Mengenali Masakan Khas Meratus untuk Menu Berbuka, Mulai Humbut hingga Rabung

oleh -197 views
HUMBUT - Sayur, ciri khas makanan Meratus.

KANDANGAN, KORANBANJAR.NET – Olahan makanan dari bahan yang tersedia dari hutan Meratus disajikan saat safari Ramadan Bupati Hulu Sungai Selatan bersama jajaran Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kecamatan di masjid Al Hidayah, Pantai Langsat Desa Hulu Banyu Kecamatan Loksado.

Mungkin jika berbicara makanan khas masyarakat Meratus ada banyak sekali jenisnya, mulai dari yang sederhana sampai mewah. Sebut saja sate Payau atau nasi humbal yang sangat populer, tetapi ada makanan yang jarang disajikan seperti “Humbut Saung”, “Humbut Bangkala” dan “Rabung” yang diurap ataupun di “Gangan” –jadikan sayur, red–

Rumah di jual di Martapura

Jasa Interior di Kalimantan Selatan

Urap adalah jenis sajian salad berupa sayuran yang dimasak kemudian diparut atau diiris kecil sedangkan gangan adalah sayuran yang dimasak menjadi kuah.

Dalam kunjungan safari pemerintah daerah kabupaten HSS ke tempat tersebut sengaja panitia menyediakan makanan yang unik dan khas dan jarang sekali ditemukan.

“Sangat jarang ini bahkan mungkin anak-anak sekarang ada yang tidak tahu masakan ini, sengaja untuk memperkenalkan kepada orang dari luar khususnya pemerintah,” ujar Kepala Desa Hulu Banyu, Maslansah  kepada Koranbanjar.net usai berbuka bersama.

Humbut bangkala yang merupakan jenis tumbuhan liar mirip seperti tumbuhan pohon aren tetapi lebih kecil yang biasanya tumbuh di tepi sungai, diambil bagian dalam batang dan dipotong kecil lalu dimasak untuk dijadikan gangan sebagai kuah untuk nasi saat berbuka pada acara tersebut.

Sementara Humbut Saung atau disebut humbut patikala atau bahasa nasionalnya juga Kecombrang juga dari jenis tanaman liar di tepi sungai mirip seperti tanaman lengkuas dan dari batang yang kecil dikupas kulitnya untuk diambil bagian dalam batang seukuran diameter 2 sampai 3 milimeter dan dipotong sepanjang sekitar 1 sampai 2 sentimeter.

Humbut Saung bersama rabung (rebung) adalah anak bambu dan mandai yang merupakan makanan terbuat dari kulit cempedak dipotong dan direbus untuk dijadikan urap.

 

“Humbut Bangkala dan humbut saung dipilih dari tanaman yang masih muda dan kecil,” ujar Yusran, warga Pantai Langsat sekaligus Sekdes Hulu Banyu.

Untuk menyajikan saat itu Yusran mengungkapkan menggunakan cukup 3 batang humbut bangkala dan sekitar 30 sampai 35 batang humbut saung yang dicari ke hutan, “Secara gotong-royong masyarakat sebelumnya mencari bahan-bahan tersebut ke hutan dan tidak susah juga mencarinya karena banyak tersedia,” pungkasnya.

Kru peliputan HSS TV dari Dinas Kominfo HSS yang turut mencicipi hidangan tersebut saat berbuka Dayat dan Iwan kepada Koranbanjar.net mengakui baru pertama kali memakan dan bahkan baru mengetahui ada jenis makanan seperti ini.

“Enak dan patut dilestarikan jenis masakan seperti ini, kami terkesan ternyata disini banyak sekali makanan tersedia oleh hutan,” ucap Iwan.(yat/sir)

Jasa Karangan Bunga di Kalimantan Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *