oleh

Inilah Jubah Datuk Kelampayan yang Masih Utuh

Mengenang di Momen Haul ke 213

KOTA MARTAPURA Kalimantan Selatan dipastikan kembali akan menjadi pusat kunjungan masyarakat dari berbagai daerah. Tak hanya dari Kalimantan Selatan, melainkan dari luar Kalimantan seperti Pulau Jawa, Sumatera, bahkan dari negara tetangga seperti Brunei Darussalam dan Mindanao Fhilipina.

Jumat malam, 7 Juni 2019 akan berlangsung Haul ke 213 seorang ulama tersohor di negeri ini, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah atau yang juga dikenal dengan sebutan Datuk Kelampayan di Masjid Tuhfaturragibin, Desa Dalam Pagar Ulu, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Adapun Rangkaian Acara Haul Ke-213 seperti yang beredar di sejumlah media sosial adalah ;
Hari Jum’at (Malam Sabtu) 07 Juni 2019
Setelah Shalat Isya
Di Masjid Jami Tuhfaturraghibin, Dalampagar Ulu Martapura Timur Kalsel.

Hari Sabtu (Malam Ahad) 08 Juni 2019
Setelah Shalat Isya
Di Kubah Datuk Kalampayan, Desa Kalampayan, Kec.Astambul.

Hari Ahad (Malam Senin) 09 Juni 2019
Setelah Shalat Isya
Di Kubah Datuk Kalampayan, Desa Kalampayan, Kec.Astambul.

“ACARA PUNCAK HAUL” berlangsung pada :
Hari Senin , 10 Juni 2019
Pukul 09:00 WITA – Selesai
Di Ruang Masjid Jami Tuhfaturraghibin Dalampagar Ulu Martapura Timur Kalimantan Selatan.

Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari

Tak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ratusan ribu jamaah akan membanjiri pusat kegiatan pada puncak acara Senin, 10 Juni 2019 lusa.

Membicarakan Datuk Kelampayan, tidak sedikit peninggalan bersejarah yang telah dititipkannya kepada para dzuriat. Mulai dari tasbih, piring “melawin” untuk tempat makan hingga rumah atau tempat tinggal semasa dia hidup dalam penyebaran ilmu agama di Tanah Borneo ini.

Salah satu peninggalan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang masih utuh sampai sekarang adalah jubah atau gamis (pakaian) yang pernah dikenakannya semasa hidup.

Terakhir Pimpinan Redaksi koranbanjar.net, Denny Setiawan, sempat menjumpai gamis Datuk Kelampayan beberapa tahun lalu, yang masih tersimpan dan dipelihara rapi oleh satu dzuriatnya, KH Irsyad Zein (almarhum) di Desa Dalam Pagar Ulu. Meski sudah berusia ratusan tahun, gamis itu terlipat rapi, dibungkus dalam sebuah plastik dalam keadaan utuh.

Pimred KoranBanjar.Net, Denny Setiawan bersama KH Irsyad Zein (semasa hidup)
Pimred KoranBanjar.Net, Denny Setiawan bersama KH Irsyad Zein (semasa hidup)

Waktu itu, KH Irsyad Zein menunjukkan dan mengeluarkan dengan sangat hati-hati, seraya mempersilakan untuk menyentuh dan membuka, seraya mengingatkan agar berhati-hati supaya tidak rusak. “Kainnya sudah mulai jabuk (lapuk), hati-hati sobek,” ingatnya kala itu.

Gamis Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari itu berbahankan kain yang agak tipis, berwarna cokelat muda yang disertai bordir-bordir kecil yang sangat menarik.(sir)

Komentar

Berita Terkini