oleh

Kisah Kai Ungku, Kehilangan Saudara Di “Zaman Gerombolan”

Hidupnya sebatang kara tanpa seorang pun keluarga. Abdurrahman menjadi saksi sejarah zaman pergolakan di Kalimantan Selatan. Adik lelakinya menjadi salah satu korban kebrutalan masa pemberontakan kelompok yang disebut ‘Gerombolan’, bahkan dirinya dicurigai sebagai simpatisan gerombolan hingga sempat pergi mengasingkan diri.

Muhammad Hidayat, Padang Batung

Ditemui di rumah kayunya yang sudah sangat tua, kondisinya Abdurrahman tampak lemah. Dia hanya tinggal sendirian di rumah 4×6 meter pemberian pemerintah, di samping pabrik penggilingan padi, Kampung Sungai Bungur, Desa Pandulangan Rt 1, Kecamatan Padang Batung, Hulu Sungai Selatan (HSS).

Ia sering disapa warga jiran sebagai Kai Ungku. Diungkapkannya, panggilan itu berasal dari sebutan ‘Tengku’ yang dulu sering diucapkan teman-temannya. “Tidak tahu kenapa, hanya galar (panggilan,red) mungkin panggilan untuk orang melayu,” ucapnya.

Kai Ungku mengaku ingat usianya saat ini sudah 96 tahun, tetapi sudah lupa tanggal lahirnya. Karena faktor usia, matanya sudah tidak terlalu jelas melihat, bicara hanya pelan seperti dipaksakan, pendengaranpun sudah terganggu. Dan bila berjalan tampak tersuruk bertopangkan tongkat.

“Kada tapi mandangar lagi wahini dipandiri lamun kada hangkuy baucap – Tidak terlalu mendengar lagi jika lawan bicara tidak keras (red),” ucap Kai Ungku.

Kai Ungku tidak lagi memiliki satu pun keluarga. Pernah punya istri dan anak tiri namun kini sudah tiada. Sementara saudara satu-satunya, adik laki-laki bernama Baseri, menjadi korban keganasan kelompok ‘Gerombolan’.

Gerombolan adalah sebutan masyarakat untuk kelompok yang menamakan diri Kesatoean Rakjat jang Tertindas (KRjT), yang memberontak di Kalimantan periode 1950 hingga 1963.

Dalam kondisinya saat ini ia masih ingat kelamnya masa itu. “Semua masyarakat ketakutan dengan teror. Siapa saja yang dianggap mencurigakan masuk wilayah hutan pegunungan akan disandera, dan lebih buruknya sampai dibunuh,” kenang Kai Ungku.

Di zaman itu, perampokan dan perampasan harta masyarakat sering terjadi. Entah dari kawanan gerombolan untuk keperluan hidup mereka, ataupun kelompok lain yang memanfaatkan situasi.

“Tidak hanya oleh kelompok gerombolan. Siapa yang dianggap mencurigakan sebagai simpatisan gerombolan oleh aparat keamanan saat itu bisa ditangkap. Masyarakat saat itu begitu gelisah dan tak tenang,” tuturnya sembari matanya yang tua menerawang.

Seingatnya, wilayah tempat tinggalnya saat ini dahulu tidak seramai sekarang. Sebab dahulu belum banyak rumah penduduk. Masih berupa hutan dan bahkan dianggap sebagai sarang utama pasukan gerombolan.

Yang paling ia sedihkan pada zaman itu, ia kehilangan adiknya, Baseri. Hilang begitu saja. Hanya ada yang mengabarkan bahwa adiknya ditangkap orang, entah aparat keamanan atau gerombolan.

“Jadi, aku lamun aparat haja yang manangkap kada mungkin. Sebab bubuhannya kenal haja (Jadi menurutku jika aparat pemerintah yang menangkap tidak mungkin, sebab para aparat kenal, red),” kisahnya.

Terdengar kabar, adiknya dibawa ke hutan pegunungan sarangnya gerombolan yang sering berpindah-pindah antara Ambutun, Sungai Bungur, Telaga Langsat sampai Madang.

Setelah sekian lama pencarian, akhirnya ia hanya menemukan bahwa adiknya telah meninggal dan dikubur di daerah Desa Madang. “Sampai saat ini masih ada kuburnya, namun saya sudah tidak bisa merawatnya,” ucap Kai Ungku sedih.

Dengan nada kesal ia mengungkapkan rasa sesalnya terhadap -tindakan gerombolan yang mengklaim diri sebagai tertindas, tetapi malah membuat luka mendalam bagi masyarakat demi kepentingan kelompoknya.

“Apa ada hasilnya? Semua tidak ada hasil. Masyarakat sengsara, gerombolan membunuh, aparat juga membunuh, hasilnya mereka satu persatu menyerahkan diri dan dieksekusi dan mati,” sesalnya.

Meski tak mengisahkan langsung, menurut kabar yang beredar dari kerabat jauhnya, saat masa pergolakan itu ia merupakan orang yang rajin beraktivitas di masjid di kampungnya sehingga dicuriga sebagai simpatisan gerombolan.

Sebab masa itu gerombolan diduga kuat berafiliasi dengan kelompok DI/TII yang visinya mendirikan negara Islam di Indonesia. Alhasil, ia pernah ditangkap dan dilempar ke dalam truk untuk diamankan.

Setelah bebas, ia pun mengasingkan diri sampai ke Kalimantan Barat. Hingga memutuskan diri menjadi perantau yang berpindah-pindah tempat dan akhirnya masa tuanya kembali ke kampung halaman.

Meski sudah tak berdaya, syukurnya masyarakat setempat memperhatikan kondisinya dengan rutin mengantari makanan. “Bila siang sekitar pukul satu biasa ada yang datang mengantar makanan, kurang tahu siapa tapi katanya suruhan aparat desa,” tutur Kai Ungku.

Ia sering mendapat bantuan beras, kadang menjelang puasa atau lebaran juga mendapat bantuan berupa uang yang tidak begitu tahu siapa yang memberikannya. Hari-hari hanya dilewatinya dengan lebih banyak berdiam di rumah, sudah tak sanggup lagi berjalan jauh.*

Komentar

Jangan Lewatkan