BNN

Bocah 5 Tahun Divonis Mati Karena Jantung, 17 Tahun Kemudian Dia Muncul Untuk Ucapkan Terima Kasih

  • Bagikan
Ahmad Zakaria atau Aya dan ayahnya, Guru Mahmud Zuhdi. (foto: koranbanjar.net)
Ahmad Zakaria atau Aya dan ayahnya, Guru Mahmud Zuhdi. (foto: koranbanjar.net)

Kisah bocah berusia 5 tahun asal Desa Lihung, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, yang kini berrusia 17 tahun, bernama Ahmad Zakaria, terbilang cukup mengharukan. Sejak lahir hingga berusia 5 tahun dia telah mengidap penyakit jantung bawaan hingga divonis mati, tinggal menunggu waktu. Namun keajaiban Tuhan datang, dengan berbagai lika-liku proses pengobatan, akhirnya dia sembuh. Setelah 17 tahun kemudian dia muncul mencari orang yang membantunya sembuh, untuk mengucapkan terima kasih.

KARANG INTAN, koranbanjar.net – Kisah ini terjadi sekitar tahun 2004 silam. Kala itu, Ahmad Zakaria masih berusia 5 tahun adalah putra seorang guru madrasah biasa, Guru Mahmud Zuhdi asal Desa Lihung Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.

Sejak lahir hingga berusia 5 tahun, Aya –demikian dia dipanggil, red- mengidap penyakit jantung bawaan. Hari-harinya dilalui penuh penderitaan, bila sedang menangis tubuhnya, bibir, kuku tangan, kaki berubah menjadi kebiru-biruan. Sebaliknya, bilamana terlampau bahagia, dia juga mengalami keadaan serupa.

Ayahnya yang hanya berprofesi sebagai guru madrasah sambil bertani, hanya mampu bisa membawa Aya ke puskesmas setempat untuk berobat. Pengobatan jalan yang dilaluinya di Puskesmas tidak memberikan perubahan yang berarti. Harapan hidup lebih lama pun semakin tipis. Hingga satu ketika, persoalan yang dihadapi Aya dan keluarganya tercium reporter sebuah media lokal.

BACA:  Pemkab Tanah Bumbu Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana Banjir

Kasus yang dihadapi Aya menjadi topik hangat media lokal, bahkan media televisi nasioal. Sampai akhirnya kabar tentang Aya sampai ke telinga Bupati Banjar kala itu, H Rudy Ariffin. Singkat cerita, Aya beserta kedua orang tuanya diundang Rudy Ariffin datang ke Kantor Pemerintah Kabupaten Banjar.

Rudy Ariffin didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, drg. Rosihan Adhani menggali kesulitan yang dihadapi Aya dan keluarga. Mulai saat itu, Aya mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Banjar. Petugas Puskesmas Karang Intan hampir setiap hari membesuk kondisi Aya di rumah, hingga tiba waktunya Aya menjalani opname di RSUD Ratu Zalekha Martapura.

Oleh pihak RSUD Ratu Zalekha, Aya dirujuk ke RS Harapan Kita Jakarta untuk menjalani operasi. Proses itu berlangsung cepat, Aya beserta keluarga langsung dibawa ke RS Harapan Kita Jakarta dengan biaya tanggungan Pemerintah Kabupaten Banjar.

Di RS Harapan Kita Jakarta, Aya langsung mendapatkan penanganan secara intensif. Waktu itu, Aya harus berada di ruang opname, sementara kedua orang tuanya serta satu petugas Puskesmas Karang Intan yang turut mendampingi harus menempati rumah kontrak selama satu bulan di sekitar rumah sakit.

Operasi Aya berlangsung lancar, dia dinyatakan sembuh, satu bulan kemudian paska operasi, Aya dan keluarga kembali ke kampung halaman. Sejak itu pula kabar Aya bak hilang ditelan bumi.

BACA:  Bahayakah Berolahraga Menggunakan Masker Selama Pandemi Covid-19?

Setelah 17 tahun kemudian, tepatnya di tahun 2021, rupanya cerita itu masih disimpan oleh kedua orang tuanya. Bahkan Aya pun masih mengingat kejadian yang dialami. Tidak sampai di situ, Aya dan keluarga mencari tahu keberadaan rerporter yang pertama kali mengangkat keadaan yang pernah dialaminya semasa kecil. Aya berusaha membrowsing media sosial untuk menemukan reporter yang dimaksud. Dan akhirnya ketemu.

Masih dalam suasana lebaran tadi, Minggu, (16/5/2021), Aya bersama orang tuanya, Guru Mahmud Zuhdi datang berkunjung ke kediaman reporter tersebut di Jl Kenanga, Kecamatan Martapura. Kedatangannya di sana hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada si reporter, sehingga sampai sekarang dia masih bernafas.

Bahkan di kesempatan itu, Aya masih menyimpan kliping-kliping koran yang telah memuat proses pengobatannya di masa lalu. “Ulun sekarang sudah lulus sekolah Aliyah, dan bahkan ulun sudah bekerja di kampung sebagai penjaga situs bersejarah, Makam Sultan Sulaiman Rahmatullah,” ungkap Aya.

“Alhamdulillah…sudah beberapa tahun ini ulun dipercaya Dinas Pariwisata Kabupaten Banjar menjadi pegawai kontrak,” tutupnya.(sir)

 

 

(Visited 3 times, 1 visits today)
  • Bagikan

(Visited 3 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *