oleh

Kumpulan Karomah Wali Allah, Robiatul Adawiyah; Sejak Lahir Sudah Dipelihara Dari Harta Yang Subhat (3-Habis)

Nama Robiatul Adawiyah, sebagai seorang sufi perempuan pertama, sangat masyhur dalam sejarah pedaban Islam. Wanita dengan nama lengkap Ummu al-Khair bin Ismail al-Adawiyah al-Qisysyiyah ini lahir pada suatu malam di Basrah (Irak) pada 717 Masehi. Ayah dan ibunya berasal dari suku Atiq yang bersahaja.

Sururin dalam Rabi’ah al-Adawiyah Hubb al-Illahi (2000) mengutip Fariduddin al-Attar yang merawikan, kehidupan keluarga Robiatul Adawiyah terbilang sangat memprihatinkan. Ketika Robiatul Adawiyah lahir, rumah mereka sangat gelap.

Mereka tidak memiliki setetes minyak pun untuk menerangi lampu. Bahkan, mereka tidak mempunyai kain sehelai pun untuk melindungi bayi yang baru lahir itu dari hembusan angin dingin. Namun, tanda-tanda kebaikan dalam diri Robiatul Adawiyah sudah mulai tampak.

Dikisahkan, ayah Robiatul Adawiyah tertidur sambil memeluk bayi perempuannya. Dalam tidur, ayahnya mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW yang berkata, “Janganlah engkau bersedih hati karena putrimu yang baru lahir itu kelak akan menjadi orang yang terhormat.”

Masih dalam mimpi, Rasulullah SAW berpesan kepada ayah Robiatul Adawiyah agar menulis sebuah surat kepada gubernur (‘amir) Basrah, “Tulislah: ‘Wahai ‘amir, engkau biasanya membaca shalawat 100 kali setiap malam dan 400 kali setiap malam Jumat. Tetapi, dalam Jumat terakhir ini engkau lupa melaksanakannya. Karena itu, hendaklah engkau membayar 400 dinar kepada yang membawa surat ini sebagai kafarat atas kelalaianmu.’”

Keesokan paginya, ayah Robiatul Adawiyah melaksanakan perintah Nabi SAW sebagaimana diperolehnya dalam mimpi. Ia tidak bisa menemui langsung sang gubernur. Karenanya, surat itu dititipkan kepada pasukan penjaga. Namun, justru gubernur Basrah sendiri yang kemudian mendatangi rumah keluarga Robiatul Adawiyah sambil memberikan uang ratusan dirham. Menurut Sururin, inilah salah satu cara Allah untuk menjaga Robiatul Adawiyah sejak dini dari harta yang haram atau syubhat.

Kehidupan sang salik tidak hanya menggetarkan orang Islam atau generasi sezamannya. Orientalis Louis Massignon memuji perikehidupan Robiatul Adawiyah sebagai “suatu kehidupan yang menyebarkan harum wangi ke orang-orang sekitarnya.” Sampai kini, ajaran-ajaran tasawuf salik perempuan tersebut masih bergema dan dipelajari, khususnya mengenai cinta (mahabbah) dan kedekatan (al-uns) kepada Allah.(republika.co/koranbanjar.net/sir)

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: