Belum Ada Obatnya, Berikut Fakta-fakta Penting Cacar Monyet!

KORANBANJAR.NET – Kendati virus cacar monyet sempat dianggap sudah tidak ada lagi, namun kasus infeksi monkeypox atau smallpox ini belakangan ramai diperbincangkan. Negara tetangga yakni Singapura, adalah kasus pertama ditemukan di Banua Asia.

Bermula dari warga Nigeria berusia 38 tahun yang tiba di Negeri Singa pada 28 April 2019 lalu. Kemudian melalui siaran pers Kementerian Kesehatan (MOH) dilaporkan bahwa pria itu positif terjangkit virus penyakit tersebut pada Rabu 8 Mei 2019.

Jauh sebelumnya, kasus penyakit menular ini banyak ditemukan di Banua Afrika. Meski tergolong penyakit tidak mematikan, namun tidak salahnya mengetahui seluk beluk cacar monyet ini. Dilansir dari guesehat.com, berikut fakta-fakta penting yang harus kamu ketahui.

1. Pertama ditemukan pada sekelompok kera

Sebuah nama tidak lepas dari sejarah, begitulah kira-kira ungkapan yang tapat pada nama penyakit ini. Pada tahun 1958, sekelompok kera yang dipelihara untuk keperluan riset mengalami penyakit serupa cacar (pox-like disease). Kemudian para peneliti virus tersebut menamakannya dengan monkeypox atau cacar monyet.

2. Menular dari hewan ke manusia

Usai ditemukan di kawanan monyet, namun dalam perjalanannya diketahui penyakit ini termasuk jenis infeksi zoonosis atau infeksi yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Contoh penyakit infeksi zoonosis lainnya adalah leptospirosis dan flu burung.

Hingga saat ini, pembawa utama penyakit ini belum diketahui. Namun, diduga kuat kelompok hewan pengerat di Afrika lah biang keladinya. Kasus monkeypox pertama pada manusia dilaporkan terjadi pada 1970 di Republik Demokratik Kongo, Afrika.

3. Cacar monyet mirip virus cacar

Penyakit cacar monyet disebabkan oleh infeksi virus yang termasuk ke dalam familia Poxviridae, genus Orthopoxvirus, yaitu genus yang sama dengan virus penyebab penyakit cacar (smallpox).

Usai vaksinasi global, penyakit ini sudah lama dinyatakan musnah dari muka bumi. Namun berdasarkan informasi dari WHO, mereka yang sempat divaksinasi cacar (sebelum tahun 1980) tidak sepenuhnya kebal terhadap penyakit monkeypox atau cacar monyet ini.

4. Mirip, tapi gejala lebih ringan dari penyakit cacar

Ets, tunggu dulu. Bukan penyakit cacar air (chickenpox) yang masih ada sampai sekarang, ya. Melainkan penyakit cacar (smallpox), orang Kalimantan Selatan dulunya menyebut dengan cacar api! Bagi kalian yang lahir setelah tahun 1980 hampir bisa dipastikan tidak pernah menjumpai penyakit cacar yang dimaksud.

Penyakit cacar merupakan penyakit infeksi serius dengan angka kematian mencapai 30% pada mereka yang terjangkit. Sementara sebagian yang bertahan hidup mengalami kebutaan akibat penyakit ini.

Gejala utama pada penyakit cacar monyet kurang lebih mirip dengan penyakit cacar, yaitu demam diikuti dengan timbulnya bercak dan bintil pada kulit.

Pada cacar monyet juga dijumpai adanya pembengkakan kelenjar getah bening. Namun, monkeypox relatif lebih ringan daripada cacar, dengan angka kematian 1 dari 10 orang yang terjangkit.

Gejala lain yang dapat dijumpai pada penderita monkeypox adalah sakit kepala, nyeri otot, kelelahan (exhaustion), menggigil, dan nyeri punggung. Gejala umumnya muncul 1-2 minggu pasca-infeksi virus terjadi.

Gejala awal berupa demam akan segera diikuti dengan munculnya bercak pada kulit. Bercak akan berkembang menjadi bintil, berisi cairan, sampai akhirnya mengering. Proses ini umumnya berlangsung 2 hingga 4 minggu.

5. Dapat menular secara tidak langsung

Penyakit cacar monyet dapat ditularkan dari hewan ke manusia maupun dari manusia ke manusia melalui banyak jalur. Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia lewat lapisan kulit yang rusak walaupun tidak tampak luka terbuka, lewat saluran pernapasan, atau lewat selaput lendir yang terdapat di mata, hidung, serta mulut.

Gigitan atau cakaran hewan, mengonsumsi daging hewan liar, kontak langsung dengan cairan tubuh atau luka pada tubuh hewan, maupun kontak tidak langsung (misalnya menggunakan alas tidur yang terkontaminasi) dapat menularkan penyakit.

Penularan antar manusia dapat terjadi dengan cara yang sama, ditambah lewat droplet yang dihasilkan dari saluran pernapasan pada saat berbicara, bersin, atau batuk.

6. Belum ada vaksin maupun obat yang spesifik untuk menyembuhkan

Umumnya, untuk mencegah penularan penyakit infeksi berbahaya digunakan strategi pemberian kekebalan dengan vaksinasi. Sayangnya, hingga saat ini belum tersedia vaksin khusus untuk penyakit cacar monyet ini.

Vaksin cacar (smallpox) memang dapat memberikan perlindungan walaupun tidak sempurna. Namun sejak penyakit cacar dinyatakan musnah, vaksin cacar pun tidak lagi tersedia secara massal.

Begitu pula dengan terapi spesifik untuk menangani monkeypox, hingga saat ini belum tersedia. Oleh karena itu, lebih baik meminimalisasi risiko terjangkit penyakit monkeypox dengan menghindari “jalur” penularan. (dra)

Read Previous

Jalan Menuju Kampung Pantai Langsat Disarankan Bupati HSS Pakai Portal

Read Next

22 KPPS Kalsel Meninggal, Ketua KPU Akui Tak Periksa Kesehatan

Tinggalkan Balasan