Berita UtamaKab Banjar

Keluhkan Tak Ada Jembatan Alternatif, Pembakal Desa Belimbing: Ini Merugikan Warga

Pemkab Banjar secepatnya akan lakukan pembangunan jembatan baru dari besi

SUNGAI PINANG, KORANBANJAR.NET – Pasca runtuhnya jembatan di Desa Belimbing, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, pada Jumat (21/12/2018), hingga kini tidak ada dibikinkan jalan/jembatan alternatif dari pemerintah, akibatnya mengganggu aktifitas warga.

Jembatan tersebut merupakan penghubung 4 desa, yakni Desa Rantau Bakula, Belimbing Baru, Belimbing Lama dan Desa Angkipih Kecamatan Peramasan.

Menurut Pembakal Desa Belimbing, Khairur Raji, robohnya jembatan tersebut karena jembatannya sudah tua, ditambah dilewati truk bermuatan beban berat.

Ia mengatakan, akibatnya hingga kini warga menjadi sulit beraktifitas dan merugikan warga, diantaranya turunnya pendapatan.

“Yang pertama nilai jual hasil kebun menjadi menurun, karena kan warga di sini mayoritasnya bertani dan berkebun, juga masyarakat yang ingin berkunjung menjadi terhambat. Kemudian pendidikan, apabila air dalam anak-anak tidak bisa sekolah karena tidak berani menyeberang,” ungkap Raji via seluler kepada koranbanjar.net Rabu (26/12/2018).

Keluhkan Tak Ada Jembatan Alternatif, Pembakal Desa Belimbing: Ini Merugikan Warga
Pembakal Desa Belimbing, Fakhrur Raji saat tinjau jembatan roboh. (foto: ist)

“Kemarin kita sudah melapor ke berbagai pihak pemerintah, sampai foto-fotonya saya kirim, namun hingga saat ini belum ada respon untuk membikinkan jembatan alternatif,” sambungnya lagi.

Bahkan dikatakannya, sudah ada beberapa orang yang jatuh ke sungai akibat terpeleset karena jalan yang licin. “Jadi kemarin kita sudah melakukan gotong royong swadaya masyarakat untuk membikin jalan darurat di samping jembatan itu,” tuturnya.

Raji berharap pemerintah terkait dapat membantu mengatasi permasalahan tersebut dan secepat mungkin membangun kembali jembatan yang baru.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Banjar, H Mokhamad Hilman, mengatakan jembatan tersebut sebenarnya sudah masuk dalam APBD Kabupaten Banjar 2019, dan sudah didesaign, namun ternyata lebih dahulu roboh.

“Tanggal 29 November kemarin sudah diketok palu untuk pembangunan jembatan tersebut, ternyata jembatan tersebut lebih dahulu roboh dari yang direncanakan, makanya kita akan meresaign lagi jembatan tersebut,” ujarnya kepada koranbanjar.net saat dikonfirmasi, Rabu (26/12/2019).

Jembatan roboh di Sungai Pinang
(foto: ist)

Kemarin, lanjutnya, sudah kita cek ke lokasi apakah bisa dibikinkan jembatan alternatif, ternyata secara teknis tidak memungkinkan dan pula akan memakan biaya yang besar.

“Kalau dibikinkan jembatan darurat di sana, dikhawatirkan akan kembali roboh lagi diterjang banjir, terlebih biaya pembuatan jembatan darurat di situ sangat mahal karena begitu dalam ke bawah dan panjang, makanya jika dibikinkan rawan roboh diterjang banjir” beber Hilman.

Evaluasi tersebut diungkapkannya sudah ditambah melalui wawancara masyarakat sekitar. “Di sana sering terjadi banjir bah (tiba-tiba) dan lumayan deras dan dalam hingga 3 meter, apalagi banjirnya itu membawa batang-batang kayu pohon, jika dibikinkan jembatan alternatif maka akan menerjang tiangnya, apalagi tiangnya itu banyak sehingga bisa merobohkan lagi dan akhirnya kita sia-sia membangun dengan biaya yang banyak,” paparnya.

Banjirnya itu, lanjut Hilman, sekitar dua jam. “Memang saat banjir itu tidak bisa dilalui, namun setelah banjir berhenti masyarakat baru bisa menyeberang melalui jalan alternatif yang di samping itu,” ucapnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan kepada warga agar melalui jalan alternatif tersebut selama menunggu pembangunan jembatan.

“Makanya itu kita akan mempercepat pembangunan jembatan dengan mempercepat lelang. Rencanya akan dibangun jembatan girder baja dengan bentang panjang 20 meter dan lebar 5,5 meter dan beban maksimal 10 ton,” jelas Hilman.

Untuk pembangunan jalan tersebut direncanakan senilai 700 juta. Ia berharap proses lelang cepat dan jembatan baru pun semakin cepat dinikmati masyarakat. “Waktu idealnya (pembangunan) memang 6 bulan, namun kita berharap 4 bulan sudah bisa selesai,” pungkasnya. (dra)

Tags

Tinggalkan Balasan

Close