oleh

Kisah Perjuangan Ily (II) Hampir Gagal Masuk SMA Hingga Dapat 2 Medali

SEMPAT terjegal faktor ekonomi, hampir saja Ily gagal masuk SMA lantaran tak mampu bayar pendaftaran. Semasa di SMA Kandangan, Gadis bernama lengkap Noorlaili Sari ini mengikuti Porprov edisi Kotabaru dan langsung mengikuti dua cabor. Hebatnya dia mendapat medali dari kedua cabor tersebut. Meski cabor tersebut amat disukainya, namun ada suatu hal yang mengharuskan dirinya berpindah haluan ke cabor gulat. Berikut perjalanannya.

Muhammad Hidayat, Kandangan

ILY hanya bergantung dan tinggal dengan kakek dan neneknya. Meski tergolong kurang mampu, namun tak menyurutkan semangatnya untuk menggapai cita-cita.

Keinginan kuat melanjutkan sekolah selulus SMP, membuat Ily berpikir keras mengumpulkan uang. Saat itu ia mau mendaftar di SMAN 3 Kandangan dengan biaya daftar ulang 600 ribu rupiah.

“Mendaftar dengan duit sendiri yang dikumpulkan, hasil ikut berkebun dengan paman Upik, dan itu ternyata masih kurang 200 ribu,” kenang Ily sekitar 9 tahun silam. Saat ini Ily sudah berumur 24 tahun.

Saking inginnya bersekolah, ia mengadu lagi ke paman Upik untuk meminjam uang menutupi kekurangannya. “Aku kada mahutangi Luh ai, ambil haja duit gasan ikam sekolah, (Aku tidak mengutangi, ambil saja duit itu buat kamu sekolah, red),” ucapnya mengisahkan pamannya saat memberi uang. Pamannya memanggil dengan sebutan Aluh, panggilan untuk perempuan muda.

Singkat cerita, Ily diterima masuk di SMAN 3 Kandangan dengan lancar, sebab pihak sekolah melihat prestasinya, dari piagam sebagai atlet yang dilampirkannya di berkas pendaftaran.

Baca: Kisah Perjuangan Ily (I), Sukses Jadi Atlet Di Tengah Keterbatasan Materi

Hari-hari sekolah Ily ia hanya menggunakan sepeda dengan jarak lebih dari 5 kilometer. Sementara kebanyakan siswa lain berangkat sekolah sudah dengan motor. “Kadang diimbai (digandeng) kawan yang pakai motor. Rasa sedih di hati. Tapi saya sabar, ada saatnya seperti mereka juga bisa naik motor,” tutur wanita yang kini sebagai anggota Satpol PP Provinsi Kalsel itu.

Saat SMA ia masih aktif latihan atletik dan berangkat latihan masih bersepeda. Ia bersyukur prestasi akademiknya masih tidak meleset dari tiga besar, bahkan bisa mengangkat nama sekolah dengan mengikuti kejuaraan tingkat Provinsi dan Nasional.

Saat di kelas satu SMA, kebutulan ada event Porprov Kotabaru VIII 2010, yang menurutnya saat itu adalah event bergengsi sehingga terus giat latihan.

“Saat di latihan menurut beberapa pelatih fisik saya bagus, jadi ditawari ikut latihan tinju, dan saya setuju sehingga Porprov Kotabaru ikut dua Cabor (Cabang Olahraga),” papar perempuan yang mengaku masih ber KTP Hulu Sungai Selatan (HSS) itu.

Tidak main-main, di Porprov edisi Kotabaru itu ia mendapat medali perak untuk cabor tinju dan medali perunggu untuk cabor atletik lari.

Kendati mendapat hasil memuaskan, untuk olahraga tinju tidak diteruskannya. Sebab tidak mendapat izin dari sang nenek yang sudah merawatnya sejak kecil. “Karena kan itu olahraga keras, jadi wajar nenek khawatir terjadi apa-apa,” katanya.

Kisah Perjuangan Ily (II) Hampir Gagal Masuk SMA Hingga Dapat 2 Medali
Ily kini sebagai ASN di Satpol PP Provinsi Kalsel. (foto: istimewa)

Waktu itu pemerintah daerah menjanjikan bonus 13 juta rupiah untuk atlet berprestasi, Ily mengaku sangat terbantu dengan uang bonus itu, dengan uang itu ia bisa membeli sepeda baru, bahkan bisa untuk biaya sampai lulus sekolah.

Bisa saja Ily membeli kendaraan dengan bonus itu, tetapi ia masih belum ingin. Meski berangkat sekolah naik sepeda ia selalu datang tepat waktu, bahkan datang lebih awal daripada petugas pemegang kunci sekolah.

Ily mengungkapkan saat itu banyak yang menyapa sepeda barunya, termasuk pejabat KONI saat itu yang kini menjadi Sekda HSS.

“Saat lewat di depan rumah beliau, pak M Noor mengatakan, Ily lah wahini basepeda hanyar, (Ily sekarang punya sepeda baru),” ucapnya memeragakan kalimat candaan Sekda HSS itu.

Menjelang naik kelas 3 SMA ada lagi Porprov Kabupaten Banjar IX 2013. Entah kurang latihan atau berat badan naik, pada edisi kali ini Ily gagal mendapat medali di cabor atletik. “Sedih sekali sampai membuat menangis,” kenangnya dengan nada kecewa.

Kemudian ada pelatih gulat datang mengajak ikut latihan namanya Darson. Ily mengatakan saat itu di atletik sudah kecil harapan juara lagi, sementara di gulat tinggal mengasah teknik saja lagi, sebab fisik sudah ada dan mental sudah bagus.

Dari situ awal perjalanannya menjadi atlet gulat sampai sekarang. (*)

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: