oleh

Hijrahnya Seorang Muslim Lajang Asal Vietnam (2) ; Mengajak Warga Muslim Negara Lainnya Mondok di Al-Ihsan

BANJARMASIN,KORANBANJAR.NET-Setelah mengungkapkan maksud menemui pemuda yang baru berusia 28 tahun itu, Alhamdulillah yang bersangkutan bersedia menceritakan secara singkat mengenai perjalanan hijrahnya.

Mansur mulai menuturkan, “Saya memang berasal dari keluarga muslim, kakek saya seorang tokoh ulama yang dipandang di kampung kami. Bapak saya bernama Ali seorang petani yang berasal dari Kintai, dan Ibu saya Zainab berasal dari suku Campa Melayu. Saya memiliki dua saudara perempuan namun semua sudah berkeluarga, tinggal saya yang belum,” tuturnya sembari tertawa.

Sewaktu masih berumur belasan tahun, Mansur yang masih sekolah umum bahasa Vietnam kala itu kesehariannya menggembala ayam (ternak ayam) sambil membantu pekerjaan bapaknya yang seorang penanam padi.

“Kadang ibu saya juga membantu pekerjaan bapak,” katanya sembari menjelaskan ibunya hanya seorang pekerja rumah tangga.

Berawal dari sini lah, Mansur mulai meniti perjalanan hijrahnya. Setelah 8 tahun menyelesaikan sekolah umumnya, dengan restu dan ijin orang tuanya Mansur rela meninggalkan kampung halamannya demi menuntut ilmu agama.

Negara Kamboja tempat pertama kali menjejakkan kakinya untuk belajar kitab Tarbiyah pada pondok pesantren yang ada di sana.

Satu tahun menjadi santri di Kamboja, Mansur melanjutkan perjalanannya menuju Malaysia. Disana ia belajar pada sebuah madrasah yang ada di Kota Pahang.

“Disini saya belajar selama 4 tahun dididik oleh Maulana Azhari. Selesai dari sana, kita langsung melanjutkan hijrah ke Kota Banjarmasin,” lanjut Mansur.

Di Banjarmasin ia disambut oleh seorang Ustad bernama Ali Fahmi. Singkat cerita setelah dilakukan tes akhirnya seorang pemuda bujangan ini lulus diterima di Pesantren Al Ihsan yang beralamat Jalan Pahlawan Kelurahan Seberang Mesjid Banjarmasin.

Sebagai santri baru yang berasal dari negara seberang di Asia Tenggara, awalny Ia merasa kesulitan berkomunikasi karena bahasa yang berbeda dengan santri lokal (Banjarmasin).

“Tapi lama-kelamaan akhirnya bisa menyesuaikan Bahasa Banjar, walau masih belum lancar dan paham semua,” ungkapnya.

Selama menjadi anak pondok Al Ihsan, tidak banyak ia mengenal Kota Banjarmasin. Menurutnya sejak menjadi anak santri sampai sekarang hampir selesai masa belajarnya, tidak pernah jalan-jalan .

“Paling hanya jalan ke Siring Menara Pandang, itu pun sambil bawa kitab,” tutur Mansur yang didampingi Ustad Amir Hasan.

Saat ini Mansur sudah menyelesaikan sekolah pesantrennya, kurang lebih 5 tahun ia mengabdi pada sekolah yang berhasil mencetak dirinya bakal menjadi seorang Tahfiz Alquran.

Kembali Mansur menuturkan kalau dirinya meninggalkan kampung halaman kurang lebih sudah 10 tahun

Ketika ditanya apakah dirinya merindukan orang tua dan kampung halamannya. Dengan perasaan haru ia mengatakan, “Tentulah saya sangat rindu kampung dan orang tua,” ungkapnya.

Namun baginya tidak perlu tergesa-gesa ingin meninggalkan pesantren yang telah banyak memberikan bekal ilmu agama bagi kehidupannya ini.

“Saya sebenarnya sudah selesai disini, tetapi saya tidak ingin terburu-buru meninggalkan pondok, rasanya masih betah ingin terus menuntut ilmu agama.Terutama para ustad yang penuh ikhlas mengajarkan saya, jasa mereka sangatlah luar biasa, mudah-mudahan Allah memberikan kedudukan yang mulai bagi mereka,” tuturnya.

Di penghujung wawancara, Jurnalis sempat menanyakan status lajangnya. Senyum malu-malu Mansur mengungkapkan, “Disana sudah ada calon istri yang menanti, doakan aja,” katanya dengan senyum sumringah.

Selesai wawancara Mansur, koranbanjar.net beralih ke Ustad Amir Hasan yang berada disampingnya.

“Kami hanya berpesan walaupun santri Mansur berada di Vietnam, hubungan keluarga besar Pesantren Al Ihsan terus berlanjut, tetap satu jangan sampai terputus. Kemudian bawa pelajaran terbaik dari sini dan kalau ada anak-anak di sana yang ingin belajar lagi di Al Ihsan, arahkan mereka agar ada generasi Mansur berikutnya,” Demikian pesannya sembari tertawa haru.

Ucapan terima kasih juga datang dari Kepala Divisi Imigrasi Perwakilan Kantor Kementerian Hukum Dan Ham Kalimantan Selatan, Dody Karnida.

“Saya mengucapkan selamat untuk Mansur warga negara Vietnam dan untuk pesantren Al Ihsan Banjarmasin yg telah mendidik sampai lulus menjadi seorang Tahfiz Quran,” ucapnya.

Menurut Kadiv, Mansur selama menjadi santri di Banjarmasin telah memiliki Izin Tinggal Terbatas (Itas) dan setelah selesai ia pulang.

Dody optimis akhir tahun ini atau awal tahun depan, setelah Bandara Syamsudin Noor resmi beroperasi penuh sebagai bandara internasional sehingga jarak tempuh ke Banjarmasin semakin singkat dan murah, akan semakin banyak pemuda dan pemudi Warga Negara Asing atau WNA yang berkuliah di Banjarmasin. (al/SELESAI)

Komentar

Berita Terkini