oleh

Ahli Thoriqat Asal Takisung, Tuan Guru Muhammad Nur (2); Ditanya Tamu, Bolehkah Tidak Sholat? Dijawab Boleh, Asal Begini…

Tuan Guru Muhammad Nur Takisung bin Syekh Ibrohim Khaurani tidak hanya dikenal sebagai tuan guru yang membimbing murid-muridnya untuk taqarrub (dekat) kepada Allah Swt. Akan tetapi, kesehariannya juga sering memberikan teladan dan pelajaran buat masyarakat sekitar Desa Takisung, Kabupaten Tanah Laut, bahkan kerap menimbulkan decak kagum para murdinya yang kini tersebar di banyak provinsi, termasuk dari Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jawa Timur hingga Asia.

DENNY SETIAWAN, Takisung

Selain sebagai mursyid atau pembimbing thoriqat, Tuan Guru Muhammad Nur Takisung sehari-hari hanyalah seorang petani. Tak jauh dari rumahnya di Desa Takisung, Tuan Guru Muhammad Nur Takisung memiliki lahan perkebunan dan pertanian. Waktu sehari-harinya dihabiskan untuk berkebun, melayani masyarakat serta membimbing murid-muridnya.

Setiap hari, baik sejak masih hidup hingga sekarang, rumahnya tidak pernah sepi dari tamu yang datang dari berbagai daerah. Bahkan tidak jarang pula, tamu yang datang dilayani bak “Raja” di rumahnya, di siapkan kamar untuk istirahat, makan dan minum seperti di rumah sendiri. Satu hal kebiasaan yang diterapkan Tuan Guru Muhammad Nur hingga diikuti istri dan anak-anaknya sampai sekarang, antara lain, menyiapkan makan untuk tamu. Berapa pun jumlah tamu yang datang ke rumahnya, tidak diperkenankan pulang, sebelum makan terlebih dulu.

“Suatu ketika pernah tamu datang dengan jumlah yang banyak, kalau tidak salah beberapa bis. Sedangkan persediaan beras saat itu untuk dimasak diperkirakan sangat tidak mencukupi untuk menjamu semua tamu. Waktu itu Kai (Tuan Guru Muhammad Nur Takisung) cuma bilang, masak aja seadanya. Alhamdulillah….beras yang tadinya dimasak, malah belabihan (lebih) untuk menjamu semua tamu,” demikian ungkap seorang murid Tuan Guru Muhammad Nur, yang tak ingin namanya disebutkan kepada koranbanjar.net.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan, tamu-tamu yang datang dari berbagai daerah seringkali menceritakan pengalaman bertamu ke rumah Tuan Guru Muhammad Nur Takisung, yang selalu disuguhi makanan dulu, baik makan pagi, siang, sore atau makan malam, sesuai dengan waktu datangnya tamu.

Kisah lain yang menarik dari keistimewaan Tuan Guru Muhammad Nur Takisung, dia tidak pernah membiarkan tamu yang datang dengan berbagai hajat, pulang dengan tangan hampa. Tamu yang datang sering dibekali apa saja yang dimiliki, baik itu buah-buahan, sayur, ikan atau apa saja yang dimiliki. Begitu pula ketika tamu ingin mendapat jawaban tentang persoalan agama, selalu mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Pernah satu ketika, ada seorang tamu yang menanyakan atau meminta jawaban agar terbebas dari kewajiban sholat. Si tamu bertanya, “Bagaimana caranya supaya ulun boleh tidak melaksanakan kewajiban sholat.” Jawaban Tuan Guru Muhammad Nur sungguh mengejutkan dan bijaksana. Dia tidak menjawab, bahwa tidak boleh atau sholat itu wajib. Dia justru menjawab begini, “Ikam boleh saja lepas dari kewajiban sholat atau tidak wajib melaksanakan sholat, asalkan ikam sanggup berjalan di siang hari dari rumah ini sampai ke Pelaihari tanpa busana atau bertelanjang (baca: gila / mengalami gangguan jiwa, Red). Kalau sanggup, boleh tidak sholat lagi,” jawab dia.

Mendengar jawaban itu, Si Tamu hanya bisa manggut-manggut dan tidak bisa berkata-kata lagi. Nah, kejadian-kejadian tersebut hanya sebagian kecil keistimewaan Tuan Guru Muhammad Nur dalam melayani tamu. Tentunya masih banyak hikmah dan teladan yang dapat dipetik dari kebiasaan Tuan Guru Muhammad Nur Takisung. Untuk itu, ikuti tulisan berikutnya.(bersambung)

Komentar

Jangan Lewatkan