oleh

Balai Adat Meratus Tertua Ini Simpan Biji Beras Sebesar Kelapa

Jika yang dibenak orang awam, masyarakat adat di Meratus adalah masyarakat tertinggal, maka tarik segera pikiran itu! Sebab di Kampung Bayumbung yang notebene bukan pedalaman, adat Kaharingan masih sangat kuat. Bagaimana bisa?

Muhammad Hidayat, Loksado

Masyarakat yang menganut kepercayaan animisme Kaharingan, biasanya hidup jauh di pelosok pegunungan yang rimbun dengan pepohonan. Hal itu berkaitan dengan kehidupan bahuma atau manugal (bertani di gunung, red).

Uniknya, ada sebuah kampung di Desa Halunuk, saat lokasinya sudah bukan jadi pedalaman lagi, dan mayoritas warga sekitarnya sudah beragama Muslim, tapi masyarakat Balai Bayumbung masih kuat menganut aliran kepercayaannya.

Bahkan banyak kampung lain yang lebih ke atas arah Loksado pun sudah banyak yang meninggalkan kepercayaannya, meski masih hidup dalam aktifitas berladang.

Perkampungan kecil dihuni tak lebih dari 30 kepala keluarga itu, berada di sebuah lembah tepat di turunan curam Jalan Raya Loksado. Cukup dekat dari Kota Kandangan, ditempuh sekitar 20 menit, roda 2 maupun 4 jalannya sudah lebar dan lancar.

Berbicara adat Kaharingan, sangat erat kaitannya dengan balai adat. Balai Adat Bayumbung yang di sekelilingnya sudah banyak rumah lumayan bagus, bahkan tepat di samping balai terparkir mobil mewah matik produksi jepang.

Menurut seorang tetua adat, Umberi, usia Balai Bayumbung sudah ratusan tahun. Ia berujar, balai Bayumbung merupakan salah satu balai tertua di Loksado.

Sebelum masyarakat Meratus menyebar berpindah-pindah ke berbagai penjuru Meratus, di balai tersebutlah awal mula tempat tinggal masyarakat.

“Semua sudah lupa sudah berapa ratus tepatnya, tetapi yang saya ingat sudah sekitar 7 kali berganti pengulu (kepala adat) di sini,” ungkapnya, jabatan pengulu berakhir saat orang tersebut tak mampu lagi atau meninggal dunia.

Menghitung usia orang dahulu yang panjang, diperkirakan 20-80 tahun sekali baru berganti pengulu. Usia Umberi pun saat ini juga diungkapkannya, juga sudah 144 tahun.

Bangunan Balai Bayumbung tidak seperti sekarang, dikatakannya balai Bayumbung sudah dilakukan renovasi lebih dari 5 kali, karena rusak maupun hancur. Bahkan pernah sekali hancur total, saat ditimpa musibah kebakaran.

Saat ini, seluruh bangunannya masih berbahan kayu dengan luas sekitar 20×15 meteran. “Kalau ini sudah bagus, dan baru sekitar 6 tahunan saja,” tutur kakek yang saat ini tinggal di Desa Harakit, Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin itu.

Balai Bayumbung dahulu memiliki peninggalan benda prasejarah, sebuah biji padi seukuran kelapa yang dinamakan Banih kelapa. Namun, benda yang tinggal satu biji tersebut sudah musnah, akibat musibah kebakaran balai.

Konon, zaman dahulu kala benda-benda banyak berukuran jumbo. Masyarakat percaya beras yang kecil saat ini, dahulunya adalah beras besar tersebut. Kendati sudah tidak ada lagi bukti sejarah tersebut, sampai saat ini seluruh penjuru HSS banyak yang mempercayainya.

Bukti kekentalan adat dan loyal pada adat, di Balai Adat tersebut masih rutin dilaksanakan aruh adat tiap tahun, pada pertengahan Agustus 2019 lalu dilaksanakan aruh ganal selama 3 malam yang sangat meriah.

Bukan main, kemeriahan tak kalah dengan aruh di pedalaman. Bahkan malam puncak pada 16 September itu, saat balian memeragakan tarian bakanjar lebih satu kali ada yang sempat kehilangan kesadaran.

Acara malam itu juga diwarnai tari babangsai, yang biasa dilakukan kaum perempuan. Terlihat gadis-gadis manis khas Meratus, mengayunkan tangannya sambil mengitari panggung aruh.

Masyarakat yang masih menganut kepercayaan animisme Kaharingan di Kampung Bayumbung saat ini sekitar 23 ‘umbun’, umbun sebutan mereka yang berarti keluarga.

Tetapi yang hadir di aruh, biasanya banyak kerabat yang sudah tinggal di kampung adat lain di Kalsel. Umberi salah satu tokoh dari Kabupaten Tapin, banyak pula tokoh masyarakat lain seperti tokoh birokrat.

Alasan adat di sana tetap lestari, sebab terus ditanamkan kepada anak cucu, setiap panen tiba harus aruh. Itu dilakukan setiap tahun tidak boleh terputus-putus. Dan kerabat yang tinggalnya jauh akan selalu menunggu undangan aruh adat Meratus. (*)

Komentar

Berita Terkini