Kisah Habib Basirih Langsung Dari Dzuriat Ketiga; Kholwat di Atas Pohon Kelapa

  • Bagikan
Habib Hamid Basirih (kiri) dan Cicitnya Habib Fathurrahman (kanan). (foto: dok koranbanjar.net)

Habib Basirih Hamid Bahasyim adalah seorang kekasih Allah (Waliyullah) yang bergelar Al Quthub Al Madzjubillah. Dia salah seorang tokoh ulama kharismatik yang bermukim, sekaligus bermakam di Jalan Keramat RT 9 RW 01, Kelurahan Basirih, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dan lokasi makamnya menghadap ke sungai yang ada di seberang jalan.

Kisah tentang riwayat hidup maupun karomah Habib Hamid Bahasyim yang dikenal dengan sebutan Habib Basirih banyak ditemukan di situs-situs kegamaan dan kumpulan ulama Tanah Banjar, Kalimantan Selatan. Namun berbeda jika kisah tentang Habib Basirih langsung disampaikan oleh dzuriatnya yang ketiga atau cicit dari Habib Basirih. Berikut kutipannya.

Habib Basirih merupakan sosok ulama yang masih satu turunan dengan Sunan Ampel (Surabaya). Mereka sama-sama keturunan dari waliyullah Muhammad Shohib Mirbath (generasi ke -16 dari Rasulullah Saw).

Berbicara tentang sejarah atau peninggalan Habib Basirih, Cicitnya Habib Fathurrahman Bahasyim kepada koranbanjar.net menceritakan, Senin, (2/3/2021), salah satu peninggalan Habib Basirih yang mudah ditemukan sekarang adalah rumah berarsitektur rumah bahari yang dia tempati sekarang di Jl Keramat, Basirih, berdekatan dengan makam Habib Basirih. Rumah tersebut banyak berbahankan kayu ulin dan dilengkapi ornamen bangunan bahari.

MAKAM – Makan atau Kubah Habib Hamid Basirih di Jl Keramat, Basirih, Kota Banjarmasin. (foto:koranbanjar.net)

Sedangkan peninggalan Habib Basirih yang lain banyak terpencar ke mana-mana. “Sebenarnya peninggalan beliau (Habib Hamid Basirih) ada, tetapi terpencar di mana-mana. Karena sewaktu dahulu, apabila Habib Hamid kedatangan tamu yang bersilaturahmi, beliau selalu memberikan benda-benda yang ada di rumah. Justru itu, untuk peninggalan beliau sudah tidak ada lagi kami simpan,” kata Habib Fathur.

Ditanya soal kamar kholwat yang sering digunakan Habib Basirih, dikatakan Habib Fathur, sekarang kamar tersebut sering digunakan cucu dari Habib Hamid, yakni Syarifah Khadijah Bahasyim. Selain kholwat di kamar, Habib Basirih juga pernah kholwat di atas pohon kelapa, sambil menganyam daun kelapa mejadi ketupat. “Ujar orang banjar urung ketupat,” katanya.

Diterangkan Habib Fathur, Habib Basirih memiliki tiga saudara. Ayah Habib Hamid Basirih bernama Al Habib Abbas Bahasyim mempunyai istri bernama Syarifah Sya’anah.

Habib Abbas Bahasyim dan Syarifah Sya’anah menurunkan Habib Hamid bin Abbas Bahasyim. Kemudian Habib Hamid Bahasyim menurunkan Habib Hasan Bahasyim, selanjutnya Habib Hasan menurunkan Habib Eidrus Bahasyim.

Nah, Habib Eidrus Bahasyim atau cucu dari Habib Hamid memiliki 9 keturunan dari dua istrinya.

Habib Eidrus Bahasyim dan istri pertamanya, Syarifah Raguan Baraqbah memiliki anak sebagai berikut;

Syarifah Fizria Bahasyim (Banjarbaru), Al Madzjub Billah Habib Fitri Hamid Bahasyim (Banjarmasin), Habib Fathurracman Bahasyim (Banjarmasin) serta Habib Fadhil Bahasyim (Samarinda).

Kemudian Habib Edirus Bahasyim dan istri keduanya, Syarifah Hani Bilfaqieh memiliki anak sebagai berikut;

Habib Ali Bahasyim (Jakarta), Syarifah Zuraida Bahasyim (Banjarmasin), Habib Fuad Bahasyim (Banjarmasin), Habib Husien bin Abbas Bahasyim (Cicit Habib Hamid bin Abdullah Bahasyim / Anggota DPD), Syarifah Bainah binti Abbas Bahasyim (Cicit Habib Abdurrahman Bahasyim / Anggota DPD).

Sementara itu, kebiasaan Habib Habib Hamid Basirih, dikisahkan Habib Fathurrachman, sering tidk bisa dinalarkan dengan akal manusia, karena kadang masyarakat pada umumnya tidak bisa menerima. “Karena beliau selalu berlaku dalam hal yang aneh, kita tidak paham apa dan maksud beliau,” ujarnya.

Salah satu kisahnya, seorang pedagang ikan berperahu menolak panggilan singgah oleh Habib Hamid. Si pedagang berpikir tak mungkin Habib Basirih membayar dagangannya. Akibatnya, selama satu hari penuh tak satupun barang jualan pedagang ikan tersebut yang laku. Sementara pedagang lain yang menghampiri panggilan Habib Basirih, berkayuh menuju rumah lebih cepat sebab dagangannya hari itu tak bersisa.

Nama kampung Basirih disebut sebagai tempat berkumpulnya pejuang yang selalu datang ke Habib Basirih.  “Sejarah ini saya ambil dari salah satu cicit Habib Basirih,” pungkasnya.(mj-33/sir)

NEWS STORY
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *