oleh

Kurung-Kurung; Alat Bercocok Tanam Magis Dari Meratus

MASYARAKAT Adat Pegunungan Meratus mempunyai tradisi unik dalam bercocok tanam. Ada suatu keyakinan dalam bercocok tanam yang hingga saat ini masih mengakar kuat; jika bercocok tanam menggunakan Kurung-kurung, ladangnya akan dijaga oleh roh leluhur dari gangguan binatang hutan dan makhluk lainnya.

Saat ini sudah mulai langka, menggunakannya pun harus orang yang sudah lihai. Seperti apa Kurung-kurung itu? Ikuti tulisan ini sampai habis.

Muhammad Hidayat, Loksado

KURUNG-KURUNG adalah alat bercocok tanam berupa tongkat yang digunakan melubangi tanah dengan cara dihentakkan. Kemudian bibit padi dimasukkan ke dalam lubang tersebut.

Benda ini bukan sekedar tongkat yang digunakan Masyarakat Adat Meratus untuk manugal (menanam padi di gunung, red). Dari Kurung-kurung bisa mengeluarkan bunyian tiap kali dihentakkan, bahkan bunyinya cukup merdu.

Memang terlihat seperti biasa saja seperti pada umumnya. Namun, bagi Masyarakat Adat Meratus, benda ini memiliki kekuatan magis!

Mereka percaya, jika menanam menggunakan Kurung-kurung, ladangnya akan dijaga oleh roh leluhur dari binatang-binatang hutan dan makhluk pengganggu lainnya.

“Terasa bedanya, ladang yang ditugal dengan Kurung-kurung dan tidak. Seperti ada yang menjaga, jika dengan kurung-kurung,” Ujar Ipansyah Noor, warga Dusun Bayumbung, Desa Halunuk Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Selain itu, hasil padinya pun saat panen diyakini lebih banyak hasilnya ketimbang tidak menggunakan Kurung-kurung.

Ilmu Menggunakan Kurung-kurung Turun Temurun

Menggunakan Kurung-kurung tak bisa sembarangan, perlu keahlian khusus yang diajarkan secara turun temurun, agar bisa menghasilkan alunan irama yang pas. Jika tidak bisa memaikannya, bunyi Kurung-kurung menjadi tidak karuan.

“Bunyi dan irama semuanya ada maknanya. Ada lima jenis irama yang biasa kami mainkan,” ungkap Ipansyah, tanpa membeberkan secara rinci.

Selain memerlukan keahlian khusyus, untuk menghasilkan bunyi yang merdu juga harus didukung cara pembuatan yang benar, dan dibuat oleh orang yang mahir.

“Di Meratus ini banyak yang bisa memaikan, namun tak banyak yang bisa membikin. Maka dari itu sudah sangat langka,” ujarnya pria yang merupakan Wakil Damang Dayak Meratus Kalsel.

Kurung-Kurung; Alat Bercocok Tanam Magis Dari Meratus

Membikin Kurung-kurung

Diterangkan Ipansyah, pembuatan satu buah kurung-kurung memakan waktu yang cukup lama sekitar 2 hingga 3 bulan lebih. Itu pun belum termasuk waktu mencari bahannya.

Kurung-kurung terbuat dari gabungan bambu jenis tamiang, bambu buluh, kayu ulin, serta rotan. “Rotan itu, kami menyebutnya di sini huyi,” jelasnya.

Saat merakit kurung-kurung juga diperlukan getah pohon Tarap, serta getah Katipi (getah dari sarang kelulut, red) yang dijadikan lem sekaligus menyetel bunyi.

Asal-usul Kurung-kurung dan Wasiat Leluhur di Meratus

Dikisahkan Ipansyah, Kurung-kurung mulai dikenal sejak zaman leluhur awal mula bercocok tanam. Pada zaman dahulu, masyarakat Meratus tiap bahuma (bertani, red) selalu gagal dan padinya kosong, atau bahasa setempat disebut “banih hampa”.

Lalu jelasnya, salah seorang tetuha adat mendapat wangsit, agar dibikinkan bunyian Kurung-kurung, pada tongkat yang digunakan masyarakat menanam padi.

Alhasil, setelah dilakukan sesuai amanah, hasilnya luar biasa memuaskan, dengan padi yang sangat bagus. Bahkan ungkapnya, setelah memakai Kurung-kurung menanam dengan satu gantang (takaran masyarakat zaman dahulu, red) bibit, bisa menghasilkan 200 gantang padi saat panen.

“Yang awalnya tidak cukup, setelahnya panen sangat melimpah bisa tahan, untuk hidup 2 sampai 3 tahun,” jelasnya.

 

Baca juga:

 

 

Cerita versi lain, menurut kisah yang beredar, Kurung-kurung dimaksudkan sebagai penanda bagi orang yang bercocok tanam.

Bunyi yang dihasilkan dari hentakan kurung-kurung, dapat memberitahu orang di sekitar atau di sebelah gunung, di tempat tersebut ada masyarakat yang sedang manugal.

Hingga sampai saat ini, masih ada sebagian masyarakat, yang masih melestarikan kepercayaan dan kebudayaan tersebut saat bercocok tanam.

Masyarakat Adat Meratus di Balai Bayumbung, Balai Bidukun, Balai Mawak, serta balai di daerah Kabupaten Tapin dan Banjar masih ada yang melestarikannya. Bahkan, tradisi Kurung-kurung ini dimasukkan dalam festival budaya di Loksado beberapa waktu lalu. (*)

Komentar

Jangan Lewatkan