Lifestyle

Menjelajah Gunung Tiranggang, Ternyata Ada yang Jual Kue Tradisional di “Puncak”

BARABAI, KORANBANJAR.NET – Mungkin tidak banyak yang mengetahui objek wisata di desa Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini. Namun tidak bagi para pendaki yang suka menjelajah ketinggian, pencari sensasi yang berbeda.

Uniknya, di puncak gunung Tiranggang terdapat warung yang menjual kue tradisional. Warung ini dikelola sepasang suami-istri. Lokasinya sekitar pos peristirahatan Gunug Peniti Ranggang. Jika berdasarkan peta kontur yang diterbitkan Mapala FT ULM di papan informasi, warung berada di ketinggian kisaran 800-1000 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Gunung ini harus dilewati bagi mereka yang ingin menuju puncak Halau-halau ataupun Desa Juhu, jika melewati jalur Kecamatan Batang Alai Timur. Karena di sana terdapat pertigaan antara tujuan Puncak Halau-halau dan Desa Juhu.

Pemilik Warung, Ma Wanda, kepada wartawan Koranbanjar.net mengungkapkan, ia baru saja tinggal di situ dan berjualan. Karena melihat banyak dan seringnya orang yang lewat setiap minggu. Dulunya mereka tinggal di Kampung Batu Kembar, Desa Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten HST.

“Kurang lebih setengah tahun sudah membuat rumah di sini dan berjualan sekaligus bertani dan berkebun,” ungkapnya.

Dia menjual berbagai minuman, teh dan kopi, makanan seperti mie instan, roti isi, kerupuk, cemilan dan yang lebih unik adalah “wadai untuk” ala Gunung Tiranggang.

“Wadai untuk” merupakan kue tradisional masyarakat Kalsel khususnya yang mirip dengan roti goreng tetapi kue ini berasa manis.

Harga makanan dan minuman di warung ini terbilang murah untuk ukuran warung di ketinggian yaitu dua kali lipat dari harga di tempat biasa, masih wajar melihat biaya dan ongkos membawa barang ke tempat itu.

“Minta rela kami mahargai anggaplah dua kali lipat pada di banua, ngambil upah maangkut barang dua ribu rupiah sekilo – mohon kerelaan kami memasang harga dua kali lipat dibanding di kota, karena memakai jasa pengangkut biayanya Rp 2000 per kilogram (red),” ungkapnya dengan logat dan bahasa khas masyarakat setempat.

Ia menceritakan kebanyakan pembeli adalah pendaki gunung, karena masyarakat yang kebetulan lewat menuju kebun membawa bekal sendiri dan memajang makanan di meja hanya saat ada kebetulan pendaki lewat dan istirahat di pos peristirahatan. (mj-025/sir)

Tags

Tinggalkan Balasan

Close