Kisah Tiga Sekawan Spesialis Pembaca Alquran di Kuburan

Kiri ke kanan: Syahruddin, Badruddin, Syarbani, sedang khusyuk membaca Alquran, tepat di samping kuburan orang baru meninggal, di makam Muslimin Marabahan, Minggu (16/6) malam. (foto: donny irwan/koranbanjar.net)

MARABAHAN, KORANBANJAR.NET – Udara dingin malam tak dirasa, bahkan kantuk pun harus dilawan. Belum lagi serangan nyamuk yang harus mereka tahan jika memang sedang berlangsung musim penghujan. Begitulah sebagian kecil dari hal terberat yang dialami tiga warga Pemakuan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar ini, Syarbani, Badruddin (44) dan Syahruddin (46), spesialis pembaca Alquran di kuburan orang baru meninggal.

Laporan Jurnalis KoranBanjar.Net, DONNY IRWAN, Marabahan – Barito Kuala

Tugas berat yang tampak mereka nikmati ini mereka jalani sesuai dengan permintaan keluarga almarhum yang bersangkutan untuk membaca Alquran selama tiga hari tiga malam di kuburan. Mereka bertiga menyebutnya dengan istilah menjaga kubur.

Selama bermalam di kuburan, aktivitas mereka memang benar-benar dipenuhi dengan membaca Alquran secara bergantian hingga tamat. Yang menghentikan mereka melafalkan Alquran hanyalah waktu makan atau minum, tidur sebentar, berkomunikasi dengan keluarga melalui telepon seluler, berwudu, dan mandi. Itupun jika di sekitar kuburan tersedia sumber air yang cukup. Semua aktivitas itu selalu mereka lakukan secara bergantian.

Bagi Kakek Syarbani yang lebih berpengalaman menjaga kubur dibanding si kakak beradik, Badruddin dan Syahruddin, tentu hal berat itu akan lebih terasa santai ia lewati.

Dari bekal fasilitas menjaga kubur yang amat minim hingga yang lengkap pernah ia alami. Kakek Syarbani memang sudah malang-melintang melafalkan Alquran di kuburan orang baru meninggal. Bahkan menurutnya, ia pernah diminta menjaga kubur hingga ke Palangkaraya, Kalteng.

“Kalau perabotan untuk aktivitas sehari-hari selama menjaga kubur ini dari keluarga almarhum yang menyediakan,” ungkapnya saat ditemui koranbanjar.net di sebuah kubur orang baru meninggal, di makam Muslimin Marabahan, Jalan AES Nasution, Marabahan, Minggu (16/6/2019) tengah malam.

Menurut kakek berusia lebih 60 tahun ini, hal terberat yang ia rasakan dalam tugasnya menjaga kubur adalah di saat dirinya harus mengurangi jam tidur pada malam hari.

“Karena membaca Alqurannya tidak boleh putus selama tiga hari, jadi kami tidur pun harus bergantian. Saya tidur malam paling lama hanya dua setengah jam. Begitu bangun saya yang melanjutkan giliran membaca Alquran. Jadi apabila malam itu ada dua orang yang membaca Alquran, satunya tidur. Pergantiannya ya setiap dua setengah jam. Yang kena giliran membaca harus menahan kantuknya,” jelas ayah beranak dua itu.

Dengan suara lirihnya, Kakek Syarbani melafal Alquran di kuburan. (foto: donny irwan/koranbanjar.net)

Tentu tak hanya hal berat secara nyata yang dialami Kakek Syarbani. Sebagai penjaga kubur yang telah berpengalaman selama 20 tahun lebih, dia juga pernah mengalami hal yang mengerikan. Kakek Syarbani biasa bertemu ular kobra besar di kuburan saat ia sedang khusyuk membaca Alquran.

“Biasanya kalau sedang bertemu ular saya hanya bisa berdoa kepada Allah agar dilindungi. Ularnya biasanya datang dari semak-semak, lalu menghampiri saya. Tapi Alhamdulillah saya tidak pernah dipatuknya. Biasanya setelah menghampiri, mereka lalu pergi menjauh. Kalau ditemui yang lain, misalnya iblis atau setan belum pernah,” cerita kakek yang sehari-harinya bekerja sebagai petani di kampungnya itu.

Kendati cukup berat, mereka selalu bersedia menjaga kubur setiap diminta. Selain karena tak banyak orang yang menyanggupinya, bagi mereka bertiga tugas menjaga kubur juga menyimpan rezeki yang cukup menjanjikan. Bayangkan saja, jika sudah menamatkan bacaan Alquran selama tiga hari di kuburan, mereka bertiga bisa meraup upah hingga Rp 5 juta.

“Negonya biasanya setelah selesai tiga hari menjaga kubur. Yang saya alami biasanya kami diberi upah dari Rp 1,5 juta sampai Rp 5 juta. Tapi kami tidak pernah mematok angka upah secara pasti. Setelah diupah, uangnya lalu kami bagi bertiga,” ucap Syarbani sambil melanjutkan bacaan Alqurannya.

Badruddin membaca Alquran menghadap kuburan. (foto: donny irwan/koranbanjar.net)

Badruddin mengatakan, sebagai sesama penjaga kubur, dirinya juga merasakan apa yang dialami Syarbani. “Pembagian waktu tidur harus sama dan adil. Kalau siangnya masih ada yang ngantuk, maka tidur siang pun harus gantian. Tapi kalau pengalaman hal yang ganjil-ganjil atau yang mengerikan seperti beliau (Syarbani), saya belum pernah mengalaminya,” katanya.

Terlepas dari keyakinan berdasarkan sunah dan riwayat dari mazhab masing-masing, begitulah kepercayaan yang ada di masyarakat. Meski selalu menimbulkan banyak perdebatan tentang boleh atau tidaknya membaca Alquran di kuburan, namun khususnya bagi masyarakat Kalsel sendiri membaca Alquran di kuburan dalam tiga hari setelah kematian seseorang masih kerap dilakukan hingga kini.

Itulah sebabnya bagi Syarbani Cs, kematian bagaikan dua sisi koin yang berlawanan namun tak bisa terpisahkan. Di satu sisi menimbulkan perkara duka bagi keluarga yang ditinggalkan, namun di sisi lainnya mereka melihat ada peluang rezeki yang siap digali di balik kematian tersebut. (*)

BeritaTerkait