oleh

Lelaki Paruh Baya Penjual Sajadah Keliling yang Tak Pernah Terjamah Bansos

Satu lagi, korban dampak pendemi Corona(Covid-19) di Banjarmasin. Seorang laki-laki tua, berusia 50 tahun penjual sajadah keliling yang sama sekali tidak pernah mendapatkan Bantuan Sosial(Bansos)dari Pemerintah Kota Banjarmasin.

Leon, Jurnalis Koran Banjar

BANJARMASIN, KoranBanjar.net – Mawan namanya, bertempat tinggal di Jalan Kinibalu Ujung, RT 42, Banjarmasin.

Hari itu, Jumat (8/5/2020), jurnalis media ini ketika sedang lewat melintasi jalan raya depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin, tiba-tiba melihat seorang kakek menggunakan peci hitam duduk di teras depan halaman SPBU samping Masjid Sabilal Muhtadin di tangannya menenteng beberapa lembar sajadah.

Mirisnya, di samping badannya pada sebuah tembok tempat bersandar Mawan, tertapat selembar kertas menempel bertuliskan ” Tolong tukariakan sajadah bapak, sagan ongkos makan

Seketika Jurnalis KoranBanjar.net singgah menghampirinya, dan mencoba mewawancarai kakek ini.

Dari penuturannya, Mawan dahulunya bekerja sebagai seorang Satpam selama satu tahun terakhir pada salah satu lembaga kursus di Banjarmasin.

Kemudian, sejak melanda wabah Corona di Kalimantan Selatan, Mawan diistirahatkan(stop bekerja), sedangkan menurut Mawan yang pernah jadi kaum musala ini, hanya itu pekerjaan satu-satunya untuk menghidupi keluarganya.

Ulun kada lagi begawi pak ai jadi Satpam, ulun diistirahatkan disana, kedada gawian lagi, nang ngaran kedada modal wan simpanan kada bisi, terpaksa mengangkat sajadah di toko menjualkan, meambil keuntungannya haja, modal kepercayaan wara, kedada yang dijaminkan, terpaksa batinggal KTP supaya kawa bejualan supaya kawa makan,” tuturnya sembari matanya berkaca-kaca.

Parahnya lagi, lembaga pendidikan yang mengistirahatkan Kakek Mawan, sepeser pun tidak memberikan kompensasi ataupun bantuan selama terdampak Covid-19.

Bahkan ditempat tinggalnya pun sama, satu pun program bantuan pemerintah tidak terjamah olehnya.

Sampai wahini pak ai, kami kada dapat apa-apa dari pemerintah, jangankan duit, sembako aja kedada lalu, padahal tuhuk sudah mausul ke RT, Lurah sampai Camat, tetap kedada jua, kayapa nasib kami kaya ini,” ucap Mawan lirih.

Lanjut Mawan bertutur, tempat berteduh bersama anak istrinya saat ini, bukan rumah milik pribadi, tetapi sebuah kamar bedak berukuran 3×4, dengan sewa 250 satu bulan.

Berjualan sajadah keliling, satu hari kadang laku hanya 2 sampai 3 lembar, keuntungan yang dibawa pulang paling-paling berkisar 15 ribu sampai 20 ribu rupiah, buat beli beras satu liter, dan jajan habis.

“Itu pun kalau payu, dalam seminggu nih paling dua tiga hari payu, banyak kada payunya,” akunya menambah kepiluan hati ini.

Mawan berharap ada bantuan dari pemerintah, khususnya Pemerintah Kota Banjarmasin, justru warga yang lebih mampu dan memiliki kehidupan ekonomi lebih bagus yang mendapatkan bantuan khususnya yang terdampak pendemi Corona.

Sedangkan Kakek Mawan, kehidupannya jauh lebih memperihatinkan, dimana seharusnya Pemerintah Kota lebih jeli melihat keadaan warganya yang pantas mendapatkan bantuan, terlebih-lebih akibat terdampak Covid-19.

Ulun baharap banar, mudah-mudahan pemerintah memperhatikan nasib keluarga ulun, sangat baharap banar, sangat baharap banar nah, tolong haja pemerintah ai,” tukasnya penuh harap.(yon)

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: