Merangkai Asa dari Balik Penjara

oleh -121 views
KETERAMPILAN - Warga binaan tengah menekuni keterampilannya.
Oleh: Rusmanadi
Bagus (36) terlihat asyik dengan pekerjaannya. Dengan cekatan ia memotong lembaran triplek, mengikuti pola yang telah digambar sebelumnya. Untuk kemudian, merapikan potongan-potongan triplek itu menggunakan amplas.
Bagus saat itu tidak sendiri. Bersamanya di ruangan berukuran 8m x 10m yang berfungsi sebagai workshop itu, ada Alwianor (25) dan Zainal (24) yang juga tengah melakukan kegiatan serupa. Memotong lembaran triplek sesuai pola, merapikannya dengan amplas untuk kemudian dirangkai menggunakan lem.
Selain mereka bertiga, masih ada seorang laki-laki lagi di ruangan bercat biru tua dan muda itu. Lelaki yang senantiasa mengawasi Bagus, Alwianor dan Zainal yang tengah bekerja itu adalah Abriadi, Staf Pengelola Pembimbingan Kemandirian, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas III Tanjung, Kabupaten Tabalong.
Ya, Bagus, Alwianor dan Zainal memang tercatat sebagai warga binaan di Lapas Klas III Tanjung. Saat itu mereka bertiga, di bawah pengawasan Abriadi, tengah merangkai potongan triplek dan bambu menjadi sebuah kerajinan tangan berbentuk miniatur alat berat.
Kegiatan yang mereka lakukan hari itu merupakan bagian dari program Pembimbingan Kemandirian warga binaan Lapas Klas III Tanjung.
“Dua tahun,” ujar Bagus ketika ditanya berapa lama sudah ia menjalani masa tahanan.
Bagus yang tercatat sebagai warga Sungai Danau, Kabupaten Tanah Bumbu itu, divonis 7 tahun karena kedapatan memiliki narkoba jenis sabu saat melintasi Kota Paringin, Kabupaten Balangan.
Setelah sempat mendekam di Lapas Klas II B Amuntai di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Bagus dipindahkan ke Lapas Klas III Tanjung.
2016 lalu, Bagus dan beberapa orang temannya mendapatkan pelatihan pengembangan usaha bagi warga binaan oleh PT Adaro Indonesia, melalui pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan pertambangan nasional itu.
Usai mengikuti pelatihan itu, hari-hari Bagus kini lebih berwarna. Tidak lagi hanya maungut (merenung) di balik teralis besi.
Mulai pukul 09.00 hingga pukul 12.00 Wita, Bagus akan sibuk merangkai potongan triplek dan serutan bambu di workshop yang dulunya berfungsi sebagai ruang tamu itu.
“Bila pesanan sedang banyak, jam kerja di workshop diperpanjang hingga pukul 14.00 Wita,” ujar Bagus sambil memberikan potongan triplek yang telah diamplasnya kepada Alwianor untuk kemudian dirangkai menggunakan lem.
Awalnya, kerajinan tangan yang dibuat oleh warga binaan berbentuk Tugu Obor atau Monumen Tanjung Puri yang merupakan maskot Tabalong. Selain itu, juga dibuat kerajinan tangan berbentuk miniatur kapal layar, pinisi dan Dewaruci.
Seiring waktu, model kerajinan tangan yang dibuat terus mengalami perkembangan. Kali ini, para warga binaan mencoba membuat miniatur alat berat setelah sebelumnya berhasil membuat miniatur Dump Truck HD.
“Untuk miniatur Tugu Obor dijual bervariasi, antara Rp200 ribu hingga  Rp300 ribu, tergantung ukuran. Warga binaan berhak atas persentasi hasil penjualan itu,” Abriadi menjelaskan.
Selain pembuatan kerajinan tangan, Lapas Klas III Tanjung juga menyelenggarakan kegiatan pertukangan yang diikuti oleh lima orang warga binaan dan pembuatan kain sasirangan yang diikuti oleh 10 orang warga binaan.
“Sama seperti pembuatan kerajinan tangan, pertukangan dan kain sasirangan untuk pelatihannya juga dilakukan melalui pelaksanaan program CSR PT Adaro Indonesia yang dilaksanakan periode 2017 dan 2018,” ujar Abriadi.
Menurutnya, hingga saat ini telah ada warga binaan yang setelah bebas berhasil menggunakan keterampilaannya membuat miniatur Tugu Obor sebagai mata pencaharian.
* * *
Abdullah Anwar (39) merapikan dagangannya. Miniatur Tugu Obor berbagai ukuran disusunnya dengan rapi diatas meja, didepan rumahnya di Jalan Basuki Rahmat, Agung Bentanggis RT 5, Tanjung.
“Menjelang tahun baru seperti sekarang ini, saya juga menjual terompet dan topeng. Tapi bukan saya yang membuatnya, titipan orang,” ujar Abdullah Anwar.
Ia adalah satu dari beberapa orang mantan warga binaan Lapas Klas III Tanjung yang telah berhasil mengembangkan keahlian membuat kerajinan tangan, hasil pelatihan yang diperolehnya selama menjadi penghuni “hotel prodeo” tersebut.
Juni 2018 lalu, Abdullah Anwar dinyatakan bebas setelah sempat merasakan “pengapnya” bilik sel di Lapas Klas III Tanjung selama satu tahun lebih, atas kasus pelanggaran Undang Undang Kesehatan. Ia kala itu kedapatan memiliki “pil jin” alias Zenith atau Carnophen.
Kini setelah menghirup udara bebas, Abdullah Anwar menggunakan keahlian yang didapatnya dari Lapas sebagai mata pencaharian.
“Untuk pemasaran tidak terlalu sulit. Saya jual secara online di media sosial dan situs jual beli. Selain itu juga dititipkan di beberapa toko di Kota Tanjung,” ujar Abdullah Anwar sumbringah.
Ke depannya, ujar Abdullah Anwar, ia berencana untuk mengembangkan wilayah pemasaran melalui kerja sama dengan hotel-hotel yang ada di Tabalong.
Selain miniatur Tugu Obor, Abdullah Anwar juga membuat miniatur-miniatur kapal layar, pinisi dan Dewaruci.
Setiap produk miniatur buatannya, diberi label AR2. Singkatan dari nama Abdullah dan Rahmad Riduwansyah, anaknya.
 “Kendala saat ini ada pada permodalan, karena bahan baku seperti triplek dan kaca cenderung mengalami kenaikan. Saya harap Adaro memiliki program untuk kami para mantan warga binaan,” Abdullah Anwar menerawang penuh harap.
CSR Department Head PT Adaro Indonesia, Leni Marlina membuka peluang terhadap harapan Abdullah Anwar.
Menurutnya, pembinaan warga Lapas merupakan salah satu program unggulan CSR PT Adaro Indonesia.
“Bukan hanya dalam bentuk pelatihan dan keterampilan, Adaro juga memberikan binaan berupa pengembangan kepada mantan warga binaan sehingga mereka bisa hidup mandiri, berbekal keterampilan dan keahlian yang telah didapat,” ujarnya.
Untuk menjaga kelangsungan usaha mantan warga binaan yang telah mampu memanfaatkan keahlian mereka, PT Adaro Indonesia mencanangkan program bantuan permodalan dan pemasaran.
“Akan kami kawal dan support mereka hingga mantan warga binaan betul-betul siap dan mandiri. Ini komitmen kami,” ujar Lina Marlina.
Sampai disini, asa Abdullah Anwar telah bersambut. Melalui program CSR PT Adaro Indonesia, harapan bagi kelangsungan usahanya kiranya kini terbuka lebar.(*)
Jasa Karangan Bunga di Kalimantan Selatan