oleh

Mengintip Sahur di Meratus

HULU SUNGAI SELATAN, KORANBANJAR.NET – Jika di daerah Kandangan dan Daha sampai saat ini masih terdengar obrolan manis tentang pro kontra imbauan larangan “Bagarakan Sahur” oleh pemerintah daerah HSS, bagaimana dengan di daerah pegunungan?

Sebelum Ramadan Pemkab HSS mengeluarkan surat edaran berupa ketentuan kegiatan dan larangan saat Ramadan, isinya pada poin nomor 1 huruf C berbunyi larangan bagarakan sahur baik melalui tempat ibadah maupun partisipasi lainnya sebelum pukul 03.00 wita.

Respon sangat beragam ada yang setuju sebab budaya bagarakan sahur sudah berubah menjadi mengganggu dilakukan di jam tidur dan dengan musik tidak pantas, tetapi ada yang kurang memahami tidak sependapat.

Saat ini pantauan Koranbanjar.net beberapa kampung di Kandangan masih ada saja terdengar kegiatan bagarakan sahur oleh kalangan pemuda dengan gerobak ditarik pakai kendaraan berkeliling antar kampung sebelum pukul 03.00 bahkan dengan musik yang dianggap tidak pantas dengan suasana Ramadan.

Jauh dari keramaian dan kemewahan serta keragaman umat beragama, beberapa tempat di Kecamatan Loksado masyarakat muslim terbiasa bangun sahur sendiri tanpa adanya budaya bagarakan sahur.

Kampung Kandihin contohnya, menurut warganya Yunus sejak dahulu saat sahur sangat sepi hanya suara alam yang terdengar. Kampung yang masuk territorial Desa Halunuk tersebut dihuni sekitar 170 an orang penduduk dengan 100 persen beragama Islam.

“Bahkan melalui pengeras suara dari mic masjid di kampung pun tidak ada, tetapi masyarakat terbiasa bangun sendiri dan jarang ada terdengar warga tidak sahur karena tidak terbangun,” ujar Yunus saat dikonfirmasi Koranbanjar.net 14 Mei lalu.

Suasana serupa juga ia ungkapkan terjadi di Rt 1 Desa Halunuk dengan 200 an orang penduduk muslim semuanya tidak ada aktifitas bagarakan sahur oleh pemudanya, “Tetapi paling ada langgar yang kadang membangunkan melalui pengeras suara disana,” ujar Yunus yang merupakan Sekdes Halunuk itu.

Kampung Pantai Langsat Desa Hulu Banyu juga dituturkan warganya Yusran, tidak pernah ada arakan keliling bagarakan sahur meskipun juga seluruh warga beragama islam, “Tetapi untuk penanda waktu imsak biasanya warga berpatokan bunyi pengajian Al Qur’an di langgar,” ujar Yusran saat dikonfirmasi Koranbanjar.net 17 Mei 2019 lalu.

Kampung Tanuhi Desa Hulu Banyu dituturkan kepala Desa Maslansah dulu biasanya ada warga yang keliling membangunkan sahur tetapi tahun ini tidak ada lagi, ia berpendapat saat ini semua masyarakat sudah punya alarm dan mungkin para pemuda yang biasanya bagarakan sahur tidak peduli karena perkembangan jaman ini.

“Entah pengaruh larangan pemerintah atau apa tetapi mungkin lebih kepada pengaruh perkembangan jaman dimana teknologi membuat sering begadang lupa waktu dan akhirnya subuhnya sudah kelelahan dan tidur lagi,” tuturnya.

Tetapi malah di Desa Malinau menurut sekdes, Majalifah meskipun tidak semua penduduk disana beragama islam terkadang selain ada yang membangunkan warga untuk sahur melalui pengeras suara langgar da nada pua yang keliling kampung.

“Biasanya ada yang bagarakan keliling tetapi tidak rame-rame seperti orang di kota dan tidak memakai bunyian,” ungkapnya.

Ia mengatakan 75 persen dari 1170 jumlah penduduk desa tersebut beragama islam biasa dibangunkan oleh sekitar 4 sampai 5 orang warga khususnya remaja yang keliling hanya dengan berteriak-teriak tanpa alat musik sehingga tidak akan mengganggu umat agama lain.

Ibukota Kecamatan, tepatnya Desa Loksado menurut warga setempat Martha kebanyakan lingkungan mayoritas Kristen, hampir separu Islam dan sebagian Kaharingan (animisme) juga ada aktifitas membangunkan sahur melalui pengeras suara sebuah masjid.

“Biasanya ada mendengar sekitar Pukul 03.00 wita tetapi beberapa hari ini tidak ada mendengar lagi entah terlalu pulas tidurnya mungkin atau memang tidak ada lagi saya tidak tahu,” Ujar Martha kepada Koranbanjar.net, Selasa (21/5/2019).

Ia merupakan gadis berusia 20 tahunan seorang non-muslim  dan mengakui tidak terganggu sama sekali dengan bunyian pengeras suara tersebut karena menurutnya memang cara orang beribadah beda-beda dan toleransi umat beragama disini sangat tinggi.

Dilarang ataupun tidak, mereka mengatakan tidak masalah bagarakan sahur sebab jika ada yang bagarakan sahur sangat membantu bagi yang tidak terbangun dan masyarakat di Kecamatan Loksado terbiasa bangun subuh, aktifitas warga bertani dan berburu di hutan membuat mereka terbiasa bangun lebih awal. (yat)

Komentar

Berita Terkini