Kantor Imigrasi

12 Adab Terhadap Kedua Orang Tua, Bicara Dengan Nada Lebih Tinggi sering Dilanggar

  • Bagikan
ILUSTRASI - Adab terhadap kedua orang tua dalam Islam.
ILUSTRASI - Adab terhadap kedua orang tua dalam Islam.

Adab terhadap kedua orang tua menjadi hal yang sangat penting dan utama di dalam Islam. Karena tidak ada yang lebih mulia di dunia ini setelah Rasulullah Saw yaitu, kedua orang tua kita. Karena ibu kandung yang melahirkan, dan mereka kedua orang tua yang menjaga dan memelihara hingga dewasa.

KORANBANJAR.NET – Adab terhadap kedua orang tua sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW, bahkan beliau telah memperingatkan untuk selalu berbakti kepada orang tua, baik itu orang tua sendiri maupun orang tua lainnya.

Mengutip duniaislam.com, ada beberapa adab terhadap kedua orang tua yang harus dijaga, 12 adab di antaranya yang sudah dicontohkan Rasulullah Saw. Di antara 12 adab terhadap orang tua ini, satu di antaranya secara tidak sadar sering dilanggar.

  1. Tidak Boleh Memandang dengan Tatapan Tajam

Sebagai seorang yang jauh lebih muda, kita dianjurkan untuk tidak memandang orang yang lebih tua dengan tatapan yang tajam dan tidak menyenangkan. Berikan tatapan yang lembut dan hangat ketika berhadapan dengan orang tua.

Sebagaimana yang terdapat pada Shohih Bukhari no. 2731, 2732, yang mana para sahabat kala itu selalu memandang dengan penuh hormat kepada Rasulullah Saw.

  1. Tidak Boleh Mendahului Bicara

Adab selanjutnya adalah berbicara dengan mendahulukan yang lebih tua, terutama kepada kedua orang tua kita. Biarkan mereka yang lebih tua untuk berbicara terlebih dahulu untuk menyenangkan hati mereka.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

كُنَّا عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَأُتِىَ بِجُمَّارٍ فَقَالَ « إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً مَثَلُهَا كَمَثَلِ الْمُسْلِمِ » . فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِىَ النَّخْلَةُ ، فَإِذَا أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ فَسَكَتُّ ، قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « هِىَ النَّخْلَةُ »

“Dulu kami berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian didatangkanlah bagian dalam pohon kurma.  Lalu beliau mengatakan, “Sesungguhnya di antara pohon adalah pohon yang menjadi permisalan bagi seorang muslim.” Aku (Ibnu ‘Umar) sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma. Namun, karena masih  kecil, aku lantas diam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Itu adalah pohon kurma.” (HR. Bukhari no. 72 dan Muslim no. 2811).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *