oleh

Ahli Thoriqat Asal Takisung, Tuan Guru Muhammad Nur (4); Pandangi Matahari Sejak Terbit Hingga Terbenam Tanpa Berkedip

Tuan Guru Muhammad Nur bin Syekh Ibrohim Khaurani asal Desa Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, diketahui selain keras membimbing murid-muridnya dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt, juga memiliki pendirian yang teguh dan kuat. Dalam ijtihadnya melazimkan dzikrullah tentulah tidak gampang, tetapi dijalani dengan kesungguhan dan istiqomah.

DENNY SETIAWAN, Takisung

Menjadi seorang ahli dzikir yang senantiasa bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Sang Khalik dijalani Tuan Guru Muhammad Nur dengan proses yang tidak mudah. Tetapi dia senantiasa melazimkan dzikrullah dalam setiap ibadah sholatnya dengan jumlah hitungan yang sangat banyak. Bukan hanya itu, dalam perjalanan melazimkan thoriqat (jalan) mendekatkan diri kepada Allah dia juga menempuh khalwat (mengasingkan diri) di sebuah gua gunung Lasung yang berada di wilayah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Menurut khadam (pelayan) yang sering membantu di kediaman Tuan Guru Muhammad Nur, yakni Hajjah Hairiyah, dia pernah mendengar cerita dari istri Tuan Guru Muhammad Nur, bahwa Tuan Guru Muhammad Nur pernah melewati khalwat (mengasingkan diri) di gua Lasung, Kotabaru selama 41 hari / malam, tanpa makan dan minum.

Konon selama menjalani masa khalwat, yang diisi dengan ibadah-ibadah sholat serta dzikrullah, Tuan Guru Muhammad Nur tidak merasakan lapar dan haus, sehingga dapat dilewati tanpa makan dan minum.

“Menurut kisah, Guru Muhammad Nur berkhalwat sendirian saja selama 41 hari.  Sebelumnya, beliau pernah gagal menyelesaikan khalwat, tapi diulang hingga bisa selesai. Yang pertama khalwat hanya berjalan 20 hari, kemudian diulang dengan khalwat yang kedua selama 41 hari,” ungkapnya.

Dalam pengasingan diri di waktu yang berbeda, Tuan Guru Muhammad Nur juga pernah melakukan sebuah amaliah yang teramat sulit dapat dilakukan orang lain. Sebuah amaliah untuk meneguhkan hati dan keimanan. Dia telah memandangi matahari sejak terbit hingga tenggelam tanpa harus mengedipkan mata dalam keadaan berpuasa.

“Abah itu (Tuan Guru Muhammad Nur), pernah mengerjakan amaliah, memandangi matahari mulai terbit sampai terbenam. Sidin mengerjakan di daerah pegunungan yang cukup tinggi, supaya tidak menghalangi pandangan beliau. Bayangkan saja, kita tidak usah memandang matahari, memandangi lampu dalam waktu satu jam saja, pandangan kita sudah pasti gelap. Apalagi memandangi matahari,” ungkap salah satu murid Tuan Guru Muhammad Nur yang bermukim di Kabupaten Tanah Bumbu.

Dia mengetahui itu, karena dirinya pernah minta diajarkan ilmu agar dapat memandang matahari, namun dia tak mampu menyelesaikan. “Ketika itu saya minta diajari, terus saya coba kerjakan. Tapi nggak sanggup, baru beberapa menit mengerjakan, saya menyerah. Makanya, abah itu kalau difoto, beliau jarang sekali melihat ke arah kamera. Kalau sampai beliau memandang ke arah kamera, kemungkinan besar fotonya tidak pernah jadi. Kecuali beliau memang berkehendak melihat ke arah kamera,” pungkasnya.(bersambung)

Komentar

Jangan Lewatkan