oleh

Haul Ke-10 Wali Allah, Kai Jabuk (1); Wafat di Usia 125 Tahun, Inilah Bacaan yang Diamalkan

Tidak banyak orang mengenal sosok wali Allah atau kekasih Allah yang satu ini. Dari beberapa makom atau kedudukan seorang wali Allah, dua makom di antaranya yang diyakini para pecinta kekasih Allah telah diketahui. Makom wali masyhur (terkenal) dan wali mastur (tersembunyi). Kai Jabuk adalah satu di antara beberapa wali mastur yang diketahui kedudukannya di hadapan Allah setelah wafat pada usia 125 tahun.

DENNY SETIAWAN, Anjir Serapat

Kai Jabuk memiliki nama asli Utuh Jamhuri bin Jar’i bin Muhammad bin Hasanuddin. Dalam riwayat kehidupannya, Kai Jabuk dilahirkan di Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sedangkan mengenai tanggal dan bulan kelahiran, tak satupun dari keturunannya yang bisa memastikan. Mengingat keluarga, teman atau sahabat yang hidup semasanya sudah wafat semua. Keturunannya hanya bisa memperoleh tahun kelahiran Kai Jabuk yang diperkirakan tahun 1900.

Bahkan di antara sesama keturunan Kai Jabuk pun berbeda pendapat tentang usia dia saat wafat. Ada yang menyebut di usia 109 tahun, namun adapula yang mengatakan di usia 125 tahun.

Orangtua Kai Jabuk bernama Jar’i asli dari Nagara, sedangkan istrinya berasal dari Kandangan. Karena itu, selain bergelar Kai Jabuk, dia juga dikenal dengan sebutan Kai Nagara.

Haul Kai Jabuk, Minggu (07/07/2019) siang.
Haul Kai Jabuk, Minggu (07/07/2019) siang.

Selain dikenal sebagai seorang wali Allah yang mastur, sebutan gelarnya pun terbilang langka, yakni Kai Jabuk (Jabuk adalah bahasa Banjar, yang berarti lapuk, red).

Sekarang dia dimakamkan dekat tempat tinggalnya di Anjir Serapat Km 16, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Adapun ciri-ciri Kai Jabuk berpostur tubuh tinggi dan besar, bila bersuara lantang. Salah satu sifatnya tidak suka bercanda.

“Ayah kami dilahirkan di Nagara yang diperkirakan pada tahun 1900 masehi. Masa hidup beliau berprofesi sebagai pedagang dan bertani. Walaupun demikian, beliau tetap mengutamakan menuntut ilmu agama. Sifat lainnya, selalu menepati janji, kemudian selagi bertani, selalu membayar upah sebelum pekerjaan selesai atau sebelum keringat buruh tani kering,” demikian putra sulung Kai Jabuk, Tuan Guru Jamali saat membacakan manakib atau riwayat orangtuanya pada Haul ke-10 Kai Jabuk di Lokasi Makam di Anjir Serapat Km 16, Kabupaten Batola, Minggu (07/07/2019) siang tadi.

Dijelaskan pula, selama hidup Kai Jabuk sangat dekat dengan ulama, baik yang dekat maupun yang jauh. Baik ulama di Batola maupun ulama seperti di Martapura.

“Guru-guru beliau, antara lain, Tuan Guru H Ahmad Harus Amuntai, Tuan Guru Husin Hipni Amunta, Tuan Guru Husin Qodri Martapura. Beliau juga sering bertemu semasa hidup Tuan Guru Badaruddin, Tuan Guru Samman Mulia dan Guru Sekumpul semasa tinggal di Keraton,” paparnya.

Sementara itu, putra ke tujuh dari Kai Jabuk dan Hj Jumintan menyebutkan, ayahnya tersebut wafat di usia 125 tahun. “Saya memang berbeda pendapat dengan kakak. Kalau menurut saya, abah itu wafat di usia 125 tahun. Adapun amaliah yang sering beliau sampaikan adalah amaliah lisan yakni dzikrullah dan amaliah pada hakikat, yakni shollu atau bersholawat,” ungkapnya.
Semasa hidup, Kai Jabuk juga diketahui berguru dengan Tuan Guru Zainal Ilmi Dalam Pagar Martapura, bahkan telah diangkat sebagai anak dunia dan akhirat. Bagaimana ceritanya? (bersambung).

Baca Selengkapnya:

Komentar

Jangan Lewatkan