oleh

Membaca Isyarat Ketua DPC Gerindra Banjarbaru, Benarkah Belum Memiliki Kader Sendiri?

 

Ditulis oleh: Harie Insani Putra

————————————-

Kabar terbaru sikap Ketua DPC Gerindra Banjarbaru, Syahriani Sahran tentang kemungkinan dirinya maju dalam Pilkada Banjarbaru 2020 menarik untuk disimak.

Meskipun ungkapan itu ditujukan kepada pasangan petahana Nadjmi-Jaya yang konon sempat berharap diusung oleh Gerindra, justru di balik itu menimbulkan pertanyaan besar.

Seberapa berharap Gerindra terhadap petahana? Benarkah Gerindra Banjarbaru belum memiliki kader kuat dari partainya sendiri sehingga berharap kepada yang lain?

Analisa ini berangkat dari paparan Syahriani Sahran ketika diwawancarai awak redaksi koranbanjar.net. Berikut petikannya.

“Kalau (Nadjmi-Jaya) memang tidak mau untuk bergabung (dengan Gerindra), maka tidak menutup kemungkinan saya yang bisa maju,” ujarnya sambil tersenyum, Jumat (30/8/2019).

Baca selengkapnya: Ketua Gerindra Banjarbaru: Kalau Nadjmi-Jaya Tak Mau Bergabung, Saya Yang Maju

 

Dari pernyataan di atas, setiap orang bisa saja memiliki tafsir berbeda. Bahkan, secara pribadi saya cukup penasaran dan berhasrat menelisiknya lebih jauh melalui catatan kali ini.

Saya menilai ucapan itu tak ubahnya sebuah pesan, merupakan kode keras atau isyarat kepada petahana (Nadjmi-Jaya) bahwa Gerindra sedang menunggu dan berharap. Benarkah?

Lantas bagaimana seandainya Gerindra Banjarbaru memiliki sendiri kader kuat di lingkungan partainya? Apakah kalimat semacam itu akan terucapkan?

Terlepas apakah itu serupa pesan atau gurauan belaka, kita bisa membayangkan seandainya Nadjmi-Jaya tak berharap kepada Gerindra, di sinilah letak persoalannya. Bukankah Syahriani pernah mengungkapkan kalau dirinya tak maju dalam Pilwali Banjarbaru karena faktor usia?

Dikaitkan dengan pernyataan di atas, dalam kasus dinamika politik, saya tidak menyebutnya sebagai inkonsisten. Justru Syahriani sedang melakukan strategi komunikasi politik dengan cara melempar bola panas.

Mungkin, Syahriani menganggap situasi politik di Banjarbaru dalam menyambut Pilwali 2020 mendatang terasa dingin, jadi perlu pemanasan agar tidak terkilir nantinya.

Sampai di sini saya pun mencoba menganalisa dari pernyataan lain. Kita semua mungkin sudah mendengar bahwa Fadliansyah, yang sekaligus juga anak dari Ketua DPC Gerindra Banjarbaru, Syahriani Sahran baru saja dipilih secara internal partai bakal duduk sebagai Ketua DPRD Banjarbaru dari 3 kandidat yang ada.

Baca selengkapnya: Siapa Yang Bakal Jadi Ketua DPRD Banjarbaru Di Antara 3 Kandidat Ini?

 

Dalam wawancara kepada wartawan, Syahriani melontarkan pendapatnya ketika Ketua Umum DPP Gerinda memilih Fadliansyah. Ada 3 aspek yang disampaikan, yakni loyalitas, integritas dan kapasitas. Dari ketiga aspek tersebut, Syahriani menilai anaknya lebih unggul, meski minim pengalaman, sebagai kader muda, Fadliansyah berpeluang lebih enerjik dan bersemangat.

Baca selengkapnya: Ketua DPC Gerindra Banjarbaru Bicara Tentang Penunjukan Calon Ketua DPRD

 

Pertanyaan sederhana, kenapa tidak Fadliansyah saja didorong untuk maju dalam pilwali?

Terlepas benar atau salah, di sinilah saya menerka-nerka bahwa minimnya kader/sosok/figur populis dan potensial yang ada di tubuh Gerindra Banjarbaru. Sehingga pertarungan politik di Banjarbaru hanya berbagi peran antara bapak dan si anak.

Dan, akhirnya saya menjawab pertanyaan sendiri, bahwa besar kemungkinan Gerindra memang sangat berharap kepada petahana untuk mengisi kekosongan kader sekalipun harus mengambil resiko tanpa harus menyertakan kader partai sebagai syaratnya.

Bagaimanapun, dengan kekuatan politiknya di legislatif, Gerindra Banjarbaru tentu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dalam Pilwali mendatang. Setidaknya, jika Nadjmi-Jaya kembali terpilih, partai politik pengusungnya adalah Gerindra. Sembari itu, Fadliansyah bisa belajar banyak mematangkan pengalaman politiknya melalui legislatif. Itu harapannya!

Gertak Sambal atau Serius

Keputusan Syahriani akan maju mencalonkan diri pun bisa saja hanya merupakan gertak sambal. Namun di balik itu, saya kira, Syahriani Sahran selaku ketua DPC Gerindra menyadari dengan baik resiko yang akan ditanggung jika memaksakan anaknya maju ke pilwali sebagai orang nomor satu.

Sementara itu, untuk menempatkan anaknya menjadi pendamping orang nomor 2, peluang itu sangat kecil jika membidik Nadjmi Adhani atau Aditya Mufti Ariffin (Ovi).

Kita tahu, antara Nadjmi atau Ovi telah memiliki pasangan politik masing-masing. Mereka bahkan sudah sering menampakan kemesraan di media sosial dan pemberitaan. Artinya, menempatkan Fadliansyah menjadi orang nomor 2 hampir tidak berpeluang.

Barangkali itu juga penyebab muncul pernyataan bahwa, Syahriani sendiri yang akan maju ke pilwali dengan asumsi popularitas dan eletabilitas dirinya masih jauh melampaui sang anak atau kader Gerindra Banjarbaru lainnya.

Persoalannya sekarang, siapakah yang akan mendampingi Syahriani Sahran jika gertak sambal ternyata menjadi kenyataan? Bagaimana nasib petahana yang notabene belum memiliki partai pengusung? Demikian pula Dokter Halim yang sejak kepulangannya dari tanah suci Mekah belum berstatement tentang rencananya maju ke Pilwali Banjarbaru 2020?

Akhirnya, saya memilih mengakhiri catatan ini sekarang dan menunggu kabar selanjutnya. []

Komentar

Berita Terkini