oleh

Menjaga Alam, Pemuda Meratus Maknai Sumpah Pemuda

Di Pegunungan Meratus, menjaga alam agar tetap lestari adalah salah satu yang wajib bagi pemuda, begitu pula dalam memaknai Hari Sumpah Pemuda.

Muhammad Hidayat, Loksado

Alam pegunungan Meratus memiliki beragam sumber manfaatnya yang dimanfaatkan masyarakat di sana untuk penghidupan. Di sana, banyak terkandung sumber daya alam dan energi, yang diburu para pengusaha tambang.

Melalui pemuda di sana, harapan digantungkan. Apabila dalam diri mereka ditanamkan pemikiran akan masa depan, maka mereka akan berjuang menjaga tanahnya.

Baca Juga: Kisah Penjual Bambu (Tamat); Sampai Di Kandangan

Pemuda saat ini, tak perlu lagi meneteskan air mata dan darah dalam perjuangannya. Tugas baru adalah mempertahankan kejayaan negeri ini, salah satunya menjaga alamnya.

Saya sendiri sangat terkesan dengan pemuda-pemudi di Meratus. Meski sudah disibukkan dengan jam sekolah yang kini diperpanjang, tak sedikit dari mereka masih meluangkan waktu membantu orangtua bekerja, ada yang ikut berburu, bertani, berkebun dan lainnya.

Dewasa ini, dengan beragam cara penjajah tak berwujud menyerang tanah air ini. Maka pemuda juga harus dituntut cerdas, dan berbudi luhur.

“Pemuda di Meratus saat ini harus fokus belajar, agar bisa melestarikan alam dan budaya, serta menjaga kesatuan dan kerukunan,” ujar Lukman, Pemuda Dusun Kandihin Desa Halunuk Kecamatan Loksado.

Lukman adalah pemuda yang tinggal di kampung penghasil bambu, otomatis ia sering diajak labuh, membawa rakit bambu menuju Kandangan. Sambil ikut itupun ia belajar hingga lihai mengendalikan rakit bambu.

Tetapi, ia tak serta-merta mengesampingkan pendidikan. “Saat ini saya tidak ikut lagi, fokus sekolah saja dahulu. Lagipula sudah dekat ulangan semester ganjil,” ujar siswa kelas XII di SMKN 1 Loksado ini.

Tetapi apabila ada jadwal liburan, ia pasti ikut labuh bersama orangtua. Meski sekolahnya serba berkekurangan tak seperti di kota, ia mengaku antusias belajar.

Sayangnya, tak ada gading yang tak retak. Tak semua orang sama dengannya, jam pelajaran sekolah biasanya ada saja pemuda di sana kelihatan berkeluyuran. Entah pulang lebih awal, tidak masuk atau bahkan tidak sekolah.

“Pastinya saya tidak ikutan seperti itu,” ucapnya.

Memang diungkapkan Lukman, dari mereka ada yang memang semaunya bersekolah. Kadang terangnya, ada yang pulang ke rumah saja, adapula yang hanya sekedar mencari sinyal.

Kalian sudah bisa menebak, jika saya tuliskan mencari sinyal. Pemuda sampai pelosok Meratus pun sudah mengetahui hal viral tiap harinya, hingga mengenal kata ‘mabar’.

Di Meratus, lokasi sinyal biasanya ada di puncak-puncak gunung, dan cara mengetahui lokasi sinyal cukup mudah, cari saja tempat yang banyak anak muda berkumpul.

Syukurnya kecanduan teknologi, pada pemuda di Meratus tidak sampai menjerumuskan ke hal seperti narkoba.

“Di sini tidak ada pemuda yang mabuk-mabukan, kalau ada juga sangat jarang,” ujar pemuda bernama lengkap M Lukmannorrahim itu.

Salah satu cara membikin pemuda fokus belajar, menurutnya dengan pembatasan oleh orangtua atau pengawasan pada penggunaan gawai. Sebab ujarnya, anak-anak di Meratus sangat patuh terhadap orangtua, dan tidak akan melawan orangtua.

Bagi anak Meratus yang bersekolah, saya sendiri sangat salut. Mereka rela jauh-jauh ke sekolah, bahkan ada siswa SD yang berjalan kaki hingga berjam-jam. Adapula yang rela menunggu lama kedatangan guru, yang biasa datang pukul 10.00 pagi dan pulang pukul 12.00 wita. (*)

Komentar

Jangan Lewatkan