BNN

Kisah Hikmah (19); Ponpes di Tengah Hutan, Syafwana Al Mustafa Tampung Santri Duafa

  • Bagikan

Kisah hikmah kali ini penting untuk disimak warga Kalimantan Selatan umumnya, dan warga Kabupaten Banjar pada khususnya. Kisah yang menceritakan perjalanan berdirinya sebuah pondok pesantren yang terletak di desa terpencil bernama Desa Alimamar, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar. Bahkan dapat dikatakan, pesantren yang berada di tengah hutan. Karena letaknya yang sangat jauh dari kota, di antara kebun-kebun karet dan sangat sunyi.

Pondok pesantren ini bernama Alma’hadun Syafwana Al Mustafa, didirikan sekitar 10 tahun silam atau tahun 2010 oleh seorang ustad lulusan pondok pesantren terkemuka di Kota Tarim yakni, Dalwa bernama Ustad Syamsul Qomar asal Desa Sungai Tuan, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar.

Perjalanan menuju Ponpes Al Ma’hadun Syafwana Al Mustafa tidaklah gampang, butuh waktu sekitar 2 jam untuk dapat tiba di pondok pesantren terebut. Mencapai lokasi pondok pesantren ini harus melewati jalan sempit, berbatu, becek, dan bahkan kubangan lumpur cukup dalam. Sesekali harus melintasi jembatan darurat, berbahankan susunan batang pohon tanpa disertai pagar di bagian kanan maupun kiri.

Tim Indahnya Berbagi dari koranbanjar.net, Kamis, (6/5/2021), sengaja mendatangi Ponpes Alma’hadun Syafwana Al Mustafa bersama perwakilan PDAM Intan Banjar, untuk menyerahkan donasi dan konsumsi berbuka puasa.

Perjalanan menuju Ponpes Alma’hadun Syafwana Al Mustafa berhasil dicapai setelah melintasi berbagai kesulitan di jalan selama 2 jam dari pusat Kota Martapura, dengan dibantu navigator, seorang santri pondok sebagai penunjuk jalan yang menunggu di mulut Jalan PTPN 13 Danau Salak.

BACA:  Kemlu: Indonesia Tak akan Tergesa-gesa Akui Pemerintahan Taliban

Tiba di pondok, Tim Indahnya Berbagi koranbanjar.net disambut Pimpinan Pondok Pesantren, Ustad Syamsul Qomar yang tengah berpakaian rapi dan sorban serba putih. Dia ditemani seorang pengajar, mengajak tim ke ruang tamu di pondok tersebut.

Salah satu jembatan yang dilewati menuju Ponpes Syafwana Al Mustafa di Desa Alimamar, Kabupaten Banjar. (foto: koranbanjar.net)
Salah satu jembatan yang dilewati menuju Ponpes Syafwana Al Mustafa di Desa Alimamar, Kabupaten Banjar. (foto: koranbanjar.net)

Sebelum penyerahan donasi berlangsung, perbincangan akrab pun mengalir, Ustad Syamsul Qomar menceritakan perjalanan dia mendirikan Ponpes Alma’hadun Syafwana Al Mustafa dengan panjang lebar.

Kisah pendirian pondok diawali dengan adanya wakaf tanah seluas 2 hektar dari seorang dermawan asal Astambul. Setelah menerima wakaf itu, Ustad Syamsul Qamar meminta nasihat dari mendiang KH. Abah Anang Djazouly Seman semasa hidup di Komplek Pangeran Antasari Martapura.

Oleh Abah Anang –demikian KH Abah Anang Djazouly akrab disebut, red–, Ustad Syamsul Qomar dianjurkan untuk mendirikan pondok pesantren di tanah alkah itu. Tanpa pikir panjang, Ustad Syamsul Qomar mulai mendirikan dengan biaya pribadi, serta bangunan seadanya.

“Pertama kali hanya satu bangunan, santrinya juga cuma tiga orang, berempat dengan saya sendiri. Di ruangan itu santri belajar, di situ memasak, dan di situ pula tidur. Namanya pondok di tengah hutan, yang didengar setiap hari hanya suara jangkrik, suara monyet dan babi. Pondok pun tanpa listrik, cuma pakai lampu duduk (teplok),” kenang Ustad Syamsul Qomar.

Alasannya mendirikan pondok pesantren di tengah hutan, karena tanah yang dimiliki untuk membangun cuma tanah wakaf itu, yang kebetulan berada di tengah hutan. Mau membeli atau memiliki tanah di tempat yang ramai, sudah tentu butuh biaya yang tinggi. “Kalau beli tanah di kota atau tempat ramai, ya pasti mahal,” ucapnya.

BACA:  Kotabaru Siap Siaga Perbatasan Kalsel - Kaltim

Perjuangan yang dilakukan Ustad Syamsul Qomar untuk mendirikan sebuah pondok pesantren memang terbilang getir. Tanpa donatur, dan tanpa subsidi pihak manapun. Semua dilakukan atas dasar ketulusan, keinginan besar untuk memberikan pendidikan agama kepada kaum miskin.

“Sebetulnya banyak orang yang ingin menyekolahkan anak ke pondok pesantren, tetapi tidak mempunyai biaya. Bahkan sampai harus membayar tujuh juta agar bisa masuk pondok. Di sini kami tidak memungut biaya sepeser pun, karena rata-rata santri yang mondok berasal dari duafa, dan sebagian anak yatim. Pondok menyediakan makan, bahkan membelikan kitab,” jelasnya.

Ustad Syamsul Qomar sangat meyakini bahwa, pertolongan Allah Swt sangat nyata. Hingga sekarang dia masih bisa memberikan pendidikan, menghidupi serta menyediakan kitab-kitab yang dibutuhkan para santri, meski dengan persediaan sebatas kemampuan. “Kadang ada orang yang memberi beras, kemudian sayur mayur dikasih dari sisa dagangan penjual di pasar subuh. Sementara untuk ikan, kadang hasil pancing dari anak-anak santri. Kalau ikan yang diperoleh sedikit, kadang dikasihkan santri, cuma untuk guru kata mereka,” ujar Ustad Saymsul Qomar.(bersambung)

  

(Visited 52 times, 1 visits today)
  • Bagikan

(Visited 52 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *