BPBD Kalsel ‘Dilema’ Atasi Petani Pembakar Jerami

oleh -93 views
BPBD Kalsel 'Dilema' Atasi Petani Pembakar Jerami
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Wahyuddin Saat Ditemui Di Kantornya. (Foto:Yuli/koranbanjar.net)

BANJARBARU, koranbanjar.net – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Selatan (BPBD Kalsel) Wahyuddin mengaku dilema atas petani pembakar jerami untuk bercocok tanam.

“Khusus petani yang membakar lahan ini dilema bagi kita. Disatu pihak mereka untuk pupuk, disamping itu juga kita belum bisa mencari solusi alternatif lain untuk itu. Sebenarnya, penanganan ini harusnya dari Dinas terkait (Dinas Pertanian) bukan dari BPBD. Bagaimana hasil produksi mereka (petani) tidak menurun karena tidak dibakar,”ujarnya saat ditemui.

Saat dikonfirmasi koranbanjar.net, Rabu (23/10/2019), apakah petani tidak mematuhi peraturan karhutla dilarang membakar. Wahyuddin mengatakan, menurut Undang-undang Lingkungan Hidup selama bertujuan menjaga kearifan lokal diperbolehkan.

“Seluas 2 hektar perhari diperbolehkan, misal petani tersebut memiliki 6 hektar ya harus gantian 2 hektar perhari begitupun juga dengan petani yang lain. Asalkan membakarnya lapor dulu dengan petugas jadi bisa dijaga agar tidak merembet kemana-mana apinya, jadi ada batasannya,”ungkapnya pria yang akrab disapa Ujud.

Apabila ada yang merembet, lanjutnya, sampai ke permukiman dan rumah warga tentunya akan segera ditindak lanjut kena hukuman.

“Memang tahun 2018 lalu para petani mematuhi tidak membakar jerami sama sekali, tapi hasil tanaman mereka anjlok 40 persen. Akhirnya sekarang kembali membakar jerami itu,”tuturnya.

Diketahui, beberapa minggu terakhir para petani pembakar jerami ini ditemukan kebanyakan di Kabupaten Batola, Tapin, Tanah Laut ,dan Banjar.

Selebihnya kebakaran lahan sering ditemui di Lingkar Selatan, Pal.17 Gambut Kabupaten Banjar, Pemangkih, Alalak, Aluh-aluh, Tambak Buluh dan area gunung.

“Kalau Guntung Damar itu cuma sisanya saja, pastinya tetap kami monitor. Yang besar itu di pemangkih, saat itu pemadam dimarahi petani mendekat kesitu, padahal kami menjaga supaya tidak melebar. Saat beberapa hari tak dikontrol dan dijaga, malah kebakaran sampai terkena rumah,”ceritanya.

Diprediksinya, kabut asap yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan kiriman dari pemangkih jika dilihat dari arah angin.

“Ada yang membakar lahan malam hari, karena kalau membakar lewat dari jam 9 malam pastinya embun turun dan asapnya tidak bisa naik. Sehingga terjadilah kabut asap,”ungkapnya.

Menurutnya, khusus untuk wilayah Banjarbaru saat ini masih aman namun pihaknya tetap waspada.

Begitupula, jika di daerah lain mengalami puncak panas beda halnya dengan Kalimantan Selatan, hal itu dinyatakan pihak BPBD Kalsel. (ykw/maf)

Jasa Karangan Bunga di Kalimantan Selatan