Media Mainstream Ciptakan Pemberitaan Sejuk Meluruskan Derasnya Informasi di Medos

Foto bersama sebelum acara konsolidasi di Lima Rasa Banjarmasin, Kamis (16/5/2024). (Foto: Bawaslu Kalsel)

Ketua Bawaslu Provinsi Kalimantan Selatan, Aries Mardiono mengatakan, sangat diperlukan media mainstream untuk menciptakan pemberitaan sejuk guna menangkal derasnya arus informasi di media sosial (medsos).

BANJARMASIN, koranbanjar.netPernyataan mantan wartawan senior di Kalsel ini, diungkapkannya dalam acara Konsolidasi Media Dalam Rangka Penguatan Pemberitaan Pada Pengawasan Tahapan Pemilihan Serentak Tahun 2024, di Restauran Lima Rasa Banjarmasin, Kamis (16/5/2024).

“Arus informasi di medsos begitu kencang, sangat perlu media mainstream untuk meluruskan hingga membuat pemberitaan sejuk,” ujar Aries.

Sementara untuk tahapan Pilkada saat ini adalah verifikasi dukungan terhadap calon perseorangan atau independen. Sebagaimana diketahui ada 8 bakal pasangan calon (balon) sudah mengajukan syarat dukungan perseorangan.

“Untuk di Kotabaru ada 4 bakal calon bupati, di Hulu Sungai Tengah ada satu pasangan bakal calon, Tapin ada satu, dan Banjarmasin ada dua,” sebutnya.

Pada Pilkada ini lebih lanjut dijelaskan, adalah merupakan ruang atau wadah bagi warga negara menggunakan haknya untuk dipilih baik melalui jalur partai maupun perseorangan.

“Sekarang prosesnya lagi berjalan dan itu diawasi oleh Bawaslu,” ucapnya.

Lanjut dikatakannya, apakah teknisnya dilaksanakan secara benar sesuai tata cara dan prosedur oleh KPU atau tidak.

“Kalau tidak kami punya mekanisme tindak lanjut terhadap hasil dari pengawasan tersebut,” jelasnya.

Adapun tingkat kerawanan Pilkada untuk di Kalsel, Aries menyampaikan hingga saat ini Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) dari Bawaslu RI belum keluar.

“Sekarang lagi berproses di Bawaslu RI bersama pegiat pemilu, aktivis dan akademisi dengan beragam dimensi, diantaranya ada dimensi sosial, politik dan media sosial serta berbagai dimensi lainnya (terkait Pilkada),” terangnya.

Jikalau sudah keluar sambung kata Aries, tentunya akan dilakukan ekspos oleh Bawaslu RI. Apakah Kalsel masuk rawan tinggi, sedang atau rendah.

Kordiv Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat, Bawaslu Kalsel, Thessa Aji Budiono menambahkan, meski pihaknya punya media sosial (medsos), namun belum efektif dan maksimal dalam menggaungkan kepemiluan, khususnya kegiatan kepengawasan.

Dia mengungkapkan Bawaslu punya kekurangan yang dapat ditutupi oleh media, dan dirinya sangat berharap media turut menyampaikan informasi positif.

Memasuki tahapan Pilkada serentak yang pertama kalinya menurut Thessa, menjadi tantangan untuk menyukseskan Pilkada.

“Penguatan pengawasan Pilkada sangat diperlukan dengan menggandeng media,” tambahnya.

Dia tak menampik, pengawasan tak akan maksimal hanya dengan memanfaatkan medsos Bawaslu. Meski punya Medsos, tapi jarang dilihat oleh publik.

“Medsos kami baru ramai dikunjungi saat ada pengumuman perekrutan, berbeda saat kami posting isu lain,” terangnya.

Pada waktu dan tempat yang sama, Ketua PWI Kalsel, Zainal Helmie mengemukakan sangat penting peran media memberikan informasi positif, untuk dapat meningkatkan partisipasi pemilih.

“Ini ikhtiar kita bersama untuk meningkatkan kualitas pemilu,” ucapnya.

Menurutnya peran media tak berbeda dengan Bawaslu. Yakni, sama-sama mempunyai peran pengawasan. Namun selain mengawasi tahapan pemilu, pers juga sekaligus bisa mengawasi penyelenggaranya, KPU dan Bawaslu.

Selain Ketua PWI Kalsel Zainal Helmie yang berkesempatan memberikan paparannya dalam acara ini, narasumber lainnya adalah Armydian Kurniawan, GM News Gathering iNewsMedia Group yang memberatkan penerangan.

Dalam paparannya, Armydian mengungkap sepanjang tahun ini ada 7 aduan terhadap pers terkait pemilu.

“Ini bukan angka kecil, bahkan terlalu banyak jika berkaca peran pers sebagai pilar demokrasi untuk pengawas penyelenggara negara,” tandasnya.

(yon/rth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *