Harapan Pedagang Kelapa Parut di Kampung Batuah Untuk Calon Wali Kota Banjarmasin

Kai Nyiur, Pedagang Kelapa Parut di Kampung Batuah, Banjarmasin, Kamis (25/1/2023) (Foto: Koranbanjar.net)
Kai Nyiur, Pedagang Kelapa Parut di Kampung Batuah, Banjarmasin, Kamis (25/1/2023) (Foto: Koranbanjar.net)

Pedagang kelapa parut di Kampung Batuah memiliki harapan besar untuk calon Walikota Banjarmasin 2024-2029 akan datang.

BANJARMASIN, koranbanjar.net Harapan ini disampaikan salah seorang Pedagang Kelapa Parut di Kampung Batuah yang dikenal bernama Kai Nyiur.

Kepada media ini, Kamis, (25/1/2024) saat ditemui ketika dirinya usai berjualan, Kai Nyiur menuturkan, siapapun bakal menjadi Wali Kota Banjarmasin nantinya, dirinya sangat berharap agar rencana pembongkaran Kampung Batuah dibatalkan.

“Harapan kami hanya satu siapapun nantinya menjadi Wali Kota Banjarmasin agar Kampung Batuah jangan diganggu gugat atau dibongkar apapun alasannya kami sangat memohon itu,” ujarnya.

Karena lanjut Kai Nyiur, Kampung Batuah adalah kampung hunian bukan pasar.

“Ini hunian kami bukan pasar seperti yang disebut-sebut selama ini Pasar Batuah tapi Kampung Batuah,” sanggahnya.

Selain itu sambungnya, semoga kepemimpinan Wali Kota Banjarmasin yang baru akan membawa perubahan Kota Banjarmasin menjadi lebih baik lagi.

“Bukan berarti tidak baik Wali Kota yang ada ini, hanya saja masih ada kekurangannya salah satunya hendak menggusur kampung ini (Batuah),” sebutnya sembari tertawa.

“Pokoknya jangan ganggu Kampung Batuah itu aja selesai,” ucapnya menyambung kalimat di atas dengan nada sedikit meninggi.

Menurutnya Kampung Batuah adalah kampung paling tua di Banjarmasin, karena keberadaannya sudah lebih dari setengah abad.

“Aku lahir di kampung ini pada tahun 1965, belum lagi saudaraku yang lain lebih tua juga lahir di sini nah berarti Kampung Batuah sudah berusia kira-kira lebih setengah abad,” tuturnya.

Masih diceritakannya, di waktu silam Kampung Batuah masih terendam air setinggi dada orang dewasa.

“Kalau mengantar jagung ke sini pakai kelotok dilempar di depan rumah aja,” cerita Kai Nyiur.

Pada waktu masih kecil, dirinya disuruh orang tua ikut bergotong royong mengangkat tanah, kayu bikin jalan hingga akhirnya tidak lagi Kampung Batuah terendam air.

Kai Nyiur sebelum merintis usaha kelapa parut selama 17 tahun ini, sebelumnya sebagai pedagang kaki lima. Usai berdagang Kai Nyiur pulang ke rumah di Kampung Batuah. Rumah tempat tinggalnya dari dahulu hingga sekarang adalah rumah peninggalan orang tuanya.

Dirinya juga mewakili pedagang-pedagang kecil lainnya berharap siapapun menduduki kursi Wali Kota Banjarmasin 2024-2029 mendatang agar memperhatikan secara serius nasib pedagang kecil.

(yon/rth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *