskan dingin hingga menusuk tulang, kegiatan apa lagi yang bisa dilakukan?

Saat penerangan dari genset di matikan pada pukul sembilan, tidak ada aktivitas selain “memproduksi” anak dibalik kelambu, dipayungi temaram damar yang meliuk dihembus angin malam. Hingga kemudian, bukanlah hal aneh bila disebuah pemukiman masyarakat adat Dayak Meratus, jumlah anak-anak lebih banyak dibandingkan jumlah orang dewasa.

Seperti di Desa Hinas Kanan yang dihuni oleh sekitar 630 jiwa itu. Lebih dari 50 persen atau sekitar 385 orang, adalah anak-anak usia 0 hingga 15 tahun. Sisanya, para orang tua dan dewasa, yang sebagian besar masuk kategori dewasa karena status perkawinan saja.

Begitu pula dengan pemukiman masyarakat adat Dayak Alai, sub etnis Dayak Meratus di Balai Kiyu, Desa Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur, HST. Di kawasan yang berpenduduk sekitar 500 jiwa lebih itu, lebih dari 50 persen atau sekitar 360 orang adalah anak-anak.

Hal sama juga terjadi dikawasan pemukiman masyarakat adat Dayak Halong, sub etnis Dayak Meratus di Libaru Sungkai, Desa Ajung, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan. Di kawasan yang berpenduduk sekitar 280 jiwa tersebut, sekitar 160 orang adalah anak-anak.

Setali tiga uang, dikawasan pemukiman masyarakat adat Dayak Pitap, sub etnis Dayak Meratus di Balai Nanai, Desa Ajung, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, pun berlaku hal serupa. Dari sekitar 180 orang penduduknya, 100 orang lebih adalah anak-anak.

Itu baru di empat kawasan pemukiman masyarakat adat di HST dan Balangan saja. Setidaknya, kondisi di empat kawasan itu bisa sedikit menjadi gambaran, tentang bagaimana penduduk dan masyarakat di pemukiman urang Bukit di pegunungan Meratus pada umumnya. Bagaimana rata-rata “produktivitas” anak di hampir semua pemukiman urang Bukit, lebih laju dibandingkan tingkat kesejahteraan mereka.

Kondisi tersebut, bila pemerintah daerah setempat tidak segera melakukan investasi pembangunan, akan menjadi pendorong bagi percepatan ledakan penduduk. Kawasan pemukiman masyarakat adat Dayak Meratus akan menjadi penyumbang bonus demografi yang sayangnya, bisa jadi bukan menguntungkan.

Letak kawasan pemukiman urang Bukit yang berada di pedalaman dan terpencil, membuatnya nyaris tak tersentuh pembangunan. Akses jalan yang ala kadarnya dengan kondisi medan yang berat, membuat langkah kemajuan zaman hanya bisa merangkak dengan pelan. Hingga kemudian, mau tidak mau mereka (urang Bukit, red) senantiasa berada dalam kondisi ketertinggalan.

Letak hunian urang Bukit yang tersebar di bukit-bukit dan hutan serta lembah, membuat aspek manfaat dari pembangunan tidak sebanding. Karena itulah, bagaimanapun juga pemerintah daerah setempat harus berhitung ketika ingin melakukan pembangunan di kawasan pemukiman masyarakat adat. Hal tersebut kiranya menjadi salah satu faktor yang membuat derap pembangunan menjadi lebih lambat dikawasan pemukiman masyarakat adat.

Tanpa pembangunan, urang Bukit dituntut oleh keadaan untuk mandiri dan kreatif bila ingin menikmati penerangan listrik, misalnya. Namun itu pun harus ditunjang oleh kemampuan finansial yang cukup. Bila tidak, maka malam-malam di Meratus hanya akan diramaikan oleh kerlip kunang-kunang dan suara binatang malam.

Begitulah di Meratus. Bila malam tiba, hanya ada cahaya damar yang temaram dan desau angin lembah.

Yang merasuk menghantar dingin melalui celah-celah dinding rumah dari anyaman bambu atau papan tipis dan kulit kayu. Beradu dengan desah tertahan yang suaranya merambat pelan di dingin malam.

Karena itu, bukan hal aneh kemudian bila dalam sebuah rumah sederhana di kawasan pemukiman masyarakat adat di Meratus, dihuni oleh lima hingga tujuh orang yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya. Hal lumrah pula, bila usia si ayah dan ibu, sebagian masih belasan. (RA)***

Tags

Tinggalkan Balasan

Close