oleh

Kisah Inspiratif Owner RG, Putra Qomaluddin AN (3); Investasi Modal, Terpaksa Jual 2 Sepeda Motor

Tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan dan perjuangan. Hal demikian juga dialami Owner Restu Guru, Putra Qomaluddin AN dalam merintis bisnis percetak dan digitalnya. Bahkan untuk “membayar” sebuah kesuksesan, dia harus merelakan 2 unit sepeda motor kesayangannya untuk dijual sebagai modal awal.

DENNY SETIAWAN, Banjarbaru

Selesai menuntut ilmu di Yogyakarta, tahun Qomaluddin telah menikah dengan wanita pujaannya. Sejak itu dia tidak bisa lagi hanya berfikir untuk diri sendiri, tetapi harus mulai memikirkan kesejahteraan keluarga.

“Saya harus segera merealisasikan rencana, dimulai dengan mengubah ruang tamu rumah orangtua menjadi outlet digital printing dan percetakan. Dengan dua komputer bekas, 1 laptop bekas, 2 printer Canon 2770 serta Epson ukuran A3. Perangkat itu digunakan untuk merchandising, seperti alat pembuat pin, mug dan cutting sticker bekas,” ujarnya.

Perjalanan usaha di bulan ketiga, dia harus mempersiapkan investasi yang terbilang cukup besar di masa itu. Sehingga saya harus berhutang. Saya harus rela dua sepeda motor kesayangan dan perangkat yang berkaitan dengan modifikasi sepeda motor. Dana bisa terkumpul, tapi masih kurang sekitar Rp85 juta. Dengan penuh resiko, dia memberanikan diri melakukan pinjaman ke bank dengan jaminan BPKB mobil Suzuki APV milik orangtuanya.

“Saya mohon izin untuk meminjam dengan target satu tahun peminjaman. Sungguh terasa untuk persiapan tempat produksi, semen dan porselen, saya cicil per box. Bahagia ketika melihat ruang produksi jadi. Dengan target pasar utama digital printing outdoor.  Alhamdulillah, berjalan dengan lancar. Di bulan kesembilan, saya  merancang untuk investasi mesin indoor di tahun kedua usaha,” ungkapnya.

Mesin indoor menjadi primadona, karena investasi di mesin cetak tersebut di Banjarmasin terbilang masih jarang, dan pasar dalam radius 25 km. Market itu dikuasai karena dukungan teknologi cetak yang baru. Alhasil, investasinya dilanjutkan ke mesin docu colour A3+.

“Tahun ketiga, saya membuka cabang baru di Martapura dengan kelengkapan mesin outdoor, indoor. Setahun berikutnya saya menambah investasi baru yaitu mesin laser cutting. Dan untuk di pusat, saya tambahkan mesin outdoor teknologi terbaru. Jadi total ada 3 unit outdoor dan 2 unit indoor. Martapura berjarak sekitar 20 km dari lokasi pusat di Banjarbaru, Landasan Ulin,” kenangnya.

Visi bisnisnya adalah menjadi one post printing service terlengkap, terbesar di Banjarmasin. Dengan pelayanan terkonsep, tersistem, menjadi alternatif pertama cetak digital printing Banjarmasin. Terus update informasi, dan investasi ke alat-alat produksi yang dibutuhkan masyarakat. Memantapkan kepada pembangunan divisi advertising yang lebih profesional.

“Peluang pasar di Banjarmasin sangat menarik, harga masih 30-40% di atas perbandingan pasar di pulau Jawa. Peluang semakin tinggi pada bidang media creative, seperti contohnya pembuatan sign yang lengkap dengan tiang, panel, dan lainnya. Atau seperti pemuatan plakat, sign name, lengkap dengan panel, sticker dan pemasangn. Harga menjadi gelap, dan konsumen maunya jadi satu paket, maka nilai jasa yang terjadi akan lebih tinggi dari pada harga produksi standar. Opsi akan pembuatan di tempat lain menjadi rendah, karena perhitungan efektifitas, dari segi waktu, konsultasi media.

Pasar lain terjadi yaitu blocking sticker body motor, dengan digital printing indoor berikut dengan pemasangan, ini cukup ramai. Nilai jasa menjadi sangat tinggi, bisa mencapai 300 %. Ini bisa dikatakan trend industri digital. Seperti branding mobil promosi.

“Di wilayah kami harga jasa pemasangan masih tiga kali lipat di atas cost produksi. Pada akhirnya kami berkembang merambah kepada jasa pembuatan media advertising. Iklim pasar masih mendukung, dengan penyetaraan harga yang terkoneksi antar percetakan. Harga amatir dan umum masih dijaga dalam persaingan yang sehat,” jelasnya.(bersambung)

Komentar

Jangan Lewatkan