oleh

Kami Berbincang Soal Hidup Sehat Dengan Sesepuh 144 Tahun Di Meratus

TAK banyak orang di Indonesia yang usianya lebih 100 tahun. Umberi, salah satu sesepuh suku dayak Meratus berumur 144 tahun. Kendati usianya yang sangat tua, tapi Umberi masih sehat dan kuat beraktifitas fisik, bahkan masih sanggup memeragakan tarian Bakanjar pada upacara Adat Meratus.

Fakta ini menambah daftar yang menakjubkan di Meratus. Bagaimana cerita dan rahasianya? Ikuti tulisan ini hingga selesai.

Muhammad Hidayat, Loksado

Di pedalaman Meratus, kebanyakan masyarkatnya jarang terkena penyakit keras, juga banyak yang berumur panjang. Hal itu berkaitan dengan gaya hidupnya yang sehat, sehingga tidak heran jika melihat masyarakat Meratus lanjut usia tenaganya bisa masih lebih kuat dari orang yang hidup di kota.

Bagaimana tidak, tiap hari mereka bangun subuh, pergi ke hutan jalan kaki turun naik gunung, entah bertani maupun berburu. Soal makanan yang dikonsumsi, masih banyak yang tidak mengandung zat kimia.

Pun demikian saat menyikapi penyakit ringan, mereka tidak menggunakan obat-obatan kimia untuk berobat, melainkan membuat ramuan dari tumbuh-tumbuhan yang tersedia melimpah, di alam Meratus dengan sejuta khasiat.

Salah satunya Umberi, pria yang kini tinggal di Dusun Harakit Kabupaten Tapin, mengaklaim usianya sudah 144 tahun, saat Saya temui di dusun kelahirannya, Bayumbung, tak lama tadi.

Meski tidak ada bukti secara tertulis, namun warga dayak Meratus Dusun Bayumbung, menyatakan demikian. Dari perjalanan hidupnya, banyak pesan moral yang bisa diambil.

Umberi mempunyai 2 anak dari istri pertama yang sudah cerai. Istri yang kedua sudah meninggal, dan istri terakhirnya juga memiliki 2 anak.

Diakuinya, tidak ada hal istimewa yang dilakukan, agar bisa berumur panjang. “Aruah abahku 155, kira-kira aku ni parak ai manunti (Almarhum ayahku usianya sampai 155 tahun, kira-kira aku hampir sampai sudah juga,” ujar tokoh adat Balai Bayumbung itu.

Mengkonsumsi Makanan Sehat

Makanan yang dikonsumsi Umberi, hanya bergantung dari bahan yang disediakan alam seperti buah, sayur, dan bahan pangan lain yang tentunya ditanam tanpa bahan kimia.

“Aku heran, anak-anak sekarang umurnya singkat. Ini karena mereka selalu mengkonsumsi makanan yang katanya sehat tetapi tidak,” tutur pria asli Dusun Bayumbung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) itu.

Ada benarnya juga, sebab saat ini sayur-sayuran seperti cabai saja, saat sebelum menanam sudah memakai zat kimia. Belum lagi pas tanam, hingga menjaga dari hama tanaman seperti ulat pasti disemprot dengan insektisida.

“Jangankan kita, kumbang saja tidak mau memakan. Kan namanya bahan kimia lama-lama tatandak (menumpuk, red) di tubuh, hingga jadi penyakit,” terangnya.

Dalam prinsip makanan, Umberi juga tidak ada pantangan. Sebab diakuinya, setiap sakit sudah tahu obat tradisional apa yang perlu disiapkan, dan tidak sekalipun berobat ke dokter.

“Aku kalau pesan minuman gulanya harus banyak, kalau tidak manis ku protes. Penjaga warung yang heran bertanya, apakah tidak takut kena kencing manis? Kujawab, aku segala penyakit sudah ada penawarnya, jangan khawatirkan itu,” terangnya mengisahkan.

Berobat Secara Tradisional

Tetapi, mengenai resep-resep obat tradisional ia menegaskan tidak akan memberitahukan ke orang-orang luar. Sebab orang akan mengambil keuntungan banyak dari hal itu. Pernah baru-baru tadi ada orang datang penelitian obat tradisional, dari akar-akaran di kampung tempat tinggalnya, tetapi diabaikannya.

“Kita membawa mereka mencari bahannya, paling hanya sekali diberi upah orang sekitar seratus ribu rupiah. Sedangkan orang itu dapat untung berkali-kali, bahkan seumur hidup.” ujarnya saat ditemui di aruh adat Meratus Balai Bayumbung bulan lalu.

Baca juga: Balai Adat Meratus Tertua Ini Simpan Biji Beras Sebesar Kelapa

Umberi mengingat jelas zaman perjuangan. Bahkan, lagu perjuangan zaman dahulu yang belum pernah Saya dengar sebelumnya, bisa ia nyanyikan lengkap, lirik dan nadanya meyakinkan itu memang perjuangan.

Sayangnya Saya tidak sempat merekam, karena sadar kualitas recording Hp Saya buruk, apalagi di tengah riuhnya masyarakat berbincang sebelum acara adat dimulai.

“Bahari itu pemimpin desa itu dingarani Soncho, mun wahini pambakal (Dahulu kala kepala desa dinamai Soncho, sedangkan saat ini dipanggil Pembakal, red),” kenangnya Soncho adalah sebutan pimpinan kampung bagi Jepang.

Umberi menceritakan pernah diperlihatkan seorang kerabatnya bernama Umbui Juur, beras sebesar kelapa yang disimpan di dusun Banua Halat. Banua Halat merupakan sebuah dusun di atas gunung penyeberangan, atau perbatasan Desa Hamak dan Desa Telaga Langsat, Kecamatan Telaga Langsat, HSS.

Umbui Juur diungkapkannya, orang yang maharagu (merawat, red) banyak beras kelapa tersebut, serta benda-benda lain peninggalan zuriatnya.

Baca juga: Cara Adat Masyarakat Meratus Bakar Hutan Tak Pengaruhi Lingkungan?

“Kata beliau kami punya peninggalan nenek moyang ada salai babi, wadi babi dan kalong,” ungkapnya. Saking lamanya, daging babi yang diasapkan setiap hari yang diletakkan di dapur, serta daging babi dan kalong yang difermentasi itu menjadi fosil.

Tetapi diakuinya, sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah mengunjungi Banua Halat lagi, sehingga tidak tahu lagi keberadaan fosil tersebut apakah masih ada. “Bukan kampung Banua Halat yang di kota Rantau itu,” ucap kakek yang anak-anaknya kini sudah mendahuluinya.

Kisah-kisah sejarah zaman dahulu tersebut, ia menegaskan tidak akan menceritakan ke orang-orang secara rinci. Sebab sudah jadi pengalaman berkali-kali, setiap orang yang tahu kisah darinya kemudian mengaku-aku jadi veteran, dan dapat untung seumur hidup.

Baca juga: Misteri Sarang Walet Ghaib Di Gua Ranuan, Berani Mengambil Nyawa Taruhannya

“Kami hanya saksi sejarah, sedangkan mereka yang pintar-pintar itu mendengar dari kami. Lalu orang itu mengklaim kepemilikan sejarah, maupun menulisnya agar mendapat keuntungan seumur hidup,” ujarnya ketus.

Pemahaman seperti itu tak hanya terukir di mulutnya saja. Saya sering mendengar dari mulut masyarakat adat, yang trauma dan kecewa setelah berkisah sejarah dan ilmu lain. Termasuk berkisah kepada penulis, yang entah apakah Saya juga termasuk yang mereka maksud.

Tetapi, sesepuh 144 tahun ini mengatakan, tidak masalah saat banyak yang datang meminta minyak maupun hasil ramuan tradisional, dengan tujuan berobat. (yat/dra)

Komentar

Jangan Lewatkan