Baznas

Budaya Membaca Masyarakat Indonesia Dinilai Rendah, ini Harapan Kepala Perpustakaan Nasional

- Tak Berkategori
  • Bagikan

BANJARBARU, KORANBANJAR.NET – Kota Banjarbaru tahun ini mendapatkan kesempatan menjadi penyelenggara bazar dan pameran buku atau Kalsel Book Fair 2018. Kegiatan yang mengusung tema “Bergerak Membumikan Budaya Membaca Keseluruh Penjuru Banua” ini diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan dan akan berlangsung selama 10 hari kedepan. Pembukaan Kalsel Book Fair 2018 ini di pimpin langsung oleh Gubernur Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor hari ini, Sabtu (31/03) di Lapangan Dr Murjani Banjarbaru.

Kegiatan pameran buku ini merupakan salah satu upaya pemerintah Kalimantan Selatan khususnya untuk membangun dan meningkatkan minat baca masyarakat yang saat ini berada pada era digital. Dalam kegiatan Kalsel Book Fair 2018 ini, pemerintah mencoba memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan buku secara mudah dan murah selain itu dengan banyaknya buku yang dipamerkan akan memudahkan masyarakat untuk memilih buku sesuai kebutuhan dan seleranya.

Pameran buku kali ini menghadirkan 56 penerbit yang tersusun rapi di 56 stand yang tersedia. 56 penerbit ini berasal dari penerbit lokal dan beberapa penerbit di luar daerah. Total keseluruhan buku yang masuk sebanyak 4 kontainer. Dari keterangan Ibu Nurliani selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Selatan, beliau menjelaskan buku dari 4 kontainer akan masuk secara bertahap.

“Totalnya ada 4 kontainer dan masuk secara bertahap di 56 stand yang ada, dan kita targetkan akan habis terjual, jadi tidak perlu dibawa kembali,” ujarnya.

Kegiatan Kalsel Book Fair 2018 ini ditanggapi positif oleh Kepala Perpustakaan Nasional, M. Syarif Bando yang juga ikut menghadiri acara pembukaan pameran buku ini. Beliau menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah positif guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia ditengah tantangan melawan berita hoax. Beliau juga menjelaskan bahwa selama ini penilaian lembaga-lembaga internasional selalu menempatkan Indonesia dalam urutan terendah dalam hal budaya baca.

“Kita akan buktikan dengan pameran ini bahwa sebenarnya budaya membaca masyarakat Indonesia tidaklah rendah. Tetapi ketersediaan bahan bacaan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang sesuai dengan pilihan mereka itu sebenarnya yang menjadi masalah,” ucapnya.

Syarif juga menjelaskan kepada awak media, bahwa kegiatan pameran buku seperti ini harus menjadi rutinitas di setiap daerah di Indonesia.

“Anda bisa bayangkan sekali setahun kita bisa melihat pameran buku sebanyak ini yang diadakan oleh pemerintah, andai saja kegiatan seperti ini merupakan rutinitas setiap bulan di provinsi, di kabupaten bahkan di kecamatan, Saya yakin tidak mungkin masyarakat kita akan kehilangan kesempatan dan momentum untuk membaca buku,” tuturnya.

Syarif juga menambahkan, masyarakat Indonesia tidak begitu memprioritaskan untuk memilih buku-buku yang terbaik terlihat dari tingkat penjualannya, melainkan buku yang terbaik merupakan buku yang memang benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat.

“Selalu kita salah mendefinisikan buku-buku terbaik, bahwasanya buku tersebut menjadi best seller. Sebenarnya buku apa saja yang penting sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri itu yang paling penting,” tambahnya.

Dalam kesempatan lain, Plh Sekda Provinsi Kalimantan Selatan H. Siswansyah saat di temui wartawan koranbanjar.net menyatakan, pihaknya akan terus berperan aktif dalam upaya untuk mencerdaskan banua Kalimantan Selatan.

“InsyaAllah Book Fair akan kita laksanakan setiap tahun, karena buku tidak akan tegantikan walaupun jaman sudah serba digital,” jelasnya.(mj-01/ana/kie)

  • Bagikan