Kombes Pol. Dr. Faizal Ramdhani, S.Sos,. S.I.K,. MH

Lawan Oligarki, Gabungan Advokat dan Aktivis Bentuk Tim Advokasi Bernama ‘JURKANI’

  • Bagikan
Logo Gabungan Advokat
Logo Gabungan Advokat

Gabungan advokat, akademisi dan masyarakat sipil membentuk Tim Advokasi yang diberi nama Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan Melawan Oligarki disingkat JURKANI.

BANJARMASIN, koranbanjar.net – Dari siaran pers yang diterima media ini, Sabtu (20/11/2021) di Banjarmasin, pemilihan diksi dan akronim JURKANI ini bukanlah tanpa sebab dan tujuan, tetapi salah satunya memang didedikasikan untuk mengadvokasi pembunuhan almarhum Jurkani yang sedang menjalankan tugasnya sebagai advokat, melawan penambangan tanpa izin (tambang ilegal) di wilayah Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Dikatakan Tim Advokasi JURKANI, Denny Indrayana, almarhum Jurkani adalah martir sekaligus ikon perjuangan, di samping martir dan ikon lainnya seperti Hadriansyah, guru SD yang meregang nyawa karena memprotes aktivitas pertambangan milik pengusaha berpengaruh di Kalsel.

Kemudian Trisno Susilo, seorang pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara yang divonis penjara 4 tahun, kemudian Muhammad Yusuf, wartawan yang dijebloskan dan meninggal di dalam penjara setelah mewartakan konflik perebutan lahan yang melibatkan perusahaan orang kuat di Kalsel.

“Hingga tahun 2020 Diananta Putra Sumedi, wartawan Banjarhits.id, yang juga dibui karena memberitakan sengketa lahan yang dialami masyarakat Dayak di Kalimantan Selatan,” bebernya.

Menurut Denny, meski JURKANI adalah ikon tim advokasi ini, tetapi perjuangan ini bukan hanya untuk almarhum Jurkani dan tanpa mengecilkan arti dan peran martir-martir lainnya semata.

“Namun lebih luas merupakan perjuangan rakyat Kalimantan Selatan untuk melawan oligarki dan memperjuangkan kepentingan publik secara probono, alias dengan niat yang ikhlas,”  ucapnya.

Denny menyebut, sebabnya oligarki tidak hanya menyebabkan nyawa-nyawa tak berdosa melayang, tetapi juga telah berhasil mengkooptasi aparatur negara dan penegakan hukum, membungkam kebebasan berpendapat, mengekang kebebasan pers, menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia.

Lanjut ujarnya, praktik oligarki menimbulkan kerusakan lingkungan dan bencana ekologi lainnya, menciptakan persaingan bisnis tidak sehat, membajak demokrasi, hingga memicu korupsi politik dan kekuasaan.

Sebagai langkah awal, Tim Advokasi JURKANI akan melakukan audiensi dengan Pimpinan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, pada Selasa, 23 November 2021, di Kantor LPSK Jakarta dan dengan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, pada Rabu, 24 November 2021, di Kantor Komnas HAM Jakarta.

“Di samping itu, Tim Advokasi juga melakukan langkah-langkah pencarian fakta, pendampingan saksi dan keluarga korban, serta konsolidasi internal,” ungkapnya.

Adapun komposisi awal Tim Advokasi JURKANI di antaranya:

Prof. Denny Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D. (Guru Besar Hukum Tata Negara & Senior Partner INTEGRITY Law Firm

Dr. T.M. Luthfi Yazid, S.H., LL.M., CLI.,CIL. (Vice President Kongres Advokat Indonesia, Sekretaris LBH PBNU 2005-2009 dan Ketua Dewan Syuro PCI NU Jepang 2010-2012)

Iwan Satriawan, S.H., M.CL., Ph.D. (Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta & Anggota Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

Berry Nahdian Forqan (Aktivis Lingkungan, mantan Direktur Eksekutif Walhi Kalsel & Koordinator Jaringan Advokasi Tambang Kalsel)

Febri Diansyah, S.H. (Mantan Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi & Managing Partner Visi Integritas Law Firm)

Dr. Erlina, S.H., M.H. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat)

Kisworo Dwi Cahyono, S.H. (Direktur Eksekutif Walhi Kalsel).

Noorhalis Majid (Aktivis)

Swary Utami Dewi (Aktivis)

Surya Fermana (Aktivis)

Irana Yudiartika, S.H., CIL. (Advokat)

Sebagai bagian dari strategi advokasi, komposisi Tim Advokasi JURKANI tidak akan bersifat elitis dan tertutup, namun bersifat terbuka bagi bergabungnya elemen-elemen perjuangan lainnya.

Karena, menurut mantan calon gubernur Pilkada 2020 ini, lawan yang dihadapi memiliki kekuatan finansial, pengaruh dan kekuasaan, maka Tim Advokasi JURKANI penting untuk melipatgandakan kekuatan dengan membuka ruang bagi elemen publik lainnya.

“Tentu saja, dengan catatan harus memiliki kesamaan visi dan agenda perjuangan,” tandasnya.(yon/sir)

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *