oleh

Mengunjungi Sarkem Yogyakarta, Tempat Prostitusi Yang Melegenda

BERKUNJUNG ke Yogyakarta, tak saya sia-siakan. Berkeliling jalan kaki seputaran Malioboro, dari mencari makan lesehan, mengintip stasiun, hingga kawasan yang melegenda; Sarkem Yogyakarta. Sebagai seorang pria, saya pun penasaran bagaimana Kupu-Kupu Malam Yogyakarta.

Dalam perjalanan, saya sempat ditegur seseorang. “Salah masuk mas, pintu masuknya di gang sebelahnya.” Penasaran dengan pengalaman saya menjelajahi salah satu pusat dunia malam Yogyakarta? Ikuti tulisan ini.

Muhammad Hidayat, Yogyakarta

DAERAH Istimewa Yogyakarta (DIY), salah satu tempat yang ideal didatangi wisatawan adalah Jalan Malioboro. Kawasan yang terkenal dengan tempat berkumpulnya para seniman mengekspresikan kemampuannya.

Serta yang lebih penting bagi pengunjung, banyak pedagang kaki lima secara lesehan menjajakan kerajinan, kaos dan barang-barang lainnya untuk oleh-oleh.

Sehingga saya yang pertama kali ke Yogyakarta, pastinya memilih tempat penginapan yang paling dekat dengan Jalan Malioboro tersebut.

Kesempatan di Yogyakarta, tak saya sia-siakan berkeliling jalan kaki di seputaran hotel Whiz Prime, tempat saya dan rombongan menginap.

Sekitar pukul 20.00 Wib jam ponsel saya yang menyesuaikan lokasi, saya berkeliling masuk suatu gang sempit, sekitar 100 meter lebih dari hotel. Anehnya, saat mencoba masuk saya ditegur seseorang.

“Salah masuk mas, pintu masuknya di gang sebelahnya,” kata salah seorang tukang becak yang sedang ‘mangkal’ di depan gang tersebut.

Saya lanjutkan dan masuk ke suatu gang yang kelihatan sepi dari luar, gang itu berseberangan dengan stasiun Yogyakarta. Saya setengah yakin itu adalah gang legendaris dengan kode Sarkem, singkatan dari Pasar Kembang, salah satu lokalisasi prostitusi di Yogyakarta.

Mengunjungi Sarkem Yogyakarta, Tempat Prostitusi Yang Melegenda
Jalan gang sempit Sarkem Yogyakarta menuju rumah-rumah wanita malam. (foto: hidayat/koranbanjar.net)

Setelah masuk gang sekitar 50 meter, ada sekitar 3 hingga 5 lelaki berbadan besar berjaga dan memungut tarif masuk 5 ribu rupiah per-orang, dan jika rombongan 3 ribu rupiah per orang.

Setelah melewati pungutan tersebut, tidak sesepi yang dibayangkan dari luar. Ternyata banyak laki-laki berkeliaran lalu-lalang di gang tersebut, ada yang baru masuk atau pun mau keluar.

Sepanjang jalanan gang yang bercabang-cabang, banyak wanita-wanita seksi dari remaja hingga dewasa ‘mangkal’ di teras masing-masing. Selera pribadi saya, banyak juga yang lumayan di tempat seperti itu

“Mampir aja dulu mas gak apa-apa, siapa tahu cocok,” ucap salah seorang wanita yang duduk di kursi warung minum, pada saya yang sekadar lewat.

Pun demikian juga banyak laki-laki yang entah warga setempat atau bukan, nongkrong ria di tepi jalan gang, sambil menikmati musik yang saya tidak kenal, dan mereka juga mengatakan hal yang sama dengan yang diucapkan si wanita, yang saya sebutkan di atas.

Saya berkeliling sampai sekitar 2 kali menemui pintu keluar lain dan jalan buntu. Di sana banyak pula kedai-kedai kecil, serta katanya juga banyak ruangan untuk karaoke. Berjalan di sana, saya sempat diikuti seorang lelaki yang sebut saja namanya Mawardi.

Mawardi terus berbicara seperti sales produk MLM! Ia meyakinkan saya agar menerima tawarannya mencarikan kupu-kupu malam sesuai selera saya. Ia menanyakan mau mencari yang bagaimana dan seperti apa, dia siap membantu mencarikan.

“Biasanya mas, kalau yang karaoke itu khusus karaoke tidak bisa lebih. Jadi kalau mau yang lebih, banyak saja silakan pilih,” paparnya yang mengikuti saya hingga pertigaan dalam gang.

Mawardi menjelaskan, jika mau singgah ingin ditemani wanita harga yang ditawarkan bervariasi, tergantung kesepakatan. Mulai dari yang biasa 100 ribuan rupiah, hingga 300 ribuan, bahkan lebih.

Diungkapkan Mawardi, kawasan tersebut buka dari Matahari tenggelam hingga terbit lagi. Sehingga siangnya akan sepi, yang mungkin semuanya sedang tidur.

Sungguh gang yang menakjubkan dibalik ramainya Yogyakarta. Dari gang tersebut terlihat hotel 8 lantai tempat saya menginap. Kebetulan kamar saya di lantai 3. Saat saya pandangi dari kaca jendela kamar ke sudut gang tersebut, memang sepi di siang hari. Kupu-Kupu Malam sedang tidak beraktivitas.

Mengunjungi Sarkem Yogyakarta, Tempat Prostitusi Yang Melegenda

Saat itu saya mulai menyesali kejadian malam tadi. Waktu itu saya sempat dicurigai sebagai aparat kepolisian, dan sempat ditanya demikian karena ternyata saya berbarengan masuk dengan polisi tidak berbaju aparat.

Bodohnya lagi, saya merasa jadi takut dan berkata jujur dengan polosnya: saya pendatang. Akibatnya, saya jadi was-was mengeluarkan kamera Hp untuk mengabadikan paras-paras cantik si penjaja hawa nafsu.

Meskipun demikian, saya masih bisa menggambarkan melalui tulisan ini, seperti apa dan bagaimana wanita pekerja seks komersial (PSK) di Sarkem Yogyakarta. Nantikan tulisan saya selanjutnya. (*)

Komentar

Berita Terkini