oleh

Jelang Kepergian AH. Fahri Menghadap Ilahi; Tak Mau Ditinggal, Tuliskan Lafadz Allah Di Lengan

Nama Ahmad Hairuddin Fahri terbilang sangat dikenal pada banyak kalangan, tak hanya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banjar. Di lingkungan APDN satu angkatan, pejabat Pemkab Banjar, Politisi, wartawan, lurah dan kepala desa hingga masyarakat biasa, dia dikenal sangat baik. Khususnya di kalangan wartawan, dia bergaul bak saudara, tak pernah diam bila mendengar kesulitan yang dialami rekan-rekan pers. Begitu pula di lingkungan kepala desa dan para camat. Karena dia pernah dipercaya sebagai Ketua Forum Camat se Kabupaten Banjar, pemikiran, saran dan nasihatnya pun sering diikuti. Tidak heran, manakala dia menghembuskan nafas terakhir pada Rabu dinihari (31/07/2019) sekitar pukul 00.15 wita, banyak yang merasa kehilangan. Terlebih bagi keluarga besar Fahri, istri, anak-anak, saudara kandung, orangtua dan kerabat dekat, kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam.

DENNY SETIAWAN, Martapura

Rabu, 31 Juli 2019, sejak pukul 01.00 wita dinihari hingga waktu-waktu berikutnya, telepon maupun pesan whatsapp telah berhamburan di mana-mana, mengabarkan tentang kabar duka AH. Fahri yang telah meninggal dunia. Tiga tahun sebelumnya, Fahri diketahui sempat menjalani operasi pemotongan usus, karena mengalami kanker. Sejak operasi, dia terus menjalani perawatan secara rutin di RSUD Ulin Banjarmasin, termasuk menjalani kemo. Semasa perawatan, kesehatan AH. Fahri sempat membaik, bahkan dia melakukan aktifitas seperti biasa, bekerja sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Kabupaten Banjar. Akan tetapi, pada waktu-waktu tertentu, dia pernah mengeluhkan kondisi perutnya yang terasa sakit. “Ini nah, perutku kadang masih sakit, mungkin efek setelah kemo,” demikian ucapnya satu ketika pada penulis, di Kantor PMPTSP Kabupaten Banjar.

Walaupun sering didera rasa sakit, dia terbilang sangat kuat dan tegar, bahkan sangat jarang mengeluhkan penyakitnya itu , melainkan lebih banyak diam. Kemudian 2 bulan terakhir, dia mulai jarang masuk kantor, lebih banyak istirahat di rumah. Tepatnya sebelum Hari Raya Idul Fitri tadi, penulis berusaha mencari tahu keadaanya untuk mendatangi ke kediamannya di Komplek Citra Permata Biru, Jl Pendidikan Martapura. Waktu itu, Fahri masih bisa beraktifitas yang ringan di rumah dan berkomunikasi, selebihnya istirahat di tempat tidur.

Gimana kondisi pian om? tanya penulis. “Iya den…, aku lebih banyak istirahat dulu. Perut aja yang masih terasa sakit, telapak tanganku begini dan telapak kaki ku juga begini. Kankernya seperti sudah menyebar kemana-mana den…” ungkapnya menunjukkan setiap telapak kaki dan tangan yang berubah menjadi kebiru-biruan.

Penulis tidak menyangka, pertemuan saat itu menjadi pertemuan terakhir yang bisa bicara dengan Fahri. Karena pertemuan berikutnya, Fahri sudah tidak bisa diajak bicara. Dua pekan menjelang hari terakhirnya, Fahri sudah dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin untuk menjalani perawatan yang intensif. Ketika penulis menemuinya di Ruang Aster 5 Lantai IV, Fahri sudah terbaring lemah di dipan. Walaupun masih dapat memberikan respon, akan tetapi dia hanya bisa berkomunikasi dengan isyarat. Kala itu, dia mengulurkan tangan, kemudian penulis menyambut telapak tangan sambil mengelus-elus sebagaai tanda berada di sampingnya.

Fahri sudah tak bisa mengkonsumsi makanan seperti biasa. Dia hanya dapat menerima asupan gizi melalui infus, kemudian sesekali menelan minuman dengan getir. Mengingat setiap menelan makanan dan minum, dia selalu muntah, sehingga tubuhnya “nyaris” sudah tak dapat menerima makanan dan minuman. Kondisi itu tentu saja menimbulkan kecemasan yang mendalam bagi istri dan keluarga besarnya. Rupanya, Fahri sudah mulai merasakan, bahwa sisa hidupnya tidak lama lagi, sehingga 5 hari sebelumnya, tepatnya Jumat (26 Juli 2019), tatkala adik kandungnya, Ujang, turut menjaga, dia dititipi sebuah pesan dalam bentuk catatan kertas. Di dalam catatan itu, Fahri sudah meminta agar adiknya, Ujang menyiapkan beberapa hal setelah kepergiannya. Seperti menyiapkan orang-orang yang akan memandikan jenazahnya, imam yang mengimami sholat jenazahnya, menyiapkan alkah untuk pemakaman serta membawa jenazahnya untuk disholatkan di Musala Tunggul Irang, Martapura. Tidak cuma itu, Fahri tak mau ditinggalkan adiknya yang saat itu ingin pulang.

“Waktu itu, ulun mau bulik (pulang), terus tangan ulun dipegang supaya jangan bulik,” ungkap Ujang. Tidak sekadar itu, Ujang juga diberikan isyarat, bahwa dia selalu dalam keadaan ingat kepada Allah dan Rasul. “Kak Fahri sudah tidak bisa bicara, tetapi dia menuliskan lafadz Allah dan Muhammad di lengannya, kemudian menunjukkan kepada ulun. Dia cuma memberitahu, bahwa dia dalam keadaan ingat kepada Allah dan Rasul,” ucap Ujang.(*)  

 

 

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: