Dokumen Syarat Menjadi Advokat Diduga Dipalsukan, Pria Asal Desa Semayap Kotabaru Ditangkap Polisi

Tersangka M Hafizh Halim saat dimintai tanggapan oleh sejumlah wartawan usai pers rilis (Foto: cah/koranbanjar.net)

Keinginan untuk menjadi seorang pengacara rupanya berujung dibalik jeruji besi. Pasalnya M Hafizh Halim (33), warga Desa Semayap, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru, ditangkap Satreskrim Polres setempat, karena diduga memalsukan dokumen salah satu syarat menjadi advokat.

KOTABARU, koranbanjar.net Satreskrim Polres Kotabaru, mengamankan tersangka lantaran diduga melakukan tindak pidana pemalsuan surat/dokumen untuk mendapatkan gelar advokat.

Kasat Reskrim Polres Kotabaru, AKP Abdul Jalil, dalam jumpa pers menerangkan, ditangkapnya M Hafizh Halim ini, berawal dari adanya laporan masyarakat.

Dihadapan Polisi M Hafizh Halim membantah dirinya telah melakukan pemalsuan atas surat magang, untuk syarat menjadi advokatnya tersebut.

“Kalau saya dikaitkan dengan pemalsuan itu keliru, karena saya tidak pernah memegang, menyentuh dan menyuruh memalsukan dokumen pada siapapun,” sebut M Hafidz Halim.

Sementara pihak kepolisian menjelaskan, penetapan terhadap tersangka setelah melalui berbagai tahapan pemeriksaan.

“Setelah laporan ini semua kami terima dan saksi kami periksa, ternyata yang dipalsukan adalah dokumen untuk menuju sumpah advokatnya,” terang Jalil, Senin (4/7/2022).

Padahal sambung Jalil, persyaratan untuk menjadi Advokat, sudah ada prosedurnya. Seperti harus lulus sarjana hukum, ikut pendidikan khusus profesi advokat (PKPA), dan mengikuti ujian profesi advokat (UPA), serta magang sekurang-kurangnya selama dua tahun.

Dan itu ucap Jalil, dilakukan secara berturut-turut di kantor Advokat, kemudian baru bisa disumpah untuk menjadi Advokat di Pengadilan Tinggi.

“Jadi yang dilanggar tersangka ini adalah proses magangnya yang tidak pernah dilaksanakannya sesuai aturan yang berlaku. Tapi malah berani memalsukan surat pernah melakukan magang sesuai prosedur,” tandasnya.

Saat diamankan, polisi turut menyita barang bukti berupa, satu lembar fotocopy ijazah sarjana atas nama si tersangka, dan selembar fotocopy berita acara pengambilan sumpah, serta barang bukti lainya.

“Nah atas perbuatanya tersebut, tersangka dikenakan Pasal 263 ayat (2) KUHP dan atau Pasal 378 KUHP, tentang penipuan, dengan ancaman maksimal selama enam tahun pidana penjara,” tandas Jalil.

(cah/slv)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *