oleh

Kampung Buku; Tak Sekadar Tempat Nongkrong Biasa

BANJARMASIN, koranbanjar.net – Jika Anda mencari tempat nongkrong namun sekaligus juga dapat menambah wawasan, Kampung Buku di kawasan Sultan Adam Banjarmasin ini pilihan yang pas. Di sini tidak sekadar tempat menikmati kopi, teh, atau cemilan, tetapi juga bisa baca dan beli buku.

Dan bila beruntung, terlebih jika Anda menyukai sastra dan hal berbau seni, di sini kerap berkumpul para sastrawan dan seniman yang ngumpul santai diskusi ringan.

Jangan bayangkan Kampung Buku yang baru dibuka pada Rabu (10/7/2019) malam ini layaknya sebuah kampung atau perkampungan pada umumnya. Ini hanyalah sebuah tempat yang terdiri dari empat kios yang menyediakan buku-buku, warung makan-minum, dan tentu saja kursi meja tempat untuk para pengunjung.

Keberadaan empat kios buku inilah yang membuat tempat ini menarik. Sebab itu pula dinamakan Kampung Buku. Mereka yang datang tidak sekadar ngobrol ngalor-ngidur belaka, tapi juga bisa sambil membaca buku atau tukar pikiran dengan seniman yang kerap datang di sana.

Terlebih, pemilik Kampung Buku ini memang seorang seniman sekaligus juga dosen seni. Adalah Hajriansyah, dikenal sebagai pelukis dan penulis, yang sengaja membangun Kampung Buku ini sebagai wadah nongkrong yang intelek dan keren.

“Kita tahu, ada banyak tempat nongkrong dan kafe di Banjarmasin ini. Namun belum ada tempat yang bisa nongkrong santai, tapi juga sekaligus tempat untuk menambah wawasan. Nah, berangkat dari situlah saya membangun Kampung Buku ini,” cerita Hajriansyah kepada koranbanjar.net, Minggu (14/7/2019) malam.

Karena telah mengenal dan berkawan dengan para penjual buku online di Banjarmasin, tidak sulit bagi Hajri mengajak mereka untuk bergabung.

Dengan persiapan kurang lebih satu bulan, akhirnya terbangunlah kios-kios buku yang dikelola oleh Arif (Sabuku BookShop), Reja Fahlevi (Thalib BookShop), Zian (TandaPetik Books), dan Noupal (Antasari) yang spesialis menjual buku –buku langka.

“Empat orang ini memang telah lama berjualan buku secara online. Dan mereka sangat bersemangat dengan dibuatkannya wadah seperti ini. Sekarang mereka bisa langsung bertemu dan bertransaksi langsung dengan pembeli,” ucap Hajri, yang mengaku sering berada di Kampung Buku kumpul –kumpul dengan pengunjung, terutama kalangan seniman, mahasiswa, dan anak –anak muda.

Sejak awal dibuka, Kampung Buku ini memang menjadi target singgah dan kunjungan para sastrawan dan seniman Kalsel. Sebut saja di antaranya penyair Micky Hidayat, Fahmi Wahid penyair asal Balangan, aktor kawakan Yadi Muryadi, pegiat seni asal Banjarbaru HE Benyamine, pelukis Sulistyono Hilda, dan penulis Randu.

Para mahasiswa juga kerap datang, termasuk wartawan –wartawan muda yang mulai menjadikan Kampung Buku ini sebagai tempat nongkrong mereka.

Ke Depan, Dibuka Seluruh Kalsel.

Yang menarik, Kampung Buku ini direncanakan akan dibuka di seluruh Kalsel. “Kami punya mimpi, Kampung Buku ini nantinya akan berkembang dan ada di seluruh kabupaten kota.

Kami ingin menularkan budaya literasi kepada anak –anak muda banua. Bahwa nongkrong tidak sekadar minum kopi, tetapi juga ada wawasan yang didapat,” cetus Hajri, yang juga pengoleksi ribuan buku di rumahnya.

Namun tentu saja tidak buru–buru. Ia bertekat untuk meramaikan lebih dulu Kampung Buku di Sultan Adam ini dengan beragam kegiatan.

Dan klop. Karena pengelola warung kopi di Kampung Buku ini seorang dramawan kawakan Edi Sutardi. Kang Edi, begitu seniman yang khas dengan kumisnya ini, pun sudah merancang acara bersama-sama Hajri dan para pengelola kios buku.

“Saat ini kami sedang menyusun pementasan kecil, pembacaan cerpen, dan juga kelas menulis,” ujar Kang Edi. “Tunggu saja, nanti akan ada informasi kegiatan yang kami bagi di media sosial,” sebutnya.

Suasana di Kampung Buku ini memang kental dengan seni. Sejumlah poster besar tergantung dengan gambar wajah tokoh-tokoh seperti Ajamuddin Tifani,

Burhanuddin Soebely, Hijaz Yamani, dan Darmansyah Zauhidhie, lengkap kutipan puisi mereka. Barangkali, jika Anda ingin mendapatkan inspirasi, tak salahnya mencoba sesekali mampir di sini. Di Kampung Buku. (fly)

Komentar

Berita Terkini