Kisah Penyelam Mencari Pesawat Lion di Dasar Laut, Inilah Kesulitan yang Dihadapi

JAKARTA – Pencarian badan pesawat Lion JT 610 terus dilakukan para penyelam. Namun pencarian tidak gampang dilakukan, berbagai hambatan dihadapi para penyelam. Seperti yang diutarakan penyelam AKP Ibrahim Sajak.

Saat melakukan penyelaman adalah kuatnya arus laut merupakan salah satu hambatan. Kuatnya arus laut tersebut, dirinya dan penyelam lain bisa terbawa arus hingga jarak lima meter dari titik koordinat pencarian yang ditentukan Basarnas.

“Kendalanya terbawa arus. Ketebalan lumpur kami menyelam sampai 35 meter itu tebalnya 2 meter. Untuk jarak pandang masih bisa dilihat. kendalanya arusnya saja. Dua meter, tiga meter masih kelihatan,” kata Ibrahim.

Ibrahim menjelaskan, setiap hari selama operasi pencarian dan evakuasi, masing-masing petugas, menyelam maksimal 3-4 kali. Penyelam pun diberi waktu untuk menyelam paling lama 15 menit. Lebih dari itu, akan beresiko pada keselamatan jiwa penyelam.

Selain itu, kata Ibrahim, sekali menyelam dirinya juga didampingi tiga penyelam lain. Dan jumlah tim penyelam gabungan dari polisi air, Brimob dan Polda Metro dan juga dari Korps Brimob sekitar 18 penyelam yang disebar di berbagai titik yang telah ditentukan Basarnas.

Dalam kesempatan yang sama kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasteyo mengatakan hasil pencarian hari ini jauh lebih sedikit dibandingkan kemarin. Selain arus bawah dan arus atas yang cukup kuat, cuaca juga tidak secerah kemarin.

Selain itu, Dedi menjelaskan bahwa bagian badan pesawat sudah terdeteksi. Namun dikarenakan arus yang kuat, maka proses pengangkatan badan pesawat pun belum bisa dilakukan. Selain itu pihaknya masih menunggu kapal dari Kementerian ESDM dan PT Pertamina untuk membantu proses pengangkatan badan pesawat tersebut.

“Badan pesawat sudah terdeteksi, sudah kelihatan. Kendalanya arus, sama menunggu peralatan dari Kementerian ESDM, dan Pertamina yaitu crane untuk mengangkut yang kapasitasnya lebih dari 100 ton,” jelas Dedi.

Ketika ditanyakan lebih jauh kapan waktu pasti untuk bisa dilakukan evakuasi badan pesawat tersebut, Dedi tidak bisa memastikan karena masih menunggu peralatan dan instruksi dari berbagai pihak seperti Basarnas.

“Masih menunggu, kapalnya belum ada. Nanti kalau kapalnya sudah datang, baru nanti perintah Kabasarnas, cek ulang kembali, analisa kembali lokasinya. Kalau sudah fix, penyelam turun, masang tali-tali untuk ngangkat, baru bisa diangkat,” imbuhnya.

Sementara itu, pencarian badan pesawat dan korban Lion Air JT 610 rute Cengkareng-Pangkal Pinang yang jatuh Senin (29/10/2018) di perairan Tanjung Karawang, Bekasi, Jawa Barat sudah memasuki hari kelima.

Pada hari kelima pencarian pesawat Lion Air JT610 jurusan Cengkareng-Pangkal Pinang, penyelam menemukan bangku, sabuk pengaman, baju dan juga Al-Quran.

Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan hasil penemuan tersebut diserahkan oleh pihak kepolisian kepada pihak Basarnas, untuk kemudian dikumpulkan di posko utama, Tanjung Priok.

“Jadi hari ini melanjutkan pencairan baik melalui permukaan atau sweeping maupun penyelaman. Khusus hari ini, tim penyelam dan tim sweeping di permukaan menemukan barang yang diduga pesawat dari JT 610, antara lain jok atau seat, tempat duduk, kemudian juga seat belt, dari yang mungkin terhempas. Barang ini akan kita serahkan ke Basarnas yang akan kita kumpulkan menjadi satu di posko Tanjung Priok. Hari ini juga dilakukan penyelaman, ada 18 penyelam yang tentu bergantian dan selalu melaporkan kepada Basarnas apabila ada temuan-temuan barang yang diduga bagian daripada Lion Air itu,” jelas Irjen Pol Agung Budi Maryoto.(gi/lt/voaindonesia.com/sir)