Baznas

Duh! Bocah 3 Tahun di Kota Tegal Ini Punya Kebiasaan Makan Tanah

  • Bagikan
Vero Fernanda (3), bocah di Kota Tegal yang memiliki kebiasaan makan tanah. [Suara.com/F Firdaus]
Vero Fernanda (3), bocah di Kota Tegal yang memiliki kebiasaan makan tanah. [Suara.com/F Firdaus]

Seorang anak berusia tiga tahun di Kota Tegal memiliki kebiasaan memakan tanah serta campuran pasir dan semen di tembok. 

TEGAL, Koranbanjar.net – Anak bernama Vero Fernanda itu tinggal di RT 03 RW I Kelurahan Debong Lor, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Bocah yang biasa dipanggil Nando itu merupakan anak pasangan suami istri Carmo (50) dan Umrotun Khasanah (41).

Umrotun mengatakan anaknya sudah biasa memakan tanah sejak berusia sekitar 1,5 tahun. “Sejak mulai bisa jalan sudah makan tanah sama pecahan-pecahan tembok,” ujarnya saat ditemui Suara.com, Sabtu (11/9/2021).

‎Umrotun pertama kali mengetahui kebiasaan anaknya itu saat sang anak sedang bermain di dalam rumah. Dia kaget ketika melihat anaknya memakan campuran semen dan pasir di tembok yang kondisinya sudah retak atau ambrol.

BACA:  5 Cara Lindungi Diri dari Kejahatan Skimming atau Penyadapan ATM

“Pas ditinggal masak, dia makan pecahan-pecahan tembok. Setelah itu keterusan sampai sekarang. Kalau main di luar rumah, tanah yang dimakan. Katanya enak. Busa kasur juga kadang dimakan,” ujarnya.

Umrotun mengaku sudah sering melarang ketika memergoki anaknya sedang makan tanah. Namun kebiasaan itu tetap dilakukan.

“Sudah dilarang, tapi masih makan terus sampai sekarang. Biasanya kalau pas tidak ada orang. Kalau dilarang nangis,” ujarnya.

Kendati kerap mengonsumsi benda-benda yang tak lazim, Umrotun menyebut anaknya tidak mengalami gangguan kesehatan yang serius.

BACA:  Fadli Zon Menilai Rektorat UI Bungkam Kebebasan Berekspresi, Usai Panggil BEM Atas Kritik ke Jokowi  

“Dia ngeluhnya perutnya sakit. Saya kasih obat puyer. Tidak pernah dibawa ke dokter,” ujarnya.

‎Umrotun tak mengetahui penyebab anak bungsunya itu gemar memakan tanah. Dia hanya mengakui jarang membelikan jajan untuk anaknya karena tak memiliki uang.

“Makan saja sehari bisanya hanya dua kali. Kalau ada yang ngasih lauk,” tuturnya.

‎Umrotun memang tergolong keluarga tidak mampu. Ibu tiga anak itu sehari-hari hanya ibu rumah tangga. Sementara suaminya, Carmo membuka jasa servis televisi di rumah.

“Penghasilan tidak tentu. Kalau ada yang servis saja. Dapatnya Rp10 – 25 ribu. Sebulan paling yang servis paling banyak tiga,” ujar Carmo.

BACA:  Bocah 16 Tahun Palsukan Surat Vaksin di Palangkaraya

‎Sebagai keluarga tidak mampu, Carmo dan Umrotun tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Pasalnya, keduanya hanya menikah siri sehingga tak memiliki kartu keluarga (KK).

‎”Belum pernah dapat bantuan karena tidak punya KK. Anak juga tak punya akta kelahiran,” ungkap Carmo.

Carmo berharap bisa mencatatkan pernikahannya secara resmi agar bisa memperoleh dokumen kependudukan yang diperlukan untuk mengurus berbagai keperluan, termasuk sekolah anaknya. “Belum bisa nikah secara resmi karena tidak punya uang,” ucapnya. (suara/F Firdaus)

(Visited 57 times, 1 visits today)
  • Bagikan
(Visited 57 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *