Gerakan #SaveMeratus Juga Disuarakan di Luar Kalsel

BARABAI, KORANBANJAR.NET – Warga Kalsel khususnya warga Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) masih belum merasa aman; Pegunungan Meratus terhindar dari pertambangan. Buktinya, berbagai aksi terus dilakukan untuk menyuarakan Save Meratus, terakhir aksi tersebut dilakukan di beberapa daerah di Kalsel secara bersamaan, bahkan di luar Kalsel, Minggu (17/3/2019).

Masyarakat HST  bersama tokoh penyelamat Bumi Muakata gelar aksi Serentak Tulis Surat Kepada Presiden Untuk Selamatkan Meratus, di Lapangan Dwi Warna, kota Barabai.

Kordinator aksi tulis surat kepada presiden Nursiwan mengatakan, aksi ini bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam dengan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menuliskan surat kepada orang nomor satu di Indonesia.

“Isi surat yang ditulis adalah keresahan akan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pertambangan batu bara. Kita sudah melihat kabupaten tetangga kita yang sudah dilakukan aktifitas tambang. Udara, air semua tercemar.  Hal ini jangan sampai terjadi di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah,” ungkap pria yang disapa Incus ini.

Ia mengungkapkan, aksi ini murni untuk menyuarakan keresahan warga Banua karena belum dicabutnya izin tambang di Pegunungan Meratus.

Nursiwan menegaskan, aksi ini murni swadaya pemerhati alam serta tidak disponsori oleh pihak manapun, dan tidak ada intervensi politik maupun pemerintah.

Gerakan #SaveMeratus Juga Disuarakan di Luar Kalsel
Aksi Tulis Surat Kepada Presiden Untuk Selamatkan Meratus, di Lapangan Dwi Warna Barabai, Hulu Sungai Tengah, Minggu (17/3/2019). foto: mdr/koranbanjar.net

“Gerakan ini adalah penguatan dan lanjutan dari surat penolakan anggota DPRD yang dikirim kepada presiden, dan ini juga mendukung pemerintah daerah tentang rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) Hulu Sungai Tengah tahun 2016 – 2025 yang menyatakan pembangunan berbasis lingkungan,” papar Nursiwan.

Aksi menulis surat ini adalah bagian dari Gerakan SaveMeratus yang telah berlangsung sejak Desember 2017 lalu. Gerakan ini dipicu oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral  yang menerbitkan SK nomor 441.K/30/DJB/2017 pada 04 Desember 2017 lalu tentang penyesuaian tahap kegiatan PKP2B menjadi tahap operasi Produksi kepada PT Mantimin Coal Mining (MCM).

Aksi yang sama dilakukan masyarakat Kabupaten Tabalong, di Taman Expo Centre Mabuun, Tanjung. Salah satu peserta aksi, Ahmad kepada koranbanjar.net mengungkapkan, aksi ini dilakukan karena ingin menyelamatkan satu-satunya hutan yang tersisa di pulau Kalimantan ini.

“Mengingat wilayah kami sudah hampir habis dilakukan penambangan batu bara. Yang melakukan tambang makmur sedangkan rakyat menderita,” ujarnya dengan nada tegas saat dihubungi koranbanjar.net, Senin (18/3/2019)

Aksi yang sama juga dilakukan secara bersamaan di Kota Banjarmasin, Banjarbaru, Rantau, Pelaihari, Amuntai dan Balangan, serta di luar Kalsel yakni di Yogyakarta dan Malang.

Helda salah satu peserta aksi Save Meratus di Yogyakarta yang dilakukan di depan trotoar depan Gedung Agung sebelah selatan,  mengatakan penolakannya jika Pegunungan Meratus ditambang.

“Kami sangat tidak setuju kalau Hutan Meratus dilakukan penambangan, karena satu-satunya hutan lindung yang tersisa di Kalimantan,” ujar mahasiswi UGM ini saat di hubungi via chat WatsApp. Gerakan Save Meratus ini juga terus disuarakan di dunia maya dengan tagar #SaveMeratus. (mdr/dra)

hendra rumi

Read Previous

Areal Rehab DAS PT Arutmin Indonesia Dimonitor

Read Next

1,3 Juta Surat Suara Tiba, KPU Banjar Pekerjakan 222 Orang untuk Pelipatan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *